Thursday, December 17, 2009

Mencintai Dengan Sepenuh Hati


Manusiawi sekali kalau kita ingin dicintai. Apalagi bagi seorang perempuan. Bila sedang disapa oleh cinta, semua masalah yang sedang melanda seolah sirna tiada berbekas. Cinta memang indah, menggairahkan dan memesona.
Namun kita tidak bisa meminta atau memaksa seseorang untuk mencintai kita seperti apa yang kita inginkan. Satu-satunya cara yang bijak agar kita dicintai adalah dengan melupakan keinginan untuk dicintai dan mulai mencintai.

1. Mencintai berarti merindukannya.
Kerinduan kita menyiratkan betapa berartinya dia bagi kita, sehingga kepergiannya membuat kita merasa kehilangan. Betapa kita ingin selalu bersamanya, dan betapa waktu terasa lama ketika dia tidak berada disisi kita. Ketika dalam waktu yang cukup lama kita tidak bertemu, atau berpisah dengan jarak yang cukup jauh, tidak ada salahnya untuk mengungkapkan kerinduan kita kepadanya. Jangan menahan rasa rindu kita dan jangan biarkan dia menanti ungkapan kerinduan kita.

2. Mencintai berarti memotivasinya.
Itu juga berarti mendorongnya untuk untuk meraih cita-citanya, untuk bangkit dari kegagalan, untuk berani mengambil keputusan penting yang sudah ditundanya, dsb.

3. Mencintai berarti memaafkannya.
Karena dia juga seorang manusia biasa yang bisa salah, maka pemberian maaf adalah salah satu bukti cinta kita padanya. Kita harus belajar untuk mudah memaafkannya setiap kali dia melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak prinsipil. Bahkan untuk kesalahannya yang cukup besar pun kita perlu memaafkannya setelah persoalannya dibicarakan secara terbuka. Menyimpan kesalahan akan merusak hubungan cinta yang sudah lama terjalin.

4. Mencintai berarti menyadarkannya.
Meskipun cinta sejati menutupi banyak kesalahan, namun cinta juga mengoreksinya, memperingatkannya dan menegurnya bila dianggap perlu. Ketika dia melakukan hal-hal yang buruk, atau ketika dia hendak mengambil keputusan yang bodoh dan berbahaya, saat itulah kita perlu menyadarkannya.

5. Mencintai berarti peka terhadap keinginan dan kebutuhannya.
Kalau dia seorang yang terbuka, kita akan lebih mudah memahaminya. Tapi kalau dia seorang yang tertutup, sebaiknya kita sering-sering bertanya kepadanya. Jangan sampai tanpa sadar kita mengulang-ulang kebiasaan yang dibencinya, tapi jarang melakukan apa yang disukainya.

6. Mencintai berarti berterimakasih .
Berterimakasih atas kerelaannya menjadi pasangan kita, atas kesetiaannya dan atas pengorbanannya. Kita juga harus menerima dengan penuh penghargaan ungkapan kasih sayang yang ditunjukkannya dalam bentuk apapun. Jangan mematikan gairah cintanya dengan sikap dingin dan pasif. Setidaknya, ungkapan rasa terima kasih itu bisa diwujudkan dengan ucapan yang manis, senyuman hangat atau pelukan sayang.

7. Mencintai berarti mempercayai dan memberinya kesempatan untuk membuktikan ketulusan dan kesetiaannya kepada kita.
Jangan membebani dia dengan rasa cemburu dan rasa takut kehilangan dia. Jangan mengekangnya hanya karena kita kurang mempercayainya.

8. Mencintai berarti selalu berusaha untuk membahagiakannya.
Ketika kita ikut andil dalam membuatnya bahagia, maka kebahagiaannya akan menjadi sebagian dari kebahagiaan kita juga. Jangan pernah berhitung untuk berkorban bagi orang yang kita cintai.

9. Mencintai berarti memberinya kebebasan untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya, termasuk keluhan, kemarahan, harapan dan kekecewaannya. Jadilah pendengar yang baik agar kita bisa lebih memahami isi hati dan masalah yang dihadapinya. Jangan biarkan dia memendam perasaannya karena merasa malu dan segan. Jangan biarkan dia membungkam mulutnya karena merasa takut, dan jangan biarkan dia selalu mengalah karena ingin menghindari konflik dengan kita.

10. Mencintai berarti menghargainya dan membuatnya merasa puas menjadi dirinya.
Kita harus menghargai pasangan kita sebagai pribadi yang istimewa. Buatlah hatinya selalu berbunga-bunga dengan pujian dan kekaguman kita padanya. Jangan pernah merendahkan dan menghinanya, meskipun dalam konteks bercanda, lebih-lebih ketika berada di hadapan publik.

Saturday, December 12, 2009

Nasib Cincin Kawin



Saya masih teringat guyonan (atau mungkin juga tekad?) ketika masih belum menikah dulu, tentang cincin kawin. Saat itu saya mengatakan,
kalau menikah nanti tidak ingin memilih cincin untuk lambang ikatannya. Tapi lebih memilih sebentuk gelang kaki, yang saya yakini lebih pas dengan hati dan keinginan saya. Hal itu saya yakini betul bisa terlaksana mulus. Tapi kenyataan berkata lain. Sepasang cincin kawin yang sudah diberkati oleh Romo itu, akhirnya salah satunya harus diselipkan di jari manis tangan kanan saya.

Rupanya tidak hanya saya yang bermasalah dengan cincin kawin itu. Calon suami saya juga mempunyai permasalahannya sendiri. Ia berkata kalau tidak biasa memakai asesoris yang melekat di badannya. Apalagi kalau ada cincin yang menyelip diantara jari-jari tangannya, seolah ada sesuatu yang mengganjal dan mengganggu aktivitasnya. Karenanya ia bertekad pula, kalau setelah acara pemberkatan nanti, cincin itu akan dilepas dan disimpan saja.

Karenanya, kurang tiga minggu dari hari pemberkatan perkawinan, kami berdua seolah tidak kebingungan memesan cincin. Karena kami beranggapan kalaupun tidak memakai cincin juga tidak masalah. Bagi kami, arti dari perkawinan itu lebih pada meneguhkan komitmen bersama, dan cincin itu hanyalah sebagai perlambangnya. Itulah mengapa sampai akhir menjelang hari-hari terpenting itu tiba, cincin tidaklah masuk dalam skala prioritas utama.

Sampai ketika saatnya kami harus bertemu lagi dengan Romo untuk persiapan pembuatan liturgi pemberkatan. Dalam tata ibadah itu disebutkan ada bagian pemberkatan cincin perkawinan. Saya terhenyak. Wah, ini berarti harus pesan cincin. Pertanyaan lain pun mulai beterbangan di angan saya. Apakah waktunya cukup untuk memesan cincin yang sesuai dengan keinginan? Bagaimana modelnya? Berapa beratnya? Pesan dimana?

Dalam waktu yang sesingkat itu, akhirnya kami memutuskan untuk memesan cincin. Tapi masih ada kesulitan lain yang harus dihadapi. Kami tidak pernah bisa jalan dan pergi bersama untuk mewujudkan niat tersebut, karena tenggat waktu pekerjaan masing-masing yang tidak bisa ditawar. Belum lagi mobilitas dari kota ke kota yang menyita waktu kami sehingga tidak bisa sering bertemu. Akhirnya calon suami menyerahkan soal cincin kawin itu seluruhnya kepada saya. Intinya dia ngikut aja. Aduh, saya sempat jengkel dengan keputusannya. Soalnya ini kan menyangkut kepentingan bersama. Tapi ya mau bagaimana lagi?

Saya pun akhirnya memesan cincin di Malang, dengan pertimbangan kalau pesanan sudah jadi tapi saya belum sempat mengambilnya, masih bisa minta tolong adik untuk mengambilkannya. Tidak seperti calon pengantin lain yang biasanya memesan cincin perkawinan bersama-sama, kini saya pun harus kebingungan sendiri menentukan model dan beratnya serta ukuran jari calon suami. Kalau mengingat itu, rasanya gemes. Urusan memesan dan mendesain cincin itu pun menghabiskan waktu hampir dua jam. Dan dipastikan pesanan akan jadi dalam waktu 10 hari. Itu berarti kurang tiga hari dari waktu pemberkatan. Hasilnya, cincin untuk calon suami saya kebesaran jika dipasang di jari manis kanan! Belum lagi modelnya yang tidak persis dengan bayangan saya.

Hari Minggu yang telah direncanakan itu tiba. Acara pemberkatan berjalan lancar, hingga sampai pada bagian pemberkatan cincin. Setelah dua cincin itu diberkati, Romo pun menyerahkan satu persatu kepada kami, untuk saling mengenakan pada jari manis kanan masing-masing. Sambil memasukkan cincin ke jari pasangan, kami pun mengucapkan, “Terimalah cincin ini sebagai lambang cinta dan kesetiaanku padamu.”

Lambang cinta dan kesetiaan? Ya, hanya lambang. Justru arti sesungguhnya dari itu semua adalah komitmen untuk tetap menjaga cinta dan kesetiaan kepada pasangan. Walaupun di sisi dalam cincin itu terukir nama kami berdua dan angka 081109 sebagai tanggal keramatnya, tapi fungsi itu semua tak lebih dari sebuah monumen.

Tentang kebiasaan cincin kawin yang dilingkarkan di jari manis kanan, saya juga kurang merasa cocok. Kini cincin itu pindah ke jari telunjuk sebelah kiri, sementara punya suami malah di jari tengah kanan gara-gara ukurannya yang terlalu besar itu.

Yah, apapun itu, tentang cincin kawin yang memang sudah niat dipesan apalagi sudah diberkati memang tetap haruslah dipakai. Kalaupun maunya tidak dipakai dan hanya disimpan saja di lemari, apakah tidak ada pilihan lain yang lebih tepat? Kalau saya sih punya pilihan, lebih baik dilego saja....

Sejarah Cincin Kawin


Tradisi cincin kawin sudah berlangsung ribuan tahun yang lalu. Cincin kawin digambarkan sebagai tanda ikatan cinta antara seorang laki-laki dan perempuan. Memang tidak ada data pasti yang menyebutkan sejak kapan cincin digunakan sebagai bagian dari ritual sebuah perkawinan. Tapi sejumlah literatur menyebutkan pada jaman Romawi kuno banyak pasangan yang menggunakan lempeng besi sederhana sebagai tanda ikatan. Mereka percaya lingkaran cincin sebagai simbol cinta abadi.

Penggunaan cincin kawin itu juga tergambar dalam budaya Mesir kuno, seperti yang tertera dalam tulisan hiroglif di dinding makam yang ditemukan oleh para peneliti arkeologi. Umumnya lingkaran cincin itu terbuat dari logam keras yang diberi hiasan batu.

Dipercayai cincin kawin terkecil yang pernah dibuat adalah untuk Princess Mary, putri King Hennry VIII, yang dipinang oleh putra King Francis I. Upacaranya sendiri dilangsungkan pada tanggal 5 Oktober 1518. Saat itu Princess Mary masih berumur dua tahun, sementara suaminya baru lahir pada tanggal 28 Februari 1518.

Cincin kemudian dipakai sebagai bagian dalam upacara pemberkatan perkawinan kristiani pada sekitar tahun 870, yang diawali oleh bangsa Ibrani.

Tentang jari tempat cincin kawin itu ada bermacam-macan kebiasaan, yang tentunya didasarkan pada budaya masing-masing, dan tentunya disertai alasan tersendiri. Dalam fabel Yunani disebutkan pemakaian cincin itu pada jari keempat sebelah kiri. Itu dilakukan karena diyakini bahwa di jari manis tersebut terdapat pembuluh darah, disebut vena amoris yang artinya pembuluh cinta. Tapi sayangnya kepercayaan seperti itu tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Tapi berbeda ketika era Elizabethan, yang justru memasang cincin kawin di ibu jari.

Sementara itu kebiasaan meletakkan cincin di jari manis kanan dilakukan oleh orang Kolumbia, Denmark, Jerman, Yunani, Haiti, Hungaria, Mexico, Norwegia, Peru, Polandia, Rusia, Spanyol (kecuali Katalonia), Makedonia, Ukraina, Venezuela dan Serbia. Sedangkan kaum Kristen ortodoks dan penduduk Eropa bagian timur (kecuali Roma) secara tradisional memakai gelang ikatan di tangan kanan. Perempuan Yahudi memakai cincin kawin di tangan kiri, walaupun pada saat upacara penyematan diletakkan di tangan kanan.

Di Belanda, untuk tradisi katolik, cincin dikenakan di tangan kiri, sedangkan tradisi protestan justru di tangan kanan. Sementara di Austria, penganut katolik justru mengenakan cincin di tangan kanan. Di Belgia pilihan penempatan cincin kawin disesuaikan dengan areanya. Orang-orang Yunani yang penganut Kristen Ortodoks tetap memakai cincin kawin di tangan kanan, sesuai dengan tradisi Yunani.

Pemakaian cincin di jari kanan pada orang Romawi juga didasarkan pada referensi kitab sucinya. Disitu secara tersirat diterangkan bahwa tangan kiri itu punya konotasi negatif, sementara tangan kanan lebih ke arah yang baik.

Di India yang kebanyakan penganut Hindu, ada cincin yang dikenakan di hidung, disebut bichiya. Cincin ini hanya dikenakan oleh kaum perempuan. Untuk cincin kawin yang dipasang pada jari, biasanya menyatu dengan bichiya ini. Sedangkan di India bagian timur, terutama di Bengal Timur, ada sebuah gelang yang dilingkarkan di tangan, yang disebut loha, dan hanya dipakai kaum perempuan. Dalam perkembangannya, loha ini kemudian dilapisi dengan emas atau perak untuk mempercantik tampilannya.

Wednesday, December 9, 2009

The Story of Tiger : Two Brother


Saat hendak bangun tadi pagi, rasanya tubuh ini enggan sekali untuk diajak kompromi. Betapa tidak. Mata ini baru bisa terkatup rapat saat jam hampir menunjukkan pukul dua dini hari. Apalagi ketika mendengar suara TV sudah dinyalakan, rasanya masih ingin memeluk bantal kembali. Kulirik ke sebelah, ternyata suamiku sudah bangun dan menonton TV sambil menikmati roti sarapan paginya. Tahu kalau aku membuka mata dengan berat hati, dengan simpatik ia menawarkan rotinya.

Walaupun mata masih berat, tapi kupaksa pandanganku kuarahkan ke layar TV yang sedang menayangkan sebuah film. Tanpa mengucapkan sepatah kata, aku pun berusaha mengikuti jalan cerita film tersebut. Lama-lama ketertarikanku bertambah besar karena ternyata di film itu, yang menjadi lakonnya adalah para harimau. Wuahhhh....luar biasa. Setting film itu sendiri menampilkan keindahan alam yang masih perawan di Thailand. Harimau yang ditampilkan pun juga sama persis dengan harimau sumatera yang loreng-loreng itu.

Tak terasa, mata yang tadinya malas diajak membuka itu, kini tanpa sadar pun terbuka lebar-lebar. Sisa-sisa kantuk seolah kandas dengan tertawannya perhatian pada sosok harimau loreng yang sungguh gagah dan cakep itu.

Sebetulnya jalan cerita film, yang akhirnya kuketahui berjudul Two Brother itu, tidak terlalu kuketahui dengan detail. Tapi secara garis besar, pesan yang dibawa adalah lindungilah spesies harimau yang sudah hampir punah itu.

Diceritakan, ada seekor harimau betina yang punya dua anak. Sebut saja nama dua anaknya itu Sangha dan Kumar. Sejak kecil anak-anak itu hidup bersama dalam asuhan induknya. Mereka belajar untuk mempertahankan hidup di rimba yang penuh dengan persaingan. Hingga pada suatu saat, sang induk dan Sangha terjatuh dalam jebakan yang dipasang oleh tim penjebak atas perintah anggota keluarga kerajaan Thailand. Rencananya mereka akan dipersembahkan sebagai kenang-kenangan untuk seorang pembesar dari Perancis.

Sebelum dievakuasi oleh tim penjebak itu, sang induk berhasil meloloskan diri, walaupun telinga sebelah kirinya sempat bolong karena peluru tembakan yang dilontarkan oleh salah satu anggota keluarga kerajaan Thailand. Sementara Sangha kecil sempat sebentar bisa bersembunyi di dalam sebuah gua, sebelum akhirnya tertangkap dan nasibnya berakhir dijual kepada sebuah klub sirkus setelah ia membuat keonaran di dalam rumah keluarga pembesar Perancis itu.

Singkat cerita, kehidupan Sangha dalam kelompok klub sirkus, hari-harinya dipenuhi dengan latihan. Ia dituntut patuh kepada perintah yang diberikan oleh pawangnya. Ia tidak boleh menolak ketika harus menunjukkan kebolehannya berdiri di atas dua kaki belakangnya dengan dua kaki depannya terangkat ke atas seolah-olah sedang bertepuk tangan. Juga tidak bisa berontak ketika sang pawang memberinya perintah untuk melompati lingkaran api. Kalaupun ia melawan, maka hukuman dan perlakuan kasar pasti diterimanya. Sosok Sangha pun menjadi seekor harimau yang terkebiri hak hidupnya. Ia bukan lagi seekor raja hutan.

Di negeri Thailand ada tradisi pertarungan harimau. Sebelumnya kerajaan sudah punya seekor harimau koleksi yang dikenal galak. Bahkan tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Karenanya ia dikurung bersama-sama dengan binatang koleksi lainnya di sebuah ruangan bawah tanah, dengan dikelilingi kandang yang terbuat dari besi.

Untuk mencarikan musuh itu, maka sebuah kabar disebar di seluruh negeri. Intinya, dicari sebuah harimau galak yang akan diadu dengan harimau koleksi kerajaan. Akhirnya Sangha pun dibeli oleh kerajaan untuk meramaikan arena.

Ketika tiba hari pertarungan itu, Sangha terlihat seperti seekor pecundang. Ia hampir lari terbirit-birit ketika melihat musuhnya dikeluarkan dari kandang. Tapi perasaan takut itu bisa diatasinya. Dan berikutnya pertarungan sengit pun terjadi. Penonton yang menyaksikan dibuat tegang. Tapi itu hanya berlangsung sebentar. Memori ingatan keduanya seolah dipulihkan. Mereka merasa bahwa diantara keduanya ada ikatan emosional. Ternyata harimau yang menjadi koleksi kerajaan itu adalah Kumar, saudaranya sendiri. Perkelahian itu pun tak jadi berlangsung, yang ada mereka malah bersenda gurau seraya berguling-guling di arena.

Mendapati kenyataan seperti itu, pegawai kerajaan pun marah. Mereka pun memaksa keduanya agar terus berkelahi. Tapi perlawanan dilakukan oleh keduanya, hingga mereka bisa lolos bersama. Sepanjang perjalanan melarikan diri itulah banyak hal-hal lucu. Karena terlatih di kehidupan sirkus yang menuntut ketangkasan, Sangha pun dengan gampangnya meloloskan diri dari jebakan api yang dibuat oleh para pemburu. Kumar yang tidak biasa dengan hal itu, seolah mendapatkan semangat baru dengan kehadiran Sangha, hingga ia pun bisa melompati api yang semula ditakutinya.

Akhir cerita, keduanya bisa kembali ke hutan dan memulai kehidupan yang sesungguhnya. Dan seperti film-film yang berakhir bahagia, mereka berdua pun akhirnya bertemu kembali dengan induknya yang telinga sebelah kirinya bolong itu.

Harimau Sumatra


 Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan subspesies harimau yang berukuran paling kecil yang masih hidup hingga saat ini. Harimau jantan mempunyai panjang kira-kira 204 cm (6 feet 8 inchi) jika diukur mulai dari kepala hingga ujung ekor, dengan berat badan sekitar 136 kg (300 lb). Sedangkan untuk yang betina mempunyai panjang 198 cm (6 feet 6 inchi) dengan berat kira-kiraa 90 kg (200 lb).

Loreng yang dipunyainya berukuran lebih lebar daripada subspecies harimau yang lain. Mukanya juga lebih penuh dengan kumis dan cambang, terutama untuk harimau jantan. Ukurannya yang lebih kecil memungkinkan gerakannya lebih lincah menyusur hutan tropis. Diantara jari-jari kakinya ada selaput, sehingga harimau ini juga disebut sebagai perenang ulung. Dengan kepiawaiannya itu, mangsa yang hidup di air pun bisa ditangkapnya.

Mangsa harimau umumnya binatang besar seperti babi hutan, tapir dan rusa. Tapi hewan kecil seperti monyet, unggas dan ikan pun kadang disantapnya. Sementara itu orangutan jika seringkali menghabiskan waktu di atas tanah, tak menutup kemungkinan akan pula ditangkapnya.

Harimau sumatera hanya ditemukan di Sumatera. Jumlah populasinya sekarang ini kira-kira tinggal 400 ekor, dan hidup dalam kawasan perlindungan di sebuah taman nasional. Populasi terbesarnya berada di Taman Nasional Gunung Leuser, dengan jumlah kira-kira 110 ekor. Sementara kira-kira ada 100 ekor lagi hidup tanpa perlindungan sama sekali. Harimau sumatera termasuk salah satu jenis satwa asli Indonesia yang dilindungi karena keberadaannya sudah hampir punah.

Jenis Harimau


Harimau dikenal sebagai jenis kucing terbesar. Ada sembilan subspecies harimau dalam genus Panthera. Enam diantaranya masih hidup pada masa sekarang. Tiga subspecies harimau selebihnya telah dianggap punah secara resmi.

Subspecies yang masih hidup itu adalah
1. Harimau Indochina (Panthera tigris corbetti), terdapat di kawasan hutan hujan dan padang rumput Malaysia, Kamboja. Republik Rakyat Cina, Laos, Myanmar, Thailand dan Vietnam.
2. Harimau Bengal (Panthera tigris tigris), terdapat di kawasan hutan hujan dan padang rumput Bangladesh, Bhutan, Republik Rakyat Cina, India dan Nepal.
3. Harimau Cina Selatan (Panthera tigris amoyensis), tinggal di kawasan hutan hujan dan padang rumput tengah dan barat Republik Rakyat Cina.
4. Harimau Siberia (Panthera tigris altaica), atau juga dikenal sebagai Amur, Ussuri, Harimau Timur Laut Cina, atau Harimau Manchuria. Jenis ini tinggal di kawasan hutan hujan dan padang rumput Cina, Korea Utara dan Asia Tengah di Rusia.
5. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), tinggal hanya di kepulauan Sumatera, Indonesia.
6. Harimau Malaya (Panthera tigris jacksoni), hanya ada di Semenanjung Malaysia.

Sementara itu jenis-jenis yang sudah punah adalah
1. Harimau Caspian (Panthera tigris virgata), yang telah punah sekitar tahun 1950-an. Dulunya hidup di kawasan hutan hujan dan padang rumput Afganistan, Iran, Mongolia, Turki dan kawasan Asia Tengah Russia.
2. Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), telah punah sekitar tahun 1972. Jenis ini hanya ditemukan di kawasan hutan hujan Pulau Jawa, Indonesia.
3. Harimau Bali (Panthera tigris balica), telah punah sekitar tahun 1937, dan hanya hidup di hutan hujan Pulau Bali, Indonesia.

Harimau adalah hewan nasional dari beberapa negara, walaupun disebut secara tidak resmi. Negara-negara itu antara lain Cina (bersama naga dan panda), Bangladesh (harimau bengal), India (harimau bengal), Malaysia, Nepal (harimau bengal), Korea Utara (harimau siberia), dan Korea Selatan.

Friday, November 13, 2009

PINANGAN

Kala kita lihat sepasang merpati terbang lepas bebas tepat di hadapan
Lalu kau bertanya, kapan kita bagai mereka
Terbang lepas bebas, lepas bebas ke ujung dunia
Dan ku bertanya, maukah kau terima pinangan tanpa sisa cinta yang lain
Rona bahagia terpancar dari anggukan
Saat kupasangkan, pasang cincin di jemari
Terimakasih kau terima pertunangan indah ini
Bahagia, meski mungkin tak sebebas merpati
(by Kahitna)

Saturday, February 14, 2009

Kampung Tionghoa

  • Suasana sebuah perkampungan tionghoa, tanggal 7-8 Februari 2009, di sebuah kawasan perumahan elite, Ijen Nirwana Residence, Malang


  • Saat senja dalam sebuah bingkaian di tahun baru Imlek


  • Alat musik etnik yang berasal dari negeri cina, dimainkan oleh salah satu anggota kelompok kesenian dari Klenteng Eng An Kiong, Malang. Masih ada lagi alat musik tradisional lain yang tersedia, tapi tidak ada yang bisa memainkannya. Itu terjadi karena tidak ada generasi muda sekarang ini yang mau mempelajarinya. Grup musik mandarin yang selalu berlatih di hari Senin jam 9-11 malam ini anggotanya kebanyakan para lanjut usia.

Friday, February 13, 2009

Facebook = Ajang Reuni?

Hi, my long lost friend, gimana kabarmu? Wah lama nggak ketemu ya… Terakhir kita ketemu di Supermall Karawaci tahun 1999. Ingat nggak? Kamu masih tetap di Malang? Aku sekarang di Hiroshima ni, lagi sekolah ngambil PhD. Bulan April nanti studi dah selesai, dan pulang ke Indonesia, nerusin kegiatan ngajar di bagian anatomi FKUI. Keep in touch ya......

Begitu pesan yang masuk ke inbox facebook yang saya buka ketika sedang dalam perjalanan pulang ngantor dari Surabaya ke Malang. Pesan itu datang dari seorang teman sebangku ketika masih duduk di bangku SD dan SMA, yang memang sudah tidak pernah ketemu dan kehilangan kontak setelah sekian lama. Adanya fasilitas facebook di dunia maya itulah akhirnya yang mempertemukan kami sehingga bisa menjalin komunikasi walaupun kami berada di negara berbeda dan berjauhan letaknya.

Beberapa bulan terakhir ini gejala demam facebook sangat terasa. Dimana-mana orang membicarakannya. Apalagi bagi orang yang pekerjaan sehari-harinya bersentuhan dengan komputer dan internet, sudah bisa dipastikan punya halaman di facebook.

Pembicaraan tentang facebook tidak hanya gencar di kalangan anak muda dan ABG usia sekolah. Rupanya ’virus’ itu sudah menjangkiti berbagai kalangan. Kalau komunitas anak muda menggunakan sarana facebook sebagai ajang mencari dan menambah teman, maka berbeda dengan apa yang dialami oleh kalangan paruh baya. Bagi kalangan yang berumur 35 tahun ke atas, facebook bisa jadi sebagai ajang reuni atau alat untuk melacak jejak kawan yang sudah hilang atau yang tidak berjumpa dalam jangka waktu yang lama.

Seperti yang saya alami sendiri, yang kini bisa dikatakan mulai mengalami ketergantungan, walau masih dalam taraf ringan. Awalnya seorang teman kantor yang memperkenalkan apa itu facebook. ”Yuk, kita gabung di facebook untuk nambah temen,” kata salah satu teman laki-laki di kantor pada suatu siang. Saat itu, saya dan dua teman perempuan sekantor yang lain agak apatis mendengar. Menambah teman? Ah seperti anak SMP saja, batin kami waktu itu. Apalagi sebelumnya kami juga sudah mengikuti situs pertemanan yang bernama friendster. Tapi karena berasa hanya seperti itu-itu saja, maka halaman di friendster pun akhirnya telantar begitu saja, tidak pernah lagi diurus.

Maka dengan ogah-ogahan kami bertiga pun mengiyakan ajakan teman kantor itu. Bahkan awalnya dia pula yang membuatkan dan mendaftar di facebook untuk dua teman perempuan tersebut. Saya pun menyusul kemudian, setelah beberapa kali ditanya apakah sudah bikin. Karena seringkali ditanya itulah, timbul rasa penasaran dalam benak saya. Ada apa sih dengan facebook ini, sehingga orang-orang ramai membicarakannya.

Awalnya saya juga masih gagap tentang facebook itu sendiri. Masuk ke halamannya dan melihat fasilitas yang ada, rasanya seperti anak TK yang baru belajar mengenal huruf, walaupun sesungguhnya dunia internet bukan lagi hal yang asing bagi saya. Pelan-pelan saya mencoba menyusuri satu persatu. Ternyata makin lama makin mengasyikkan. Fasilitas yang diberikan pun lebih banyak daripada friendster, situs yang hampir sama, yang sejauh ini sudah saya ketahui dan ikuti.

Tanpa sengaja, satu persatu kawan yang tidak pernah kontak bisa ketemu lagi. Jadi ya istilahnya setengah reuni begitu. Kabar-kabar pun mengalir begitu saja. Teman-teman yang tidak pernah bertemu itu pun membawa berita perkembangan terbarunya. Baik itu tentang dirinya sendiri maupun kawan lainnya. Sungguh, saya serasa menemukan keasyikan baru. Kurang lengkap rasanya kalau dalam sehari itu saya absen menjenguk halaman di facebook.

Apalagi facebook dengan mudahnya dapat diakses dari telepon genggam yang mempunyai fasilitas GPRS. Sekarang, kalaupun kelihatannya seseorang sedang duduk sendirian di suatu tempat hanya dengan ditemani sebuah telepon genggam di tangan, senyatanya tidaklah demikian. Bisa jadi ia sedang berhubungan dengan kawan-kawannya yang sedang berada nun jauh disana.

Facebook bisa dipakai sebagai ajang apa saja. Tapi, sepanjang yang saya lakoni, facebook ini merupakan alat bantu reuni. Masa-masa ketika sekolah dulu, atau kabar terakhir ketika bertemu, bisa menjadi topik yang menghangatkan sekaligus menggelikan. Belum lagi kalau foto-foto jadul diikutsertakan, kemudian dikomentari bersama-sama. Dijamin pasti tambah gayeng.

Sebagai forum untuk komunikasi bersama-sama facebook menyediakan fasilitas yang bisa dibilang cukup lengkap. Disitu ditampilkan wall, yang akan memperlihatkan apa saja yang kita masukkan, ataupun komentar dari orang-orang yang sudah menjadi teman kita. Tapi kalau ingin pesan yang lebih private, maka disediakan pula fasilitas pesan, seperti layaknya sebuah email. Ada juga fasilitas chatting bersama-sama teman yang kebetulan sedang online. Status update pun dipertontonkan secara detail, sehingga kita bisa mengetahui perkembangan terbaru dari orang yang telah menjadi kawan kita.

Tapi menurut kabar burung, ada beberapa negara yang sempat melarang adanya facebook di negerinya. Entah apa alasan pastinya. Yang jelas, kata mereka, facebook merusak mentalitas penerus bangsa. Banyak anak muda menjadi tergantung dan tidak tahu waktu kalau sudah berselancar di facebook. Lho?

Apa itu Facebook?

Facebook adalah situs web jaringan sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School. Keanggotaannya pada awalnya dibatasi untuk siswa dari Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Boston University, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain yang selanjutnya ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun setelah peluncurannya. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat surat-e suatu universitas (seperti .edu, .ac.uk, dll) dari seluruh dunia dapat juga bergabung dengan situs ini.

Selanjutnya dikembangkan pula jaringan untuk sekolah-sekolah tingkat atas dan beberapa perusahaan besar. Sejak 11 September 2006, orang dengan alamat surat-e apa pun dapat mendaftar di Facebook. Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan sekolah tingkat atas, tempat kerja, atau wilayah geografis.

Hingga Juli 2007, situs ini memiliki jumlah pengguna terdaftar paling besar di antara situs-situs yang berfokus pada sekolah dengan lebih dari 34 juta anggota aktif yang dimilikinya dari seluruh dunia. Dari September 2006 hingga September 2007, peringkatnya naik dari posisi ke-60 ke posisi ke-7 situs paling banyak dikunjungi, dan merupakan situs nomor satu untuk foto di Amerika Serika, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya

Di Indonesia sendiri, facebook baru menggejala dan menjadi wabah umum di akhir tahun 2008 sampai awal 2009. Bahkan pertanyaan, ’sudah gabung di facebook atau belum?’ menjadi sebuah pertanyaan wajib ketika bertemu dengan seseorang.