Wednesday, February 10, 2010

Ada Ceria di Bawah Kolong Suramadu

 
  
 

Hari Minggu di pertengahan bulan Januari. Karena harus menemani suami memotret profil jembatan Suramadu, akhirnya kita sepakat untuk akhir pekan itu tidak pulang, baik ke Malang ataupun ke Jombang. Maka jadilah, sepulang misa pagi itu kami meluncur kesana.

Jembatan Suramadu adalah jembatan yang melintasi Selat Madura, yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura. Dulunya sebelum jembatan ini selesai dibangun, jika akan bepergian ke Madura harus naik kapal feri dulu untuk menyeberangi Selat Madura. Dengan adanya jembatan ini setidaknya waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Pulau Madura lebih cepat. Alasannya karena tidak menunggu antrean di penyeberangan, yang seringkali membutuhkan ekstra kesabaran tersendiri.

Untuk mencapai jembatan Suramadu itu, kita harus melalui jalanan lama yang sudah didesain baru, yaitu Jalan Kedung Cowek. Kalau dulu jalan ini ukurannya tidak seberapa lebar, sekarang sudah menjadi empat jalur. Daerah yang dulunya banyak didominasi oleh tambak itu kini makin ramai dengan lalu lalang kendaraan yang hendak menyeberang. 

Kehadiran jembatan Suramadu tidak hanya mengubah wajah jalanan. Bahkan di kolong jembatan yang berbatasan dengan laut, setidaknya juga berubah. Betapa tidak. Banyak orang berdatangan, terutama di sore hari, untuk melihat kemegahan dan keanggunan jembatan itu walaupun hanya dari tepi laut. Tak pelak di kolong itupun seolah terbentuk komunitas baru.

Para ’pengusaha kecil’ yang punya naluri bisnis tajam pun tak melewatkan momen itu. Maka jadilah, kolam pemancingan ikan dari plastik digelar. Di sebelahnya ada yang menawarkan kacang dan jagung rebus. Sementara di jajaran berikutnya ada warung kopi yang hanya dilengkapi meja dan bangku panjang sangat sederhana. Belum lagi pedagang mainan anak-anak yang tak mau ketinggalan menggelar asetnya.

Tak hanya itu. Di pinggiran daratan yang berbatasan dengan laut juga didirikan warung-warung. Pengunjung pun seolah dimanjakan dengan tempat lesehan yang nyaman, walaupun kemasannya sangat sederhana, untuk dapat menikmati lautan dengan latar belakang jembatan itu. Penganan yang dijual pun tak lepas dari makanan yang umum ditemui, seperti mi ayam dan bakso serta aneka minuman.

Bila air sedang surut, banyak pengunjung, terutama mereka yang mengajak anak-anak, turun ke laut bermain air. Anak-anak itu pun dengan ceria berlarian mengejar ombak. Ada pula yang asyik mengumpulkan cangkang kerang. Yang lain lebih tertarik mengamati kehidupan rajungan dan seekor mimi yang sudah mati. Kolong jembatan itu pun bisa berfungsi sebagai sarana hiburan yang murah dan setidaknya mendidik. Tapi ketika air sedang pasang, lebih baik dipertimbangkan kembali ketika hendak turun bermain di air. 

Menghabiskan sore hari di kolong Suramadu bisa menjadi alternatif refreshing ketika uang di kantong sedang cekak. Karena untuk sampai disini tidak memerlukan tiket masuk. Hanya perlu duit seribu rupiah untuk bayar penitipan motor.    
 
 

Jembatan Suramadu

Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang melintasi Selat Madura, yang menghubungkan Pulau Jawa (di Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan, tepatnya di timur Kamal).

Jembatan ini mempunyai panjang 5.438 meter, dan saat ini tercatat sebagai jembatan yang paling panjang di Indonesia. Sementara lebarnya 30 meter dan tinggi 146 meter.

Jembatan ini diresmikan awal pembangunannya oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada tanggal 20 Agustus 2003, dan diresmikan pembukaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 10 Juni 2009.

Konstruksi dimulai pada 20 Agustus 2003 itu. Pada bulan Juli 2004, sebuah balok runtuh dan menewaskan seorang pekerja serta melukai sembilan orang lainnya. Pengerjaan jembatan itu sempat berhenti di akhir tahun 2004 karena kurangnya dana. Tetapi dimulai kembali pada bulan November 2005. Span utama dan jembatan dihubungkan pada tanggal 31 Maret 2009 dan jembatan baru dibuka untuk umum pada 10 juni 2009. Hanya dalam seminggu setelah pembukaan, ditemukan bahwa mur dan baut serta lampu penerangan banyak yang hilang karena dicuri.

Untuk melintasi jembatan ini dikenakan tarif tol. Untuk kendaraan roda empat dipungut bayaran Rp 30.000,00. Sementara untuk roda dua hanya Rp 3.000,00. Di sepanjang jalan tol tersebut, pengguna jalan tidak diperbolehkan berhenti di tengah jalan.  

Wednesday, January 6, 2010

Sambal Tuk-tuk


Senja, menjelang pulang kantor. Suasana masih diliputi mendung setelah diguyur hujan sebentar. Sialnya lagi listrik padam. Alhasil teman-teman kantor pun segera berkemas dan pulang ke rumahnya masing-masing. Tinggallah saya sendirian di kantor menunggu suami menjemput.

Dalam hati saya menggumam. Kalau listrik padam begini ya mana bisa membuat nasi di rumah. Akhirnya kami pun memutuskan untuk makan saja di luar. Selama dalam perjalanan mencari tempat makan, semua serba gelap karena pemadaman itu. Satu-satunya pilihan tempat yang lebih masuk akal dan terang adalah masuk food court di Royal Plaza. Ya, sudahlah. 

Selama lebih dari 15 menit kami terduduk tanpa tahu menu apa yang harus dipesan. Padahal disitu ada bermacam-macam pilihan. Tapi menurut kami tidak ada yang bisa menarik selera. Setelah jengah dengan kekonyolan itu, suami saya pun mencoba jalan berkeliling untuk melihat menunya lebih detil. Sedangkan saya lebih memilih bengong sambil minum teh, menunggu suami yang datang dengan keputusannya.

Tak lebih dari 10 menit kemudian dia kembali tapi tak membawa apa-apa. Ia hanya menunjuk-nunjuk konter Kedai Medan. ”Ingin makan apa?” tanya saya. Payahnya dia tak bisa memberikan rinciannya. ”Pokoknya yang disitu lho. Terserah sudah apa yang mau dipesan.” Hah?

Saya pun menuju ke tempat itu, dan meneliti menu apa saja yang ada disitu. Mata saya pun tak sengaja menancap pada tulisan sambal tuk-tuk. Apa lagi ini? pikir saya. Sedikit repot juga. Suami saya enggan mencoba makanan yang belum pernah ditemuinya. Sementara saya, selalu ingin mencobanya. Dengan yakin saya pun memesan ikan lele dengan sambal tuk-tuk itu.

Saat kembali, saya ditanya oleh suami. ”Jadinya pesan apa?” Dengan singkat saya menjawab, ”Lele sambal tuk-tuk.” Ia pun tersenyum mendengar nama yang terkesan lucu itu. Nama tuk-tuk sendiri mengingatkan kami pada sebutan angkutan umum di Thailand, yang mirip seperti bajaj atau bemo.

Setelah pesanan diantar, kami pun tak sabar untuk mencicipinya.Penampilannya sih tak ubahnya seperti sambal-sambal lainnya. Di atas dua ekor lele goreng, sambal tersebut diletakkan. Bawang merah dan tomatnya digerus rucah-rucah, dan sepertinya disiram dengan sedikit kuah. Saya mencoba menyendok kuahnya sedikit. Di luar dugaan, ternyata citarasanya sungguh luar biasa. Perpaduan antara rasa asin, pedas dan asamnya itu lho yang bikin lidah bergoyang. Sekilas rasanya mirip dengan sambal dabu-dabu. Saat dimakan seketika, rasa pedasnya memang tidak seberapa. Tapi setelah beberapa saat, rasa pedas yang timbul seperti menggigit dan tinggal di lidah.

Sambal tuk-tuk merupakan makanan khas masyarakat Tapanuli bagian selatan, atau seringkali disebut sebagai sambal khas Batak. Bahan-bahan yang digunakan juga sederhana, seperti sambal-sambal lainnya, yaitu cabai merah, cabai rawit, bawang merah, tomat, garam dan air perasan jeruk nipis. Uniknya, sambal itu dicampur dengan aso-aso (sejenis ikan kembung yang sudah dikeringkan) yang digerus halus, dan masih ditambahi lagi rempah khas yang hanya ada dan tumbuh di wilayah Sumatera Utara, yaitu andaliman.

Andaliman ini merupakan bumbu pelengkap masakan khas orang Batak. Makanan ala Batak rasanya sama sekali tidak klop jika tanpa kehadirannya. Ada cita rasa spesifik yang ditimbulkan oleh andaliman ini, sehingga memancing selera makan seseorang. Rasa pedas dan aroma andaliman berbeda dengan pedasnya cabai. Sungguh pas untuk lidah orang Batak yang suka masakan pedas menggigit.

Tak beda dengan suami saya. Ia pun merasakan sensasi yang luar biasa itu. Saking terkesannya dengan yang namanya sambal tuk-tuk, ia pun meminta saya untuk membuatkannya. Justru kini saya yang dibikin bingung. Di bagian Surabaya sebelah mana harus mencari andaliman itu?

Rempah Itu Bernama Andaliman


Andaliman (zanthoxylum acanthopodium DC) merupakan salah satu jenis rempah yang hanya terdapat di Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Tanaman ini tumbuh pada daerah berketinggian 1500 m dpl. Masuk dalam famili Rutaceae atau keluarga jeruk-jerukan. Bila digigit tercium aroma minyak atsiri yang wangi dengan rasa yang khas getir, sehingga merangsang produksi air liur.

Andaliman lebih dikenal di Asia, seperti di China, Jepang, Korea dan India. Mereka menyebutnya sebagai szechuan pepper. Ditengarai kalau andaliman ini aslinya dari negeri Cina. Biasanya dicampurkan untuk makanan mapo berkuah. Masyarakat Sin Jiang muslim menggerus andaliman dengan lada, ketumbar dan garam. Semuanya disangrai lalu dijadikan cocolan daging panggang.

Sementara itu di Jepang dan Korea, andaliman dijadikan hiasan atau untuk menambah rasa pedas pada sup dan mi. Masyarakat Gujarat, Goa, Maharasthtra di India selalu menyelipkan andaliman sebagai bumbu ikan.

Di daerah Tapanuli, andaliman ditemukan tumbuh liar di tanah kering di dataran tinggi dan rendah. Pohonnya berbatang kuat dan tidak merambat. Batangnya berdahan banyak, daunnya kecil-kecil, mirip bunga mawar. Di sekujur batang dan rantingnya dipenuhi dengan duri-duri tajam seperti duri mawar. Namun duri andaliman lebih besar dan kokoh. Tinggi pohon rata-rata 2-4 meter, jarang yang melebihi 5 meter. Usia produktifnya kurang dari 7 tahun.

Buah andaliman muncul dan diapit duri-duri. Butiran buahnya kecil-kecil, lebih kecil daripada merica. Buahnya bertangkai, seperti leunca yang biasa ada di Jawa Barat. Kalau masih muda buahnya berwarna hijau dan kalau matang berubah merah. Sementara kalau kering menjadi hitam.

Selain sebagai pelengkap bumbu wajib masakan khas Batak, andaliman juga mengandung senyawa yang berfungsi sebagai antioksidan dan antimikroba. Buah ini juga kaya akan vitamin C dan E yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Thursday, December 17, 2009

Menikah vs Mencintai


Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.

Rangkaian kalimat tersebut sepakat kami buat untuk dituliskan di kertas undangan ketika kami menikah nanti. Dan Puji Tuhan, rencana yang sudah kami susun jauh-jauh hari itu bisa terwujud seperti keinginan. Bisa jadi ungkapan tentang kasih yang diambil dari Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus, dan juga menjadi favorit banyak orang itu, setidaknya juga menjadi spirit bagi kami berdua untuk memulai kehidupan baru bersama-sama dalam sebuah ikatan pernikahan suci.

Berbicara tentang kasih, memang luas sekali jangkauannya. Ada beberapa jenis kasih yang ada di dunia, yaitu agape, philia, storge dan eros. Masing-masing mempunyai arti dan sasaran yang berbeda-beda. Tapi setidaknya, benang merah dari semua itu sama, yaitu kita tidak bisa menuntut balas karena telah memberikan kasih kepada seseorang.

Ketika berusaha untuk memahami tentang esensi dari kasih, maknanya sungguh dalam. Apalagi jika menilik dan mengacu pada ungkapan kasih seperti yang terdapat dalam kutipan nasihat Rasul Paulus tersebut. Kasih itu harus sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, dan lain-lain. Secara manusiawi, menabur kasih dengan syarat yang seperti itu sungguh sebuah perjuangan yang sangat berat.

Saat mengucapkan janji pernikahan di altar, terus terang saya cukup merinding. Betapa tidak. Karena saat itu saya secara sadar, dengan tangan bertumpu di atas Alkitab, mengucapkan sumpah untuk selalu mencintai pasangan saya baik dalam keadaan untung maupun malang, serta menghormatinya sepanjang umur hidup saya. Dan janji itu sifatnya mengikat.

Kehidupan yang berjalan ini diwarnai dengan hal-hal yang dinamis. Hidup bisa sangat bahagia dengan segala sukacitanya, tapi juga tak menutup kemungkinan harus terduduk lesu karena semangat yang jatuh ketika harus berhadapan dengan kenyataan yang seolah tidak menemukan jalan keluarnya. Pendek kata, suka dan duka pasti akan datang silih berganti dalam kehidupan. Demikian juga dalam kehidupan sebuah pernikahan tak lepas dari semua itu.

Dulu sewaktu masih bujang, saya tidak pernah terpikir bagaimana rasanya ketika harus berbagi hidup dengan seseorang. Dalam konteks ini adalah pasangan hidup. Tidak pernah terpikir bagaimana rasanya rutin setiap hari bertemu dengannya, mulai dari bangun tidur hingga berangkat tidur lagi sehingga saya hafal betul ritme hidupnya. Belum lagi ketika harus bertoleransi dengan kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan begitu saja, seperti selalu mendengkur kalau tidur, meletakkan segala sesuatu secara sembarangan, teledor, dan lain-lain kebiasaan yang di luar perkiraan, yang tidak pernah kelihatan waktu masih berpacaran.
Lepas dari semua itu, saya memang tidak bisa menuntut pasangan untuk berubah menjadi manusia seperti yang saya inginkan. Alasan yang pertama, karena saya bukan Tuhan. Yang kedua, karena pasangan saya adalah sebuah ciptaan Tuhan yang unik, dan hanya ada satu-satunya di dunia ini. Ketiga, setiap orang diciptakan dengan kelemahan untuk melengkapi kelebihannya, karena didalam kelemahan itulah kuasa Tuhan akan lebih kelihatan nyata.

Ungkapan kasih seperti yang tertera di atas itu, makin nyata dan bermakna, serta berusaha semakin saya terapkan, ketika kami memulai hidup bersama-sama. Saya harus mewujudkan makna itu dalam kehidupan pernikahan kami. Cinta itu tidak egois, tapi semakin mendewasakan. Kini saya tidak lagi hanya memikirkan kepentingan untuk diri sendiri, karena bagaimanapun sekarang saya sudah punya pasangan hidup yang selalu menyertai kehidupan saya dan selalu memberikan semangat untuk melalui kehidupan ini. Love you, kangmas….

Mencintai Dengan Sepenuh Hati


Manusiawi sekali kalau kita ingin dicintai. Apalagi bagi seorang perempuan. Bila sedang disapa oleh cinta, semua masalah yang sedang melanda seolah sirna tiada berbekas. Cinta memang indah, menggairahkan dan memesona.
Namun kita tidak bisa meminta atau memaksa seseorang untuk mencintai kita seperti apa yang kita inginkan. Satu-satunya cara yang bijak agar kita dicintai adalah dengan melupakan keinginan untuk dicintai dan mulai mencintai.

1. Mencintai berarti merindukannya.
Kerinduan kita menyiratkan betapa berartinya dia bagi kita, sehingga kepergiannya membuat kita merasa kehilangan. Betapa kita ingin selalu bersamanya, dan betapa waktu terasa lama ketika dia tidak berada disisi kita. Ketika dalam waktu yang cukup lama kita tidak bertemu, atau berpisah dengan jarak yang cukup jauh, tidak ada salahnya untuk mengungkapkan kerinduan kita kepadanya. Jangan menahan rasa rindu kita dan jangan biarkan dia menanti ungkapan kerinduan kita.

2. Mencintai berarti memotivasinya.
Itu juga berarti mendorongnya untuk untuk meraih cita-citanya, untuk bangkit dari kegagalan, untuk berani mengambil keputusan penting yang sudah ditundanya, dsb.

3. Mencintai berarti memaafkannya.
Karena dia juga seorang manusia biasa yang bisa salah, maka pemberian maaf adalah salah satu bukti cinta kita padanya. Kita harus belajar untuk mudah memaafkannya setiap kali dia melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak prinsipil. Bahkan untuk kesalahannya yang cukup besar pun kita perlu memaafkannya setelah persoalannya dibicarakan secara terbuka. Menyimpan kesalahan akan merusak hubungan cinta yang sudah lama terjalin.

4. Mencintai berarti menyadarkannya.
Meskipun cinta sejati menutupi banyak kesalahan, namun cinta juga mengoreksinya, memperingatkannya dan menegurnya bila dianggap perlu. Ketika dia melakukan hal-hal yang buruk, atau ketika dia hendak mengambil keputusan yang bodoh dan berbahaya, saat itulah kita perlu menyadarkannya.

5. Mencintai berarti peka terhadap keinginan dan kebutuhannya.
Kalau dia seorang yang terbuka, kita akan lebih mudah memahaminya. Tapi kalau dia seorang yang tertutup, sebaiknya kita sering-sering bertanya kepadanya. Jangan sampai tanpa sadar kita mengulang-ulang kebiasaan yang dibencinya, tapi jarang melakukan apa yang disukainya.

6. Mencintai berarti berterimakasih .
Berterimakasih atas kerelaannya menjadi pasangan kita, atas kesetiaannya dan atas pengorbanannya. Kita juga harus menerima dengan penuh penghargaan ungkapan kasih sayang yang ditunjukkannya dalam bentuk apapun. Jangan mematikan gairah cintanya dengan sikap dingin dan pasif. Setidaknya, ungkapan rasa terima kasih itu bisa diwujudkan dengan ucapan yang manis, senyuman hangat atau pelukan sayang.

7. Mencintai berarti mempercayai dan memberinya kesempatan untuk membuktikan ketulusan dan kesetiaannya kepada kita.
Jangan membebani dia dengan rasa cemburu dan rasa takut kehilangan dia. Jangan mengekangnya hanya karena kita kurang mempercayainya.

8. Mencintai berarti selalu berusaha untuk membahagiakannya.
Ketika kita ikut andil dalam membuatnya bahagia, maka kebahagiaannya akan menjadi sebagian dari kebahagiaan kita juga. Jangan pernah berhitung untuk berkorban bagi orang yang kita cintai.

9. Mencintai berarti memberinya kebebasan untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya, termasuk keluhan, kemarahan, harapan dan kekecewaannya. Jadilah pendengar yang baik agar kita bisa lebih memahami isi hati dan masalah yang dihadapinya. Jangan biarkan dia memendam perasaannya karena merasa malu dan segan. Jangan biarkan dia membungkam mulutnya karena merasa takut, dan jangan biarkan dia selalu mengalah karena ingin menghindari konflik dengan kita.

10. Mencintai berarti menghargainya dan membuatnya merasa puas menjadi dirinya.
Kita harus menghargai pasangan kita sebagai pribadi yang istimewa. Buatlah hatinya selalu berbunga-bunga dengan pujian dan kekaguman kita padanya. Jangan pernah merendahkan dan menghinanya, meskipun dalam konteks bercanda, lebih-lebih ketika berada di hadapan publik.

Saturday, December 12, 2009

Nasib Cincin Kawin



Saya masih teringat guyonan (atau mungkin juga tekad?) ketika masih belum menikah dulu, tentang cincin kawin. Saat itu saya mengatakan,
kalau menikah nanti tidak ingin memilih cincin untuk lambang ikatannya. Tapi lebih memilih sebentuk gelang kaki, yang saya yakini lebih pas dengan hati dan keinginan saya. Hal itu saya yakini betul bisa terlaksana mulus. Tapi kenyataan berkata lain. Sepasang cincin kawin yang sudah diberkati oleh Romo itu, akhirnya salah satunya harus diselipkan di jari manis tangan kanan saya.

Rupanya tidak hanya saya yang bermasalah dengan cincin kawin itu. Calon suami saya juga mempunyai permasalahannya sendiri. Ia berkata kalau tidak biasa memakai asesoris yang melekat di badannya. Apalagi kalau ada cincin yang menyelip diantara jari-jari tangannya, seolah ada sesuatu yang mengganjal dan mengganggu aktivitasnya. Karenanya ia bertekad pula, kalau setelah acara pemberkatan nanti, cincin itu akan dilepas dan disimpan saja.

Karenanya, kurang tiga minggu dari hari pemberkatan perkawinan, kami berdua seolah tidak kebingungan memesan cincin. Karena kami beranggapan kalaupun tidak memakai cincin juga tidak masalah. Bagi kami, arti dari perkawinan itu lebih pada meneguhkan komitmen bersama, dan cincin itu hanyalah sebagai perlambangnya. Itulah mengapa sampai akhir menjelang hari-hari terpenting itu tiba, cincin tidaklah masuk dalam skala prioritas utama.

Sampai ketika saatnya kami harus bertemu lagi dengan Romo untuk persiapan pembuatan liturgi pemberkatan. Dalam tata ibadah itu disebutkan ada bagian pemberkatan cincin perkawinan. Saya terhenyak. Wah, ini berarti harus pesan cincin. Pertanyaan lain pun mulai beterbangan di angan saya. Apakah waktunya cukup untuk memesan cincin yang sesuai dengan keinginan? Bagaimana modelnya? Berapa beratnya? Pesan dimana?

Dalam waktu yang sesingkat itu, akhirnya kami memutuskan untuk memesan cincin. Tapi masih ada kesulitan lain yang harus dihadapi. Kami tidak pernah bisa jalan dan pergi bersama untuk mewujudkan niat tersebut, karena tenggat waktu pekerjaan masing-masing yang tidak bisa ditawar. Belum lagi mobilitas dari kota ke kota yang menyita waktu kami sehingga tidak bisa sering bertemu. Akhirnya calon suami menyerahkan soal cincin kawin itu seluruhnya kepada saya. Intinya dia ngikut aja. Aduh, saya sempat jengkel dengan keputusannya. Soalnya ini kan menyangkut kepentingan bersama. Tapi ya mau bagaimana lagi?

Saya pun akhirnya memesan cincin di Malang, dengan pertimbangan kalau pesanan sudah jadi tapi saya belum sempat mengambilnya, masih bisa minta tolong adik untuk mengambilkannya. Tidak seperti calon pengantin lain yang biasanya memesan cincin perkawinan bersama-sama, kini saya pun harus kebingungan sendiri menentukan model dan beratnya serta ukuran jari calon suami. Kalau mengingat itu, rasanya gemes. Urusan memesan dan mendesain cincin itu pun menghabiskan waktu hampir dua jam. Dan dipastikan pesanan akan jadi dalam waktu 10 hari. Itu berarti kurang tiga hari dari waktu pemberkatan. Hasilnya, cincin untuk calon suami saya kebesaran jika dipasang di jari manis kanan! Belum lagi modelnya yang tidak persis dengan bayangan saya.

Hari Minggu yang telah direncanakan itu tiba. Acara pemberkatan berjalan lancar, hingga sampai pada bagian pemberkatan cincin. Setelah dua cincin itu diberkati, Romo pun menyerahkan satu persatu kepada kami, untuk saling mengenakan pada jari manis kanan masing-masing. Sambil memasukkan cincin ke jari pasangan, kami pun mengucapkan, “Terimalah cincin ini sebagai lambang cinta dan kesetiaanku padamu.”

Lambang cinta dan kesetiaan? Ya, hanya lambang. Justru arti sesungguhnya dari itu semua adalah komitmen untuk tetap menjaga cinta dan kesetiaan kepada pasangan. Walaupun di sisi dalam cincin itu terukir nama kami berdua dan angka 081109 sebagai tanggal keramatnya, tapi fungsi itu semua tak lebih dari sebuah monumen.

Tentang kebiasaan cincin kawin yang dilingkarkan di jari manis kanan, saya juga kurang merasa cocok. Kini cincin itu pindah ke jari telunjuk sebelah kiri, sementara punya suami malah di jari tengah kanan gara-gara ukurannya yang terlalu besar itu.

Yah, apapun itu, tentang cincin kawin yang memang sudah niat dipesan apalagi sudah diberkati memang tetap haruslah dipakai. Kalaupun maunya tidak dipakai dan hanya disimpan saja di lemari, apakah tidak ada pilihan lain yang lebih tepat? Kalau saya sih punya pilihan, lebih baik dilego saja....

Sejarah Cincin Kawin


Tradisi cincin kawin sudah berlangsung ribuan tahun yang lalu. Cincin kawin digambarkan sebagai tanda ikatan cinta antara seorang laki-laki dan perempuan. Memang tidak ada data pasti yang menyebutkan sejak kapan cincin digunakan sebagai bagian dari ritual sebuah perkawinan. Tapi sejumlah literatur menyebutkan pada jaman Romawi kuno banyak pasangan yang menggunakan lempeng besi sederhana sebagai tanda ikatan. Mereka percaya lingkaran cincin sebagai simbol cinta abadi.

Penggunaan cincin kawin itu juga tergambar dalam budaya Mesir kuno, seperti yang tertera dalam tulisan hiroglif di dinding makam yang ditemukan oleh para peneliti arkeologi. Umumnya lingkaran cincin itu terbuat dari logam keras yang diberi hiasan batu.

Dipercayai cincin kawin terkecil yang pernah dibuat adalah untuk Princess Mary, putri King Hennry VIII, yang dipinang oleh putra King Francis I. Upacaranya sendiri dilangsungkan pada tanggal 5 Oktober 1518. Saat itu Princess Mary masih berumur dua tahun, sementara suaminya baru lahir pada tanggal 28 Februari 1518.

Cincin kemudian dipakai sebagai bagian dalam upacara pemberkatan perkawinan kristiani pada sekitar tahun 870, yang diawali oleh bangsa Ibrani.

Tentang jari tempat cincin kawin itu ada bermacam-macan kebiasaan, yang tentunya didasarkan pada budaya masing-masing, dan tentunya disertai alasan tersendiri. Dalam fabel Yunani disebutkan pemakaian cincin itu pada jari keempat sebelah kiri. Itu dilakukan karena diyakini bahwa di jari manis tersebut terdapat pembuluh darah, disebut vena amoris yang artinya pembuluh cinta. Tapi sayangnya kepercayaan seperti itu tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Tapi berbeda ketika era Elizabethan, yang justru memasang cincin kawin di ibu jari.

Sementara itu kebiasaan meletakkan cincin di jari manis kanan dilakukan oleh orang Kolumbia, Denmark, Jerman, Yunani, Haiti, Hungaria, Mexico, Norwegia, Peru, Polandia, Rusia, Spanyol (kecuali Katalonia), Makedonia, Ukraina, Venezuela dan Serbia. Sedangkan kaum Kristen ortodoks dan penduduk Eropa bagian timur (kecuali Roma) secara tradisional memakai gelang ikatan di tangan kanan. Perempuan Yahudi memakai cincin kawin di tangan kiri, walaupun pada saat upacara penyematan diletakkan di tangan kanan.

Di Belanda, untuk tradisi katolik, cincin dikenakan di tangan kiri, sedangkan tradisi protestan justru di tangan kanan. Sementara di Austria, penganut katolik justru mengenakan cincin di tangan kanan. Di Belgia pilihan penempatan cincin kawin disesuaikan dengan areanya. Orang-orang Yunani yang penganut Kristen Ortodoks tetap memakai cincin kawin di tangan kanan, sesuai dengan tradisi Yunani.

Pemakaian cincin di jari kanan pada orang Romawi juga didasarkan pada referensi kitab sucinya. Disitu secara tersirat diterangkan bahwa tangan kiri itu punya konotasi negatif, sementara tangan kanan lebih ke arah yang baik.

Di India yang kebanyakan penganut Hindu, ada cincin yang dikenakan di hidung, disebut bichiya. Cincin ini hanya dikenakan oleh kaum perempuan. Untuk cincin kawin yang dipasang pada jari, biasanya menyatu dengan bichiya ini. Sedangkan di India bagian timur, terutama di Bengal Timur, ada sebuah gelang yang dilingkarkan di tangan, yang disebut loha, dan hanya dipakai kaum perempuan. Dalam perkembangannya, loha ini kemudian dilapisi dengan emas atau perak untuk mempercantik tampilannya.

Wednesday, December 9, 2009

The Story of Tiger : Two Brother


Saat hendak bangun tadi pagi, rasanya tubuh ini enggan sekali untuk diajak kompromi. Betapa tidak. Mata ini baru bisa terkatup rapat saat jam hampir menunjukkan pukul dua dini hari. Apalagi ketika mendengar suara TV sudah dinyalakan, rasanya masih ingin memeluk bantal kembali. Kulirik ke sebelah, ternyata suamiku sudah bangun dan menonton TV sambil menikmati roti sarapan paginya. Tahu kalau aku membuka mata dengan berat hati, dengan simpatik ia menawarkan rotinya.

Walaupun mata masih berat, tapi kupaksa pandanganku kuarahkan ke layar TV yang sedang menayangkan sebuah film. Tanpa mengucapkan sepatah kata, aku pun berusaha mengikuti jalan cerita film tersebut. Lama-lama ketertarikanku bertambah besar karena ternyata di film itu, yang menjadi lakonnya adalah para harimau. Wuahhhh....luar biasa. Setting film itu sendiri menampilkan keindahan alam yang masih perawan di Thailand. Harimau yang ditampilkan pun juga sama persis dengan harimau sumatera yang loreng-loreng itu.

Tak terasa, mata yang tadinya malas diajak membuka itu, kini tanpa sadar pun terbuka lebar-lebar. Sisa-sisa kantuk seolah kandas dengan tertawannya perhatian pada sosok harimau loreng yang sungguh gagah dan cakep itu.

Sebetulnya jalan cerita film, yang akhirnya kuketahui berjudul Two Brother itu, tidak terlalu kuketahui dengan detail. Tapi secara garis besar, pesan yang dibawa adalah lindungilah spesies harimau yang sudah hampir punah itu.

Diceritakan, ada seekor harimau betina yang punya dua anak. Sebut saja nama dua anaknya itu Sangha dan Kumar. Sejak kecil anak-anak itu hidup bersama dalam asuhan induknya. Mereka belajar untuk mempertahankan hidup di rimba yang penuh dengan persaingan. Hingga pada suatu saat, sang induk dan Sangha terjatuh dalam jebakan yang dipasang oleh tim penjebak atas perintah anggota keluarga kerajaan Thailand. Rencananya mereka akan dipersembahkan sebagai kenang-kenangan untuk seorang pembesar dari Perancis.

Sebelum dievakuasi oleh tim penjebak itu, sang induk berhasil meloloskan diri, walaupun telinga sebelah kirinya sempat bolong karena peluru tembakan yang dilontarkan oleh salah satu anggota keluarga kerajaan Thailand. Sementara Sangha kecil sempat sebentar bisa bersembunyi di dalam sebuah gua, sebelum akhirnya tertangkap dan nasibnya berakhir dijual kepada sebuah klub sirkus setelah ia membuat keonaran di dalam rumah keluarga pembesar Perancis itu.

Singkat cerita, kehidupan Sangha dalam kelompok klub sirkus, hari-harinya dipenuhi dengan latihan. Ia dituntut patuh kepada perintah yang diberikan oleh pawangnya. Ia tidak boleh menolak ketika harus menunjukkan kebolehannya berdiri di atas dua kaki belakangnya dengan dua kaki depannya terangkat ke atas seolah-olah sedang bertepuk tangan. Juga tidak bisa berontak ketika sang pawang memberinya perintah untuk melompati lingkaran api. Kalaupun ia melawan, maka hukuman dan perlakuan kasar pasti diterimanya. Sosok Sangha pun menjadi seekor harimau yang terkebiri hak hidupnya. Ia bukan lagi seekor raja hutan.

Di negeri Thailand ada tradisi pertarungan harimau. Sebelumnya kerajaan sudah punya seekor harimau koleksi yang dikenal galak. Bahkan tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Karenanya ia dikurung bersama-sama dengan binatang koleksi lainnya di sebuah ruangan bawah tanah, dengan dikelilingi kandang yang terbuat dari besi.

Untuk mencarikan musuh itu, maka sebuah kabar disebar di seluruh negeri. Intinya, dicari sebuah harimau galak yang akan diadu dengan harimau koleksi kerajaan. Akhirnya Sangha pun dibeli oleh kerajaan untuk meramaikan arena.

Ketika tiba hari pertarungan itu, Sangha terlihat seperti seekor pecundang. Ia hampir lari terbirit-birit ketika melihat musuhnya dikeluarkan dari kandang. Tapi perasaan takut itu bisa diatasinya. Dan berikutnya pertarungan sengit pun terjadi. Penonton yang menyaksikan dibuat tegang. Tapi itu hanya berlangsung sebentar. Memori ingatan keduanya seolah dipulihkan. Mereka merasa bahwa diantara keduanya ada ikatan emosional. Ternyata harimau yang menjadi koleksi kerajaan itu adalah Kumar, saudaranya sendiri. Perkelahian itu pun tak jadi berlangsung, yang ada mereka malah bersenda gurau seraya berguling-guling di arena.

Mendapati kenyataan seperti itu, pegawai kerajaan pun marah. Mereka pun memaksa keduanya agar terus berkelahi. Tapi perlawanan dilakukan oleh keduanya, hingga mereka bisa lolos bersama. Sepanjang perjalanan melarikan diri itulah banyak hal-hal lucu. Karena terlatih di kehidupan sirkus yang menuntut ketangkasan, Sangha pun dengan gampangnya meloloskan diri dari jebakan api yang dibuat oleh para pemburu. Kumar yang tidak biasa dengan hal itu, seolah mendapatkan semangat baru dengan kehadiran Sangha, hingga ia pun bisa melompati api yang semula ditakutinya.

Akhir cerita, keduanya bisa kembali ke hutan dan memulai kehidupan yang sesungguhnya. Dan seperti film-film yang berakhir bahagia, mereka berdua pun akhirnya bertemu kembali dengan induknya yang telinga sebelah kirinya bolong itu.

Harimau Sumatra


 Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan subspesies harimau yang berukuran paling kecil yang masih hidup hingga saat ini. Harimau jantan mempunyai panjang kira-kira 204 cm (6 feet 8 inchi) jika diukur mulai dari kepala hingga ujung ekor, dengan berat badan sekitar 136 kg (300 lb). Sedangkan untuk yang betina mempunyai panjang 198 cm (6 feet 6 inchi) dengan berat kira-kiraa 90 kg (200 lb).

Loreng yang dipunyainya berukuran lebih lebar daripada subspecies harimau yang lain. Mukanya juga lebih penuh dengan kumis dan cambang, terutama untuk harimau jantan. Ukurannya yang lebih kecil memungkinkan gerakannya lebih lincah menyusur hutan tropis. Diantara jari-jari kakinya ada selaput, sehingga harimau ini juga disebut sebagai perenang ulung. Dengan kepiawaiannya itu, mangsa yang hidup di air pun bisa ditangkapnya.

Mangsa harimau umumnya binatang besar seperti babi hutan, tapir dan rusa. Tapi hewan kecil seperti monyet, unggas dan ikan pun kadang disantapnya. Sementara itu orangutan jika seringkali menghabiskan waktu di atas tanah, tak menutup kemungkinan akan pula ditangkapnya.

Harimau sumatera hanya ditemukan di Sumatera. Jumlah populasinya sekarang ini kira-kira tinggal 400 ekor, dan hidup dalam kawasan perlindungan di sebuah taman nasional. Populasi terbesarnya berada di Taman Nasional Gunung Leuser, dengan jumlah kira-kira 110 ekor. Sementara kira-kira ada 100 ekor lagi hidup tanpa perlindungan sama sekali. Harimau sumatera termasuk salah satu jenis satwa asli Indonesia yang dilindungi karena keberadaannya sudah hampir punah.