Friday, November 13, 2009

PINANGAN

Kala kita lihat sepasang merpati terbang lepas bebas tepat di hadapan
Lalu kau bertanya, kapan kita bagai mereka
Terbang lepas bebas, lepas bebas ke ujung dunia
Dan ku bertanya, maukah kau terima pinangan tanpa sisa cinta yang lain
Rona bahagia terpancar dari anggukan
Saat kupasangkan, pasang cincin di jemari
Terimakasih kau terima pertunangan indah ini
Bahagia, meski mungkin tak sebebas merpati
(by Kahitna)

Saturday, February 14, 2009

Kampung Tionghoa

  • Suasana sebuah perkampungan tionghoa, tanggal 7-8 Februari 2009, di sebuah kawasan perumahan elite, Ijen Nirwana Residence, Malang


  • Saat senja dalam sebuah bingkaian di tahun baru Imlek


  • Alat musik etnik yang berasal dari negeri cina, dimainkan oleh salah satu anggota kelompok kesenian dari Klenteng Eng An Kiong, Malang. Masih ada lagi alat musik tradisional lain yang tersedia, tapi tidak ada yang bisa memainkannya. Itu terjadi karena tidak ada generasi muda sekarang ini yang mau mempelajarinya. Grup musik mandarin yang selalu berlatih di hari Senin jam 9-11 malam ini anggotanya kebanyakan para lanjut usia.

Friday, February 13, 2009

Facebook = Ajang Reuni?

Hi, my long lost friend, gimana kabarmu? Wah lama nggak ketemu ya… Terakhir kita ketemu di Supermall Karawaci tahun 1999. Ingat nggak? Kamu masih tetap di Malang? Aku sekarang di Hiroshima ni, lagi sekolah ngambil PhD. Bulan April nanti studi dah selesai, dan pulang ke Indonesia, nerusin kegiatan ngajar di bagian anatomi FKUI. Keep in touch ya......

Begitu pesan yang masuk ke inbox facebook yang saya buka ketika sedang dalam perjalanan pulang ngantor dari Surabaya ke Malang. Pesan itu datang dari seorang teman sebangku ketika masih duduk di bangku SD dan SMA, yang memang sudah tidak pernah ketemu dan kehilangan kontak setelah sekian lama. Adanya fasilitas facebook di dunia maya itulah akhirnya yang mempertemukan kami sehingga bisa menjalin komunikasi walaupun kami berada di negara berbeda dan berjauhan letaknya.

Beberapa bulan terakhir ini gejala demam facebook sangat terasa. Dimana-mana orang membicarakannya. Apalagi bagi orang yang pekerjaan sehari-harinya bersentuhan dengan komputer dan internet, sudah bisa dipastikan punya halaman di facebook.

Pembicaraan tentang facebook tidak hanya gencar di kalangan anak muda dan ABG usia sekolah. Rupanya ’virus’ itu sudah menjangkiti berbagai kalangan. Kalau komunitas anak muda menggunakan sarana facebook sebagai ajang mencari dan menambah teman, maka berbeda dengan apa yang dialami oleh kalangan paruh baya. Bagi kalangan yang berumur 35 tahun ke atas, facebook bisa jadi sebagai ajang reuni atau alat untuk melacak jejak kawan yang sudah hilang atau yang tidak berjumpa dalam jangka waktu yang lama.

Seperti yang saya alami sendiri, yang kini bisa dikatakan mulai mengalami ketergantungan, walau masih dalam taraf ringan. Awalnya seorang teman kantor yang memperkenalkan apa itu facebook. ”Yuk, kita gabung di facebook untuk nambah temen,” kata salah satu teman laki-laki di kantor pada suatu siang. Saat itu, saya dan dua teman perempuan sekantor yang lain agak apatis mendengar. Menambah teman? Ah seperti anak SMP saja, batin kami waktu itu. Apalagi sebelumnya kami juga sudah mengikuti situs pertemanan yang bernama friendster. Tapi karena berasa hanya seperti itu-itu saja, maka halaman di friendster pun akhirnya telantar begitu saja, tidak pernah lagi diurus.

Maka dengan ogah-ogahan kami bertiga pun mengiyakan ajakan teman kantor itu. Bahkan awalnya dia pula yang membuatkan dan mendaftar di facebook untuk dua teman perempuan tersebut. Saya pun menyusul kemudian, setelah beberapa kali ditanya apakah sudah bikin. Karena seringkali ditanya itulah, timbul rasa penasaran dalam benak saya. Ada apa sih dengan facebook ini, sehingga orang-orang ramai membicarakannya.

Awalnya saya juga masih gagap tentang facebook itu sendiri. Masuk ke halamannya dan melihat fasilitas yang ada, rasanya seperti anak TK yang baru belajar mengenal huruf, walaupun sesungguhnya dunia internet bukan lagi hal yang asing bagi saya. Pelan-pelan saya mencoba menyusuri satu persatu. Ternyata makin lama makin mengasyikkan. Fasilitas yang diberikan pun lebih banyak daripada friendster, situs yang hampir sama, yang sejauh ini sudah saya ketahui dan ikuti.

Tanpa sengaja, satu persatu kawan yang tidak pernah kontak bisa ketemu lagi. Jadi ya istilahnya setengah reuni begitu. Kabar-kabar pun mengalir begitu saja. Teman-teman yang tidak pernah bertemu itu pun membawa berita perkembangan terbarunya. Baik itu tentang dirinya sendiri maupun kawan lainnya. Sungguh, saya serasa menemukan keasyikan baru. Kurang lengkap rasanya kalau dalam sehari itu saya absen menjenguk halaman di facebook.

Apalagi facebook dengan mudahnya dapat diakses dari telepon genggam yang mempunyai fasilitas GPRS. Sekarang, kalaupun kelihatannya seseorang sedang duduk sendirian di suatu tempat hanya dengan ditemani sebuah telepon genggam di tangan, senyatanya tidaklah demikian. Bisa jadi ia sedang berhubungan dengan kawan-kawannya yang sedang berada nun jauh disana.

Facebook bisa dipakai sebagai ajang apa saja. Tapi, sepanjang yang saya lakoni, facebook ini merupakan alat bantu reuni. Masa-masa ketika sekolah dulu, atau kabar terakhir ketika bertemu, bisa menjadi topik yang menghangatkan sekaligus menggelikan. Belum lagi kalau foto-foto jadul diikutsertakan, kemudian dikomentari bersama-sama. Dijamin pasti tambah gayeng.

Sebagai forum untuk komunikasi bersama-sama facebook menyediakan fasilitas yang bisa dibilang cukup lengkap. Disitu ditampilkan wall, yang akan memperlihatkan apa saja yang kita masukkan, ataupun komentar dari orang-orang yang sudah menjadi teman kita. Tapi kalau ingin pesan yang lebih private, maka disediakan pula fasilitas pesan, seperti layaknya sebuah email. Ada juga fasilitas chatting bersama-sama teman yang kebetulan sedang online. Status update pun dipertontonkan secara detail, sehingga kita bisa mengetahui perkembangan terbaru dari orang yang telah menjadi kawan kita.

Tapi menurut kabar burung, ada beberapa negara yang sempat melarang adanya facebook di negerinya. Entah apa alasan pastinya. Yang jelas, kata mereka, facebook merusak mentalitas penerus bangsa. Banyak anak muda menjadi tergantung dan tidak tahu waktu kalau sudah berselancar di facebook. Lho?

Apa itu Facebook?

Facebook adalah situs web jaringan sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School. Keanggotaannya pada awalnya dibatasi untuk siswa dari Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Boston University, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain yang selanjutnya ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun setelah peluncurannya. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat surat-e suatu universitas (seperti .edu, .ac.uk, dll) dari seluruh dunia dapat juga bergabung dengan situs ini.

Selanjutnya dikembangkan pula jaringan untuk sekolah-sekolah tingkat atas dan beberapa perusahaan besar. Sejak 11 September 2006, orang dengan alamat surat-e apa pun dapat mendaftar di Facebook. Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan sekolah tingkat atas, tempat kerja, atau wilayah geografis.

Hingga Juli 2007, situs ini memiliki jumlah pengguna terdaftar paling besar di antara situs-situs yang berfokus pada sekolah dengan lebih dari 34 juta anggota aktif yang dimilikinya dari seluruh dunia. Dari September 2006 hingga September 2007, peringkatnya naik dari posisi ke-60 ke posisi ke-7 situs paling banyak dikunjungi, dan merupakan situs nomor satu untuk foto di Amerika Serika, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya

Di Indonesia sendiri, facebook baru menggejala dan menjadi wabah umum di akhir tahun 2008 sampai awal 2009. Bahkan pertanyaan, ’sudah gabung di facebook atau belum?’ menjadi sebuah pertanyaan wajib ketika bertemu dengan seseorang.

Thursday, January 29, 2009

AYAM VS MACAN


AYAM

Ayam tergolong binatang yang paling tidak dimengerti dan paling eksentrik dalam zodiak Cina. Walau dia sering tampak sebagai simbol keyakinan dan keberanian, namun di hatinya dia cenderung bersifat konservatif, bahkan agak kuno.

Sekilas, ada dua tipe Ayam yang sepertinya bertolak-belakang: tipe yang mudah terbakar dan amat cerewet, dan tipe yang diam-diam suka mengawasi, yang matanya seolah memancarkan sinar X. Walaupun demikian, warga shio ini (terutama pria) biasanya mudah dikenal dari penampilannya yang perlente dan penuh gaya. Keluarga unggas yang berlagak bagai pangeran dan bangga pada bulu-bulunya yang cantik ini memang memiliki pembawaan tak tercela. Anda takkan melihat ada Ayam yang berjalan dengan terbungkuk-bungkuk; posisi tubuhnya selalu tegak dan terlihat pongah. Sebagai pribadi yang senang menarik perhatian orang, ia bisa mengejar sukses dalam karir macam apapun yang menghadapkannya dengan orang banyak. Namun, sifat yang sama terkadang membuat Ayam terlalu melebih-lebihkan dekorasi rumah, kantor, atau dirinya sendiri. Dia juga amat terkesan dengan segala jenis penghargaan, medali, dan gelar-gelar kehormatan. Setidak-tidaknya setiap warga Ayam ingin memenangkan satu penghargaan atau menggondol satu ijazah profesional sebagai tanda pengakuan masyarakat bagi dirinya.

Ayam memang memiliki sejumlah sifat yang patut dibanggakan. Dia berotak tajam, berpenampilan rapi, teliti, teratur, pandai mengambil keputusan, tegas, waspada dan berbicara terus-terang. Dia lincah sekali dalam mengekspresikan dirinya, baik dalam percakapan maupun tulisan. Ia juga pandai bersilat lidah dan berdebat. Kalau Anda berniat menantangnya dalam masalah-masalah yang cukup kontroversial, bersiap-siaplah buat pedebatan yang lama dan sulit sebab Ayam memang punya stamina yang mengagumkan dan sanggup membuat Anda jemu.
Sebaliknya, jika dirinyalah yang dibikin malu sampai bulu-bulunya yang cantik itu menjadi kuyup, Ayam bisa menjadi amat menyebalkan. Ia tidak punya potongan diplomat. Situasi yang membutuhkan keluwesan dan kearifan bertolak belakang dengan wataknya. Bahkan, kepandaiannya mengkritik terkadang menyerupai kebrutalan. Untuk menciptakan kemajuan yang lancar dan tak terhalang dalam masyarakat, Ayam harus menyadari, bahwa orang lain tidak akan begitu cepat menolak nasehat-nasehatnya yang jempolan apabila disampaikan dengan cara yang lebih halus.

Jarang ada warga Ayam yang menghamburkan uang di luar batas (kecuali hal itu dilakukan demi gengsi). Mereka terpukau oleh akuntansi, pandai mengelola keuangan dan senang mengawasi peti uang. Seumpama Anda punya masalah yang menyangkut keuangan Anda, serahkan saja pada kebijaksanaan Ayam. Dia sanggup membuat anggaran yang ketat bagi Anda dan akan tak ragu-ragu mencekal tangan Anda setiap kali Anda menyentuh lebih dari jumlah yang sudah ditentukan. Namun, kalau menyangkut uangnya sendiri, perlu dicatat bahwa orang bershio Ayam biasanya hanya bermurah hati dengan keluarga dekatnya saja atau untuk mendapatkan rasa cinta dan kekaguman dari para pengikutnya. (Satu-satunya yang pasti bisa Anda dapat secara gratis darinya adalah nasihat!)

Di samping uang, Ayam pandai mengatur segala sesuatu, termasuk waktunya sendiri, waktu Anda, waktu tukang pos, waktu perusahaan, dan lain-lainnya yang tak terbatas hanya sampai di situ saja. Tak bakal Anda menemukan orang lain yang begitu pandai melaksanakan hal-hal yang penting secara tegas, kecuali dirinya. Dia memang mencintai tugas-tugas yang rumit. Tapi di sini jangan mengharapkan dia akan mampu berimprovisasi. Ayam adalah tipe yang tegas dan lugas, dan karenanya Anda juga harus memberikan perintah-perintah yang sama.

Ayam adalah perfeksionis. Ia memiliki mata yang jeli bagi hal yang kecil-kecil ditambah dengan kemampuan untuk bepikir secara teoritis. Namun, ide-idenya terkadang tampak lebih cemerlang di atas kertas daripada dalam penerapan yang nyata. Soalnya, di tengah-tengah fantasinya yang teoritis, Ayam seringkali lupa memperhitungkan segala kekurangan manusia serta faktor-faktor lain yang sulit diduga. Terkadang warga shio ini gagal untuk memahami mengapa orang lain tak bisa hidup dengan rumus tetap seperti yang mereka lakukan.
Hampir semua warga shio Ayam adalah pekerja yang bereputasi baik. Ia biasanya tahu bagaimana menyenangkan hati atasannya, yang sebaliknya terkesan pada kecerdasannya dan keefisienan kerjanya. Namun meskipun dia memiliki tenaga tak terbatas dan kemauan yang keras buat mencapai sukses, warga Ayam terkadang terlalu yakin pada waktu sedang kumat sehingga ia salah mengarahkan usahanya atau menanggung tugas-tugas yang di luar kemampuannya.

Ironi semuanya itu adalah bahwa warga Ayam dapat menemui sukses maupun duit pada tempat-tempat yang sangat umum. Seperti yang sering dikatakan orang Cina, Ayam masih bisa mencari makan dengan paruhnya yang kokoh-kuat dan cakarnya yang tajam, sekalipun di tanah yang paling keras.

Warga Ayam Dari Indonesia
Hetty Koes Endang, Presiden Soeharto, Titi Qadarsih, Gunawan Suteja, Ong Hok Ham, S. Bagio, Soedarsono Hadsapoetro, Rika Hartono Suatan, Ashadi Siregar, Prayudi Admodirdjo
Warga Ayam Dari Negara Lain
Paus Paulus VI, Kaisar Akihito, Katharine Hepburn, Joan Collins, Putri Caroline dari Monaco, Yoko Ono, Dolly Parton, Pangeran Phillip, Nancy Reagan, Pete Townsend

MACAN

Di Timur, Macan melambangkan kekuasaan, hawa nafsu dan keperkasaan. Sebagai pribadi yang suka berontak, beranekaragam dan tak dapat diramalkan, ia memegang kendali kekaguman dan kehormatan dari segala penjuru. Ia adalah pejuang yang ganas dan tak mengenal takut.
Macan adalah pribadi yang menyenangkan buat diajak bergaul, asal saja anda siap-sedia buat segala macam aktivitas yang datang bersama kepribadian dinamisnya. Vitalitas dan semangat hidup orang bershio Macan ternyata mudah menular. Ia pandai membangkitkan seluruh perasaan dalam diri orang, keculai ketidak acuhan. Dan tidak dapat dipungkiri, Macan yang memikat ini memang senang menjadi pusat perhatian.

Pembawaan Macan yang resah dan tak dapat berdiam diri menyebabkannya selalu tak sabar untuk bertindak. Namun, karena wataknya yang juga mudah curiga, ia terkadang menjadi ragu-ragu atau tergesa-gesa mengambil keputusan. Baginya sulit buat mempercayai orang lain atau menaklukkan pergolakan emosinya. Namun, walaupun temperamennya panas, ia juga tulus, penuh kasih sayang dan murah hati. Di samping itu ia punya selera humor yang mengagumkan.

Dalam kehidupan Macan mestilah ada suatu saat dimana ia akan bertindak hanya berdasarkan dorongan hatinya agar dapat memerankan semua peran fantastis yang diinginkannya. Yaitu, suatu kesempatan saat dimana ia dapat mencibir pada apa yang tak disetujuinya, mencaci masyarakat yang kolot dan mengejek tradisi yang terlalu mengikat. Macan harus mengekspresikan dirinya, menegakkan identitasnya dan membentuk kepribadiannya. Maka seandainya pemberontakan atau kesempatan untuk menyatakan pendapat secara blak-blakan ditawarkan padanya, maka jalan itulah yang akan dipilihnya untuk menyatakan, "Inilah diriku!" Walaupun demikian, sembilan dari sepuluh orang di antara kita bahkan cenderung buat menjagoinya. Kita boleh saja menggelengkan kepala melihat keberaniannya atau menahan napas melihat tindakannya yang gila, namun pada saat yang sama kita juga tak lupa memanjatkan doa dalam hati masing-masing baginya, dan bahkan kita ikut membagi kemenangan bersamanya waktu kita lihat dia sukses.

Kalau Macan sedang kesal, ia akan membutuhkan segerobak simpati dari anda. Jangan memperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Pada saat seperti ini logika tak berarti apa-apa baginya. Jangan segan-segan menghiburnya, sebab ia akan menghibur anda dua kali lebih banyak bila situasinya terbalik. Si Macan akan senang mendengarkan kata-kata bijak anda dan akan memperhatikan setiap nasihat. Namun, itu bukan berarti ia akan mengikutinya. Setelah anda pergi, yah, ada kemungkin besar Macan akan pergi juga dan melaksanaan apa yang telah direncanakannya semula!

Meskipun intensitas perasaannya terkadang membuatnya agak sulit diandalkan pada saat-saat yang menekan baginya, Macan masih dikenal mampu buat menyentuh perasaan publik. Kalau sedang berkepala dingin, pribadinya terasa hangat, sensitif dan simpatik. Sebaliknya, kalau sedang kumat, ia keras kepala, tak bisa ditolerir dan hanya tunduk pada kehendaknya sendiri.
Seperti juga Naga dan Ayam, warga Macan mempunyai ego yang amat besar. Uang, kekuasaan dan ketenaran tak akan berarti apa-apa baginya apabila egonya terluka. Dalam keadaan ini, Macan dapat menjadi pengacau yang paling busuk yang pernah anda temui. Ia akan melakukan apa saja untuk membalaskan dendamnya, meski harus ditebus dengan membakar rumahnya sendiri. Kata-kata yang tampak sepele bagi orang lain bisa saja membakar emosinya, padahal hal-hal besar dibiarkan lewat tanpa digubris. Ingatlah: Macan paling benci kalau diabaikan!
Dua kelemahannya dalam hidup ini adalah ketergesaannya di satu pihak, dan ketidak becusannya mengambil keputusan di lain pihak. Andainya ia belajar buat mengambil jalan tengah, Macan akan merupakan pribadi yang luar biasa sukses.

Di lubuk hati, Macan adalah orang yang amat romantis. Ia senang melucu, namun juga mesra dan sentimental sekaligus, makanya asyik juga jika kebetulan anda berpacaran atau menikah dengan seorang Macan. Namun, perlu diingat ia sangat posesif dan suka mencari gara-gara bila sedang cemburu.

Secara keseluruhan, kehidupan Macan memang berubah-ubah, diwarnai oleh tawa-ria, air mata, sakit hati, kegembiraan, putus asa dan oleh setiap perasaan lain yang dikenal manusia. Meskipun demikian, jangan sekali-kali mengasihani dirinya. Ia tak memerlukannya. Ia hanya dapat mencintai kehidupan apabila ia diperbolehkan buat mereguk isinya hingga puas, tentu berdasarkan cara yang dipilihnya sendiri. Macan adalah pribadi yang luar biasa optimis, yang akan selalu siap kembali bagi tantangan baru.

Warga Macan Dari Indonesia
Roeslan Abdulgani, Kris Biantoro, Abdul Gafur, Ismail Saleh, Ibnu Sutowo, Harmoko, Anton Hilman
Warga Macan Dari Negara Lain
Puteri Anne, Stevie Wonder, Hugh Hefner, Marilyn Monroe, Agatha Christie, Karl Marx, Alec Guinness

Monday, January 26, 2009

Untuk Mami


Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibuka.
Tapi seringkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup.
Sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan.

Dalam hidup terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan.
Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu
Bahwa apa yang kita inginkan terkadang tidak membuat hidup kita lebih bahagia.

Bermimpilah tentang apa yang diimpikan
Pergi ke tempat-tempat yang ingin kita datangi
Jadi seperti apa yang kita inginkan
Karena kita hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kita lakukan

Masa depan yang cerah, berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan
Kita tidak dapat melangkah lebih baik dalam kehidupan,
sampai kita melupakan kegagalan dan rasa sakit hati kita

Ketika kita lahir, kita menangis dan orang-orang di sekeliling kita tersenyum
Jalani hidup, sehingga pada waktu kita meninggalk, kita tersenyum walaupun orang-orang di sekeliling kita menangis
(Kalimat motivasi ini ditulis Intan untuk aku, 'mami' yang dikaguminya)

Saturday, January 10, 2009

Silent Night

Dalu suci tidhem sami
Jeng Gusti Pamarta
Tedhak manjalma krana kita
Miyos wonten kandhang Betlehem
Gustining dumadi
Gustining dumadi

Malam kudus sunyi senyap
Bintangmu gemerlap
Hanya dua berjaga terus
Ayah bunda mesra dan kudus
Anak tidur tenang
Anak tidur tenang

Tahun 2008 adalah tahun ke-190 bagi lagu “Malam Kudus”. Lagu itu pertama kali dinyanyikan pada malam Natal, 24 Desember 1818 di Gereja St Nikolas di Desa Oderndorf, Austria, atau dua tahun setelah dikarang Pastor Joseph Mohr, dengan judul asli “Stille Nacht” (bahasa Jerman).
Meskipun Joseph Mohr dan Franz Xaver Gruber yang memperdengarkan pertama kalinya, “Stille Nacht” mendunia setelah kerap dinyanyikan grup vokal keluarga dari Desa Tyrol, Austria. Desa Tyrol merupakan desa asal tukang servis orgel, yang menemukan naskah asli “Stille Nacht” di gereja. Naskah itu dibawa ke Tyrol dan segera menjadi lagu favorit para penyanyi Tirolian. Mereka rutin bernyanyi berkeliling daerah saat musim dingin, hingga ke Amerika.
Kini, “Stille Nacht” telah dialihbahasakan ke 330 bahasa. Tiap tahun, ribuan orang mengunjungi kapel di dekat lokasi Gereja St Nikolas. Gereja St Nikolas dipindahkan lokasinya karena banjir besar.

Friday, December 5, 2008

Mi Lagi, Mi Lagi


Sesuai dengan janji yang sudah dibuat lewat telepon tadi siang, kita berdua sepakat untuk makan di luar sembari pulang kantor, karena di rumah saya tidak sempat memasak sehingga di meja tidak ada persediaan makanan. Sepanjang jalan, sambil naik Tiger kesayangan, perlahan-lahan kami menyusuri jalanan, kalau-kalau ada menu yang menarik perhatian kami.
Namun sudah bisa ditebak, mata kami berdua terlalu jeli untuk membaca tulisan pangsit mi, mi ayam, bakmi atau yang sejenisnya, yang biasanya terpampang di depan tempat makan tersebut. Entahlah, kenapa bisa begitu. Yang jelas, saat kami berencana untuk makan di luar, walaupun sudah mencanangkan untuk tidak memilih jenis mi dan sebangsanya, tetap saja pilihan terakhirnya itu juga. Bisa jadi karena tergelitik oleh pesona mi dan ketenarannya itulah tulisan ini pun lahir.
Bakmi atau mi, merupakan makanan yang sudah umum ditemui di Indonesia. Bahkan masing-masing daerah dan wilayah mempunyai andalan dan sebutannya sendiri-sendiri untuk jenis makanan ini. Orang menyebut Bakmi Jawa untuk mi, baik yang goreng maupun rebus, yang dimasak diatas tungku berbahan bakar arang dengan waktu memasaknya yang lama sekali. Sementara itu Mi Ayam Solo juga terkenal dimana-mana, dengan ramuan mie rebus yang dibagian atasnya diberikan ayam cincang berbumbu kecap. Mi Titi alias I Fu Mie ala Makassar juga mempunyai kelas penggemar tersendiri. Tampilan mi kering yang disiram dengan kuah kental berisi sayuran dan seafood ini menyerupai masakan cina yang juga sudah dikenal di Indonesia. Masih ada lagi Mi Aceh, yang pedasnya luar biasa, karena bumbunya yang kaya dengan rempah-rempah.
Itulah fenomena mi, yang sudah melanda Indonesia dan memperkaya khazanah kulinarinya. Sebetulnya tidak hanya itu. Mi juga dikenal di belahan negara lain, dan bisa jadi keberadaannya juga sama ngetopnya dengan di Indonesia. Hanya saja, nama, bentuk dan bahan penyusun serta cara pembuatannya berbeda-beda sesuai dengan budaya dan teknologi masing-masing negara.
Dalam bukunya yang berjudul Upaboga di Indonesia (Ensiklopedi Pangan dan Kumpulan Resep), ahli boga Suryatini N Ganie menyebut, bahwa mi terbuat dari tepung terigu, berbentuk pipih memanjang dengan diameter sekitar 0,2 cm.
Kata mi dan bakmi, dalam bahasa Belanda dan bahasa Jerman berasal dari bakmi, diperkenalkan di Indonesia selama masa kolonial Belanda. Makanan ini bukanlah asli dari Indonesia, tapi berasal dari negeri Tiongkok. Tak begitu jelas kapan dan bagaimana makanan ini masuk ke wilayah Nusantara. Penjelasan yang masuk akal, makanan ini bisa jadi dibawa oleh kaum pedagang dari negeri Cina ratusan tahun yang lalu.
Sementara itu, tentang asal usul mi dan siapa yang mula-mula membuatnya masih menjadi perdebatan. Disebut-sebut bahwa masyarakat Tiongkok telah mengenal mi sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Tetapi ada pula yang mengatakan sekitar tahun 100 Masehi dan berasal dari daerah utara Tiongkok. Namun catatan tertua yang ada menyebut bahwa mi telah ada sejak jaman Dinasti Han Timur, antara tahun 25 dan 220 Masehi. Sementara itu, pada Oktober 2005, mi tertua yang diperkirakan berusia 4.000 tahun ditemukan di Qinghai, Tiongkok.
Bangsa Arab juga mengklaim sudah mengenal makanan ini sejak abad ke 5 Masehi. Itu dibuktikan dengan adanya tulisan dalam bentuk bahasa Arab kuno di daerah Yerusalem, yang menceritakan soal makanan yang serupa dengan mi, yang dimasak dengan cara direbus.
Sementara itu, Marcopolo juga mengklaim dirinya sebagai orang yang mempopulerkan mi. Konon ia terkesan akan pembuatan makanan pokok berupa benang-benang terigu panjang, yang dibuat oleh para koki di dapur kerajaan Cina. Ia pun kemudian membawa pengetahuan itu kembali ke tanah airnya, dinama makanan tersebut kemudian dikembangkan lebih luas menurut selera setempat. Tetapi orang Italia sendiri menolak klaim tersebut. Mereka mengatakan kalau 24 tahun sebelum kepulangan Marcopolo dari Asia, prajurit-prajurit di Italia dari daerah Genoese telah membekali diri mereka dengan pasta kering, yang diperkenalkan oleh bangsa Arab ketika menduduki Sisilia.
Mi disebut dengan nama yang berbeda di masing-masing negeri. Mi yang berasal dari Tiongkok lazim disebut sebagai bihun, kwetiau, ifumie atau mi china. Sementara itu di Jepang lebih sering disebut dengan nama udon. Untuk mi yang berkuah disebut ramen. Pasta, pasta rebus dan spageti adalah mi yang berasal dari Italia. Sedang di India lebih dikenal dengan wai-wai. Mi telur segar asal Timur Tengah diberi nama reshteh, sementara mi dengan kuning telur asal selatan Jerman disebut sebagai spƤtzle.
Mi juga dibedakan berdasarkan bahan baku pembuatannya. Lagi-lagi ini berhubungan dengan kondisi geografis sebuah negeri. Di Tiongkok bagian selatan, mi yang berbahan dasar beras mudah sekali ditemukan, karena di kawasan tersebut padi tumbuh dengan suburnya. Dari situ mi kemudian menyebar ke Asia Tenggara seperti Thailand, Laos, Kamboja dan sekitarnya. Sedangkan mi yang berbahan dasar terigu lebih banyak ditemukan di Tiongkok bagian utara. Jenis mi inilah yang kemudian banyak ditemukan di Jepang, Korea, Philipina, Taiwan, Malaysia, India dan Indonesia.
Mi mengandung banyak sekali karbohidrat, namun rendah protein. Kaum Tionghoa percaya bahwa mi adalah lambang panjang umur. Karena itu dalam setiap acara ulang tahun makanan yang satu ini tidak boleh ketinggalan. Bisa jadi bentuk mi yang panjang itu sebagai sebuah harapan akan datangnya umur yang lebih panjang. Memang mi itu enak sih

Mi Tertua

Sebuah serpihan berwarna kuning sepanjang kurang lebih 50 cm, ditemukan dalam sebuah periuk yang terpendam ketika terjadi banjir berabad-abad yang lampau. Berdasarkan hasil tes radiokarbon, material yang berasal dari Lajia, situs arkeologi yang berada di samping Sungai Kuning, Cina, diindikasikan sebagai makanan yang kira-kira sudah berumur 4000 tahun.

Para ilmuwan menduga bahwa makanan yang disebut sebagai mi itu dibuat dari tepung yang berasal dari rumput. Tidak seperti jenis mi modern yang telah dibuat dari tepung terigu. Penemuan itu juga masih menjadi perdebatan, tentang siapa yang mula-mula membuat makanan yang berupa helaian-helaian itu.
Penelitian menunjukkan bahwa mi pertama kali dibuat di Cina. Ini berdasarkan riset yang dilakukan oleh Institute of Geology and Geophysics, Chinese Academy of Sciences, Beijing, seperti yang dituturkan kepada BBC News.
Lajia merupakan situs arkeologi yang terletak di Sungai Kuning. Diduga wilayah itu hilang karena terendam banjir. ”Berdasarkan penelitian geologi dan arkeologi, telah terjadi gempa bumi dahsyat yang menyebabkan wilayah itu tergenang air,” demikian penjelasan Profesor Kam-biu Liu dari Louisiana State University, Amerika Serikat. Lajia merupakan sebuah situs yang menarik, karena disitulah Pompeii of China.
Mi hasil temuan itu disebut sebagai La-Mian, yaitu mi tradisional cina yang dibuat dengan cara menarik ulur adonan menggunakan tangan. Diperkirakan bahan yang digunakan adalah tepung foxtail (Setaria italica) dan tepung broomcorn (Panicum miliaceum). Kedua jenis tanaman itu merupakan rumput-rumputan asli negeri Cina. Hal itu berbeda dengan bentuk mi modern cina sekarang ini, atau pasta Italia yang terbuat dari tepung gandum. (phie)

Berburu Mi di Malang

Hot Cui Mi, makan mi bersama mangkuknya. Tulisan itu kami temukan dalam sebuah selebaran, entah siapa yang meletakkannya di depan pintu rumah. Kami berdua saling berpandangan dan menaikkan alis, lantas saling melempar senyum. ”Perlu kita buktikan,” begitu ujar mantan pacar, yang tak lama lagi akan menjadi pendamping hidup saya.

Malang surga makanan. Bisa jadi sebutan itu benar adanya. Itulah mengapa, walaupun status pekerjaan dan kantor berada di Surabaya, saya berat sekali untuk meninggalkan Malang dengan kelebihan yang dipunyainya itu. Karenanya dengan rela hati saya pun bolak balik Surabaya Malang setiap beberapa hari sekali. Saat menyenangkan adalah ketika kembali ke Malang. Selain kangen dengan hawanya yang lebih segar daripada di Surabaya, kami berdua pun punya kegiatan rutin yang tidak bisa dilewatkan, yaitu berburu bakmi, cui mi atau sebangsanya.
Orang bisa saja mengatakan kalau kebiasaan kami berdua aneh. Tiada bosan-bosannya kami berburu dan mengapresiasi segala macam bentuk mi yang kami temui. Mulai dari mi kelas pinggiran yang dijual di warung kaki lima, hingga mi yang berkelas depot dan rumah makan beken.
Mi yang banyak ditemui di Malang adalah jenis mi yang lebih dominan dengan gaya masakan Cina. Beberapa diantaranya bahkan sudah dikenal sejak lama. Sebut saja Bakmi Gajah Mada, Bakmi Gang Jangkrik, atau Bakmi Gloria yang sudah terkenal diantero Malang Raya. Demikian juga dengan Pangsit Mi Dempo yang warungnya persis melekat di tembok belakang SMAK Santo Albertus, atau yang lebih dikenal dengan nama SMA Dempo. Atau Pangsit Mi Bromo Pojok, yang dulunya memang terletak di pojokan Jalan Bromo, serta Pangsit Mi Oro Oro Dowo yang buka warung di dekat pasar Oro Oro Dowo.
Itu hanya beberapa tempat yang sudah menjadi ikon bakmi di kota Malang. Belum lagi gerai-gerai baru yang terus mengembangkan diri dengan mengambil segmen pasar penggemar mi lainnya. Sebut saja Hot Cui Mi yang menawarkan sensasi cara makan mi dengan mangkuknya. Ada lagi Bakmi Sumpit, yang dalam kenyataannya tidak pernah dilengkapi sumpit dalam penyajiannya. Di halaman kelenteng Ang En Kiong pun juga ada sebuah warung pangsit mi yang bisa menjadi pilihan lainnya. Namun kebanyakan orang sedikit ragu ketika memasukinya. Bisa jadi perasaan yang tidak enak, karena warung itu berada di halaman tempat ibadah. Tapi kalau berbicara soal rasa, tidak ada istilah menyerah untuk memburunya.
Varian bakmi yang ditawarkan oleh Bakmi Gajah Mada, Bakmi Gang Jangkrik Bakmi Gloria dan Pangsit Mi Bromo Pojok hampir seragam, yaitu lebih mengarah pada gaya masakan cina. Berupa onggokan mi rebus, yang diatasnya ditaburi potongan ayam serta daun bawang. Sebagai pemanisnya dilengkapi dengan daun slada, dan biasanya ada pangsit rebus yang tersembunyi di bawah tumpukan mi. Kuah bening ditempatkan terpisah di sebuah mangkuk kecil. Penggemar mi juga masih diberi pilihan lain untuk kelengkapannya, yaitu berupa irisan jamur, ampela hati ataupun dicampuri dengan pentolan bakso.
Sekadar tambahan info, di tempat-tempat itu ada pula jenis makanan lain yang bisa jadi harus dicoba, yaitu siomay. Siomay ini terbuat dari daging ikan atau udang yang sudah dicampur dengan tepung, kemudian dibungkus dengan kulit pangsit lalu dikukus. Biasanya dalam satu porsi, berisi dua buah siomay yang ukurannya lumayan besar dan penyajiannya dilengkapi dengan kuah yang segar. Nikmat sekali kalau dimakan saat masakan itu masih hangat.
Sementara Pangsit Mi Dempo, modelnya juga tidak berbeda jauh. Hanya saja tempatnya agak sedikit minggir dan kelas anak-anak sekolahan. Untuk menikmati menu disini disarankan untuk tidak menambahkan kuah terlalu banyak. Karena akan menghilangkan rasa. Sebab bumbu-bumbunya akan larut dalam kuah itu. Makan mi disini kurang lengkap juga kalau tidak disertai jus alpukat moka yang juga sebagai menu andalan di warung yang terletak di Jalan Gede itu.
Hot Cui Mi menawarkan sensasi lain lagi. Disebut-sebut bahwa disini kita bisa makan mi bersama dengan mangkuknya. Senyatanya, mangkuk yang bisa dimakan itu adalah sebentuk pangsit goreng yang ukurannya bisa menampung seporsi bakmi. Pangsit besar itu sendiri ditempatkan diatas sebuah mangkuk. Varian mi yang dihidangkan pun tak beda jauh dengan yang lain. Hanya saja, pangsit goreng itu bisa dimakan sampai habis. Dan yang jelas, keberadaan mi akan akan tetap abadi, seabadi penggemarnya.