Monday, March 12, 2012

St. Franciscus de Sales (24 Januari)

Franciscus dilahirkan di kastil keluarga de Sales di Savoy, Perancis, pada tanggal 21 Agustus 1567. Keluarganya yang kaya membekalinya dengan pendidikan yang tinggi. Pada usia 24 tahun, Franciscus telah meraih gelar Doktor Hukum. Ia kembali ke Savoy dan hidup dengan bekerja keras. Tetapi, kelihatannya Franciscus tidak tertarik pada kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Di hatinya, Franciscus mendengar adanya suatu panggilan yang terus-menerus datang bagaikan sebuah gema. Tampaknya seperti suatu undangan dari Tuhan baginya untuk menjadi seorang imam. Pada akhirnya, Franciscus berusaha menceritakan perjuangan batinnya itu kepada keluarga. Ayahnya amatlah kecewa. Ia ingin agar Franciscus menjadi seorang yang tersohor di seluruh dunia. Dengan pengaruh kuat keluarga pastilah impian itu akan tercapai. Tetapi, Franciscus bersikeras dan ditahbiskan imam pada tanggal 18 Desember 1593.
Pater Franciscus de Sales hidup pada saat umat Kristiani dilanda perpecahan. Ia menawarkan diri untuk pergi ke daerah yang berbahaya di Perancis untuk membawa kembali orang-orang Katolik yang telah menjadi Protestan. Ayahnya menentang dengan keras. Ayahnya mengatakan bahwa sudah merupakan suatu hal yang buruk baginya mengijinkan Franciscus menjadi seorang imam. Ia tidak akan mengijinkan Franciscus pergi dan wafat sebagai martir pula. Tetapi, Franciscus percaya bahwa Tuhan akan melindunginya. Maka ia dan sepupunya, Pater Louis de Sales, dengan berjalan kaki menempuh perjalanan ke daerah Chablais. Segera saja kedua imam tersebut merasakan bagaimana menderitanya hidup penuh hinaan serta aniaya fisik. Hidup mereka berdua senantiasa ada dalam bahaya. Namun demikian, sedikit demi sedikit, umat kembali ke pelukan Gereja.
St. Franciscus kemudian diangkat menjadi Uskup Geneva, Swiss. Bersama St. Yohana Fransiska de Chantal, pada tahun 1610 ia membentuk suatu ordo religius bagi para biarawati yang diberi nama Serikat Visitasi. Franciscus menulis buku-buku yang mengagumkan mengenai kehidupan rohani dan cara untuk menjadi kudus. Buku-bukunya, Tulisan tentang Kasih Allah dan Pengantar kepada Kehidupan Saleh, masih dicetak hingga sekarang. Buku-buku tersebut digolongkan sebagai buku-buku rohani ’klasik’.    
Uskup de Sales wafat pada tanggal 28 Desember 1622 dalam usia 56tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Inosensius X pada tahun 1665. Oleh karena pengabdiannya yang gagah berani bagi Gereja, ia diberi gelar istimewa ’Pujangga Gereja’. St. Franciscus dijadikan pelindung para wartawan.

“Sama seperti kasih ilahi mempercantik jiwa, hal itu disebut rahmat, yang menjadikan kita menyenangkan bagi Allah yang Mahamulia. Demikanlah rahmat tersebut memperkuat kita untuk melakukan kebajikan, hal itu disebut belas kasih.” ~ St. Franciscus dari Sales

Wednesday, November 16, 2011

Menghadiahi Diri Sendiri


Menjelang ulang tahun pernikahan kami yang kedua, tepatnya yang jatuh pada tanggal 8 November, saya bertanya kepada suami. “Enaknya hadiah untuk second anniversary ini apa ya?” Tapi suami saya hanya tersenyum sambil mengangkat pundak. “Entahlah. Terserah kamu deh, kamu kepingin apa.” Wah, repot juga, ditanya malah balik nanya.
            Akhirnya, saya pun berburu info di internet, tentang kado apa yang cocok untuk ulang tahun perkawinan yang kedua. Dari info yang saya dapatkan, ternyata ulang tahun perkawinan kedua itu tidak ada yang spesial. Tidak seperti perkawinan ke 25, 50 atau 60 tahun. “Aduh, kenapa tidak sebegitu berartinya sih ulang tahun perkawinan kedua? Bukannya usia yang ke 25, 50 atau 60 itu juga harus melalui dulu usia yang ke 2?” ujar batin saya memberontak.
            Walaupun tidak menemukan yang sreg di hati, tapi saya berusaha menyabar-nyabarkan hati. Siapa tahu, dengan telaten memilah-milah, info yang saya butuhkan akan ketemu. Dengan bantuan Paman Google, saya pun mengubek-ubek segala halaman yang berhubungan dengan kata kunci second anniversary.
            Hingga akhirnya saya temukan sebuah tulisan menarik, tentang alternatif kado yang bisa diberikan pada tahun-tahun tertentu dalam ulang tahun perkawinan. Lucunya, di ulang tahun yang kedua, kadonya sungguh tidak ada yang spesial, menurut saya. Betapa tidak, disitu disebutkan kalau hadiah yang bisa diberikan untuk ulang tahun kedua adalah katun. “Ah, apa pula ini,” teriak batin saya. Ternyata, yang dimaksudkan dengan katun disitu adalah barang-barang yang terbuat dari katun atau kain. Bisa berupa handuk, serbet, taplak atau kanvas. Tentunya barang-barang tersebut dibuat, atau sengaja dibuat, dengan edisi spesial. Misalnya saja handuk yang bertatahkan berlian…(ah kalau yang ini ngaco).
            Dengan bekal info itu, saya pun mencoba mendiskusikannya dengan suami. Sambil makan malam, kami pun mengobrol tentang hadiah untuk diri sendiri itu. Awalnya memang terkesan lucu, karena kami akan memberi kado untuk diri kami sendiri. Tapi, tidak ada salahnya mencoba menghargai apa yang telah kami lalui bersama itu  dengan sesuatu yang spesial.
            Untuk memutuskan barang apa yang hendak dibuat istimewa itu rupanya juga bukan perkara yang gampang. Tapi secara tidak sengaja, saya melihat sebuah frame pigura ukuran besar yang masih kosong, yang tertumpuk diantara barang-barang. Saya ingat betul, pigura itu merupakan hadiah perkawinan kami dari Mbak Ita, sepupu saya.
            Akhirnya saya yang putuskan untuk menggunakan pigura itu sebagai kado spesial kami, dan mengisinya dengan sebuah foto sewaktu pesta pernikahan kami. Suami sempat tersenyum-senyum mendengar penjelasan saya. Tapi ia juga tidak menolaknya.
             Beberapa hari menjelang tanggal 8 November, saat berbelanja di Royal Plaza, kami menyempatkan diri mampir ke digital printing, untuk mencetak fotonya. Terus terang, foto-foto pernikahan dulu itu, memang belum pernah ada satu pun yang dicetak. Semuanya hanya tersimpan dalam bentuk file di laptop. Pasalnya, saya tidak pede dengan gaya dandanan saya, yang saya pikir seperti pemain ketoprak saja. Betapa tidak. Saya yang sehari-hari lebih akrab dengan celana jeans, kemeja, kaos oblong dan bahkan celana pendek itu, harus berkebaya dan bersanggul ria demi hari yang katanya banyak orang sebagai hari spesial itu.
            Pendek cerita, foto itu kini jadilah menghiasi pigura yang tadinya kosong. Sekarang tinggal mencari lokasi untuk memajangnya. Idealnya, foto monumental dan bersejarah seperti itu ditempatkan di area umum. Sehingga setiap orang yang masuk ke dalam ruangan itu, langsung bisa menikmati keindahannya. Tapi saya beda. Sekali lagi saya tidak pede kalau foto itu harus dipandang-pandang oleh banyak orang. Maka diputuskan untuk memajang foto itu di kamar pribadi kita saja.
            Suami saya pun dengan semangat mengeluarkan alat bor, dan mengebor tembok, untuk menanam paku sebagai penyangga gantungan pigura. Tapi saat pigura diangkat dan hendak dipasangkan, kami pun tertawa terbahak bersama-sama. Ternyata, di balik pigura itu, tidak ada bagian yang digunakan untuk mengaitkannya ke paku. Untuk membuat kaitannya itu masih memerlukan waktu lagi karena harus mencari bahannya di toko bangunan. Ya, sudahlah. Kini pigura itu pun kembali teronggok dengan mesra di sebuah sudut rumah. Hanya bedanya, di dalamnya kini sudah ada foto kita berdua. Paling tidak, keberanian untuk memasang foto pernikahan itu sudah sebagai sebuah hadiah yang spesial di ulang tahun perkawinan yang kedua ini. (***)
           

Kado Ulang Tahun Perkawinan ke 1-5


Tradisi memberikan kado perkawinan yang spesifik, berdasarkan angka tahun perkawinan merupakan kebiasaan yang terjadi di jaman abad pertengahan. Tapi sekarang ini tradisi tersebut sudah sedikit mengalami pergeseran. Kalau dulunya kado yang diberikan berupa barang-barang sederhana, untuk masa sekarang ini pilihannya lebih modern lagi.
            Merayakan ulang tahun perkawinan, bisa jadi sarat dengan tanda dan simbol. Tiap tahun berbeda tema. Demikian juga kado, walaupun hanya berupa barang sederhana, tapi semuanya itu penuh dengan makna.

Pertama
Kado tradisional untuk ulang tahun pertama ini adalah barang-barang dari kertas. Mengapa kertas? Kekuatan kertas itu terletak pada koneksi yang erat diantara partikel penyusunnya. Wujud kadonya bisa berupa pigura, alat-alat tulis, kartupos, kalender, berlangganan majalah, jigsaw puzzle, pemberat kertas, buku, art print, sheet music atau peta untuk perjalanan berdua.
Sementara, untuk hadiah yang modern berwujud jam atau timer. Makanya kado yang bisa diberikan adalah hal-hal yang berbau itu. Bisa berbentuk jam tangan, jam dinding, egg timer atau yang lain.

Kedua
          Untuk kado tradisional di ulang tahun yang kedua ini adalah barang-barang yang terbuat dari katun. Katun digambarkan sebuah bahan yang tahan lama, nyaman dan serbaguna. Hal-hal itulah yang diperlukan dalam sebuah perkawinan. Katun juga disimbolkan sebagai sebuah kemakmuran yang besar.
            Wujud barang dari katun yang digunakan sebagai kado antara lain sarung tangan katun, sapu tangan atau bandana, kaos oblong, handuk, tas buku atau tas belanja dari kanvas, satu set taplak meja makan dengan serbet dan alas piring, kaos kaki, bathrobes, sprei dan sarung bantal, atau rope hammock.
            Sementara untuk hadiah yang lebih modern, adalah barang-barang yang berasal dari Cina. Misalnya saja keramik, atau piring cina. Mengapa Cina? Sebagian orang melihat bahwa cinta itu elegan dan cantik. Dan rupanya dua keunggulan itu ditemui dalam bangsa Cina.

Ketiga
            Di ulang tahun ketiga, tema kado tradisional adalah yang berbahan dasar kulit. Disimbolkan dengan kulit, karena bahan ini tahan lama, hangat, kuat, fleksibel dan punya daya kekenyalan tinggi. Sekiranya harapan dan kualitas pernikahan seperti itulah yang diinginkan.
            Barang-barang yang bisa diberikan adalah yang terbuat dari kulit. Bisa berupa sarung tangan kulit, ikat pinggang kulit, selop atau sandal kulit, album foto dari kulit, tas tangan, tas buku, dompet, jaket kulit, topi. Dan masih banyak lagi alternatif barang-barang yang terbuat dari kulit.
            Untuk kado yang lebih modern adalah kristal, yang digambarkan kecantikannya melalui pendaran cahaya di semua permukaannya. Dengan begitu diharapkan pasangan yang sudah menikah bisa terlihat saling menghidupkan.

Keempat
            Sepertinya di ulang tahun yang keempat ini, hadiah yang diberikan bisa jadi paling gampang dicari, yaitu bunga. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan barang-barang lain yang masih ada hubungannya dengan bunga juga bisa diberikan sebagai kado. Misalnya saja buku tentang bunga, rangkaian bunga, bibit bunga, peralatan berkebun dan lain-lain.
            Bunga mewakili hubungan yang telah terjalin diantara pasangan di usia perkawinan yang keempat ini
            Sedangkan peralatan, bisa peralatan apa saja, digunakan kaum modern untuk menandai ulang tahun yang keempat ini.

Kelima
             Ulang tahun kelima dilambangkan dengan kayu, yang melambangkan kekuatan dan keawetan. Tentu saja harapannya di ulang tahun yang kelima ini, ikatan perkawinan diantara pasangan akan semakin kuat. Kado tradisional yang bisa diberikan adalah barang-barang dari kayu.
Sedangkan untuk kado modern, lebih mengarah kepada benda-benda yang berbahan perak. Disini perak melambangkan hubungan kedua pribadi, yang telah membuahkan hasil sebuah keluarga, dengan hadirnya anak-anak tentunya. Dan tentang bagaimana kemauan untuk berbagi diantara pasangan. (***) 



Oleh-oleh dari Papua



“Mbak, aku mau pulang ke Malang nih. Kamu minta oleh-oleh apa?” Begitu bunyi pesan singkat yang masuk ke telepon genggam saya. Pesan itu berasal dari adik, seorang dokter, yang sedang bertugas di Papua.
            Pesan itu pun tidak segera saya balas. Karena pikiran saya sedang melayang-layang, membayangkan sesuatu yang umum di Papua, yang lazim juga dibawa untuk buah tangan. Namun sampai lama, yang ada di benak saya hanya koteka, panah dan pinang. Ah, rasanya semua itu tidak ada yang menarik, kecuali tentang koteka (hehehehe…kalau yang ini pasti khas Papua). Akhirnya pesan itu pun tak sempat saya balas.
            Tapi yang jelas, saya menanti-nantikan betul kedatangan adik laki-laki saya ini, Dokter Noegi Akas, yang memang telah sekian tahun lamanya tak bersua. Hingga dua minggu kemudian, ia mengabari lagi kalau sudah mendapatkan tiket penerbangan. Hingga sampai pada waktunya, ia muncul di bandara Juanda saat saya menjemputnya.
            Sesampai di rumah saya, di Surabaya, ia pun segera membongkar bawaannya yang aduhai. Dua buah koper besar dan sebuah kardus yang segede gambreng. Belum lagi tas jinjing berisi laptop serta ransel yang selalu menggantung mesra di pundaknya.
            Yang pertama dibuka adalah kardus besar itu. Di lapisan paling atas terdiri dari lipatan-lipatan koran. Setelah itu kain-kain handuk tebal. Dan dibawahnya lagi barulah tampak bulatan-bulatan kecil sebesar telur puyuh, berwarna ungu kehijauan. Astaganaga, ternyata saya dibawakan oleh-oleh buah matoa.
            Saya pun tersenyum-senyum memandang buah itu. Yang pertama karena takjub, baru pertama kali ini melihat buah matoa, yang konon disebut-sebut sebagai buah asli Papua. Sementara yang kedua, saya penasaran dengan rasanya, dan ingin segera mencobanya. Tapi saya sedikit mengalami kebingungan tentang bagaimana cara makannya.
            Sementara, Noegi sendiri, saat saya mintai referensi tentang bagaimana rasa buah itu, hanya mengangkat pundak dan alisnya. Artinya, dia memang juga belum pernah makan buah itu, walaupun sudah lama bermukim disana. Alamak..
            Dengan mengerahkan segala kemampuan dan keyakinan diri, saya pun mencoba mengambil sebutir buah itu dari dalam kotak. Dengan bantuan pisau, saya gurat kulitnya, yang ternyata agak tebal. Setelah luka guratan itu saya buka, ternyata di dalamnya ada daging putih, mirip rambutan atau kelengkeng. Ada sedikit air juga yang menggenang diantara kulit buah dan dagingnya itu.
            Gigitan pertama kecil saja, kemudian dikecap-kecap. Manis dan enak. Berikutnya, gumpalan agak besar masuk ke mulut, dan akhirnya tandas, menyisakan sebutir kecil biji keras. Dalam hati, saya ingin menanam biji itu, agar bisa melihat bagaimana bentuk sesungguhnya pohon matoa ini.
            Noegi pun kemudian saya interogasi tentang buah yang baru saya tahu itu. Ia lalu bercerita kalau matoa yang dibawanya itu jenis matoa kelapa. Ah, jenis apalagi itu, pikir saya. Buah tersebut baru dibelinya di Jayapura (Noegi sendiri bertugas di Enarotali), sesaat sebelum ia terbang ke Surabaya. Harga per kilonya 70 ribu rupiah. Wah, bukan harga yang murah, batin saya. Tapi memang sebanding dengan rasanya.
            Yah, sayangnya, saya harus puas dengan sekilo matoa dulu (karena ia juga harus membagikannya untuk keluarga yang lain). Padahal maksud hati masih ingin menikmati, karena belum puas dengan sensasi rasanya. Karenanya, tekad untuk menamam biji matoa itu pun terpatri di dalam hati.
            Kalaupun harus menunggu Noegi pulang kembali ke Papua dan berharap membawa matoa lagi, layaknya mimpi di siang hari. Karena ia masih harus menyelesaikan dulu program dokter spesialisnya di Malang kurang lebih hingga lima tahun mendatang. Tapi kalau menanam sendiri biji matoa itu, apakah lima tahun juga sudah menghasilkan buah? Ah, sudahlah. Yang penting saya sudah pernah merasakan sensasi buah matoa yang aduhai itu.(***)

Buah Matoa

Buah matoa, atau dalam nama latinnya disebut Pometia pinnata, merupakan buah khas asli Papua. Pohon matoa tergolong pohon besar dan tumbuh tinggi. Rata-rata mempunyai ketinggian hingga 18 meter, dengan diameter batang pohon maksimal mencapai 100 cm. Dengan begitu, kayunya bisa dimanfaatkan untuk mebel atau kusen–kusen rumah.

Pohon ini umumnya berbuah setahun sekali. Berbunga pada bulan Juli-Oktober, dan mencapai puncak panen pada bulan Desember. Buahnya berbentuk bulat melonjong seukuran telur puyuh atau buah pinang (keluarga Palem), dengan panjang 1,5-5 cm dan berdiameter 1-3 cm. Kulitnya licin berwarna coklat kehitaman bila masak. Tapi kalau masih muda berwarna kuning kehijauan (ada juga yang menyebut hijau-kekuningan). Kulit ari putih bening melekat pada biji, manis dan harum. Matoa sendiri mempunyai rasa manis, gabungan antara rasa leci, rambutan dan kelengkeng.
 Penyebaran buah matoa di Papua hampir terdapat di seluruh wilayah dataran rendah hingga ketinggian ± 1200 m dpl. Tumbuh baik pada daerah yang kondisi tanahnya kering (tidak tergenang) dengan lapisan tanah yang tebal. Iklim yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang baik adalah iklim dengan curah hujan yang tinggi (>1200 mm/tahun). Di Papua, pohon matoa banyak tumbuh liar di hutan-hutan.

Walaupun dikatakan sebagai buah asli Papua, tapi senyatanya tanaman ini juga bisa ditemukan di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa pada ketinggian hingga sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. Selain di Indonesia pohon matoa juga tumbuh di Malaysia, tentunya juga di Papua New Guinea (belahan timurnya Papua), serta di daerah tropis Australia.

Di Papua dikenal dua jenis matoa, yaitu matoa kelapa dan matoa papeda. Ciri yang membedakan keduanya adalah terdapat pada tekstur buahnya. Pada matoa kelapa daging buahnya kenyal dan ‘nglonthok’ seperti rambutan aceh. Sedangkan matoa papeda, daging buahnya agak lembek seperti bubur. Tapi kedua-duanya rasanya sama-sama manis.

Baik matoa kelapa maupun papeda, dapat dibedakan menjadi tiga jenis. Yaitu matoa merah, kuning dan hijau. Pada matoa merah, selain buahnya berwarna merah, daunnya agak tipis, bentuk daun oval berwarna hijau kekuningan, dengan warna bunga coklat. Sementara untuk matoa yang berwarna kuning, daunnya berwarna hijau muda, daun memanjang dan kurang tebal, dengan bunganya berwarna kuning. Yang terakhir matoa hijau, yang bercirikan daunnya tebal, bentuk daun lebar berwarna hijau tua, dengan bunga berwarna coklat.
Di Papua New Guinea, buah matoa dikenal dengan sebutan taun. Sedangkan di daerah-daerah lainnya, sebutannya juga bermacam-macam, antara lain ganggo, jagir, jampania, kasai, kase, kungkil, lamusi, lanteneng, lengsar, mutoa, pakam, sapen, tawan, tawang dan wusel.

Klasifikasi
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Sapindales
Famili: Sapindaceae
Genus: Pometia
Spesies: Pometia pinnata

Saturday, October 29, 2011

Selamat Datang Nak

(curahan hati seorang bapak)




Selamat datang di duniaku, Nak
Hirup nafas pertamamu dalam-dalam
dan lepaskanlah
Rasakan sakitnya,
dengan tangismu yang lantang
Jangan takut hadapi hidup, Nak
Karena Bapak akan selalu disisimu.
dan Tuhan senantiasa menyertaimu.
Ayo, tempuh harimu
dengan tawamu yang renyah
dan tanpa beban itu..
dan buatlah siapapun bangga
akan hadirmu....

Duh Gusti,
Terima Kasih atas berkat luar biasa ini
Ijinkan kami merawatnya…
Dan menjaganya…
Semoga kami mampu menatanya
Seperti apa yang Kau minta…….

Franciscus Radcliff Bramantyo Akas.
Panjang banget ya namanya. Tapi biar aja. Aku bangga kok menyematkan nama itu padanya. Sebangga harapan yang kusandangkan padanya.
Nama Franciscus, sama persis dengan namaku. Diambil dari nama Santo Franciscus de Sales, yang seorang penulis dan pujangga gereja. Harapanku lewat nama ini, mungkin nanti dia bisa menjadi penulis yang jauh lebih hebat dari Bapaknya yang katrok nggak maju-maju. Ah, tapi itu kan cita-citaku. Biar aja deh, nanti dia mau jadi apa. Biar dia sendiri yang akan menentukan.

Sedang Radcliff, mungkin alasan pengambilan nama ini diawali dari pesan kakeknya, Yohannes Baptista Matrokim dan neneknya, Maria Yosephine Sirep Winarti, yang ingin memberikan sentuhan R pada nama anak cucunya. Maka, jadilah R yang kusandangkan ini, menemani kata Radcliff. Sebuah nama yang merupakan serapan dari budaya barat yang berarti bersungguh-sungguh melakukan sesuatu, cerdas, berjiwa petualang, dapat diandalkan, bertanggung jawa, optimis, jujur, memiliki kemampuan berbicara yang bai, selalu diberkati, rela berkorban, penyayang, memiliki moral yang tinggi. (Duh, panjang banget nak, arti namamu. Semoga nanti pun kamu juga tidak merasa ke ‘berat’ an dengan nama itu).

Sedang Bramantyo, mungkin ini adalah cita-citaku sejak dulu. Ada dua nama yang selalu ingin aku sematkan bila aku nanti punya anak (bila laki-laki). Yaitu Bimo, atau Bramantyo. Untuk dua nama ini, aku nggak akan mencoba mencari tahu apa artinya, karena memang aku suka. Sebenarnya Bimo yang jadi pilihan yang pertama. Tapi karena anaknya teman-temanku juga banyak yang diberi nama Bimo, ya udah, nggak jadi aja. Makanya, Bramantyo yang kujadikan pilihan. Terus kalau seandainya cewek? Ahh nggak ah. Biar aja ini jadi misteri. Toh, anakku yang cewek juga belum lahir. Jadi nanti saja, pilihan nama itu aku sebut.

O ya, tadinya nama Bramantyo sempat juga ditafsirkan memiliki arti amarah. Kata tetangga di Jombang, bisa jadi nama itu jelek. Tapi masa sih? Ternyata nggak juga. Di kamus arti nama bayi disebutkan kalau Bramantyo itu berasal dari bahasa Jawa yang artinya semangat, atau Bram yang juga berasal dari bahasa Indonesia yang artinya gagah perkasa. Nah, tetep keren khan.
Terakhir, nama Akas. Mungkin, kalaupun aku seorang egois, akan berlebihan bila kita juga tak peduli dengan perasaan orang lain, dalam hal ini istriku. Kebetulan, istriku punya nama keluarga yang sudah cukup punya pohon silsilah yang panjang, yaitu marga Akas. Sebenarnya, sebagai pihak perempuan, istriku, Puji Wismaningtyas Akas, juga tak pernah memaksaku untuk menyematkan nama Akas buat anakku ini. Tapi, betapa egoisnya aku, bila masalah patrilinear yang selama ini mengungkung masyarakatku itu aku pegang teguh. Toh, secara urutan silsilah, aku juga tak punya nama keluarga. Jadi rasanya nggak berlebihan dong bila aku pun juga mengalah dan mempersilahkan anakku untuk menyandang nama Akas juga di dalam namanya. Siapa tahu, hal itu juga yang akan mempertemukannya dengan saudara-saudaranya kelak.

Bram lahir tanggal 16 Januari 2011, jam 02.20 pagi, dengan berat 2,85 kg dan panjang 47 cm.

Sumpah Pemuda


Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku
Bertanah air satu, Tanah Air Indonesia

Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku
Berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia

Kami Putra dan Putri Indonesia,
Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia

Thursday, October 21, 2010

Kisah Asmara Seorang Perjaka Cilik


Bram, begitu nama perjaka kecil itu dipanggil. Sejak kecil memang tidak pernah berinteraksi dengan kawan perempuan. Itu lebih karena sekolahnya yang memang hanya khusus menerima murid laki-laki. Praktis, mulai umur enam hingga 12 tahun, dia tidak pernah punya kawan akrab perempuan. Interaksi dengan perempuan hanya terbatas dengan ibu, kakak dan adiknya.
Ketika menginjak SMP, Bram mulai masuk ke sekolah yang muridnya campur. Rupanya ini membawa sensasi dan pengalaman baru baginya.Anggapan bahwa perempuan itu mahluk yang lemah dan selalu kalah, seperti yang dipercayainya selama ini, perlahan-lahan terkikis. Justru sebaliknya, perempuan adalah pribadi yang menawan. Itu karena pikirannya telah terperangkap pesona seorang gadis cilik kawan sekelasnya. Namanya Alina.
Gadis berdarah Makassar itulah yang membuat dunianya menjadi indah, jungkir balik dan berbunga-bunga. Ia merasakan debar-debar tak karuan saat berdekatan dengan Alina. Kalaupun tidak bisa mendekat, melihat sosoknya dari jauh pun, sudah bikin hati tenteram. Panas dingin pun dirasakan di sekujur tubuh hanya dengan tangan yang bersenggolan. Dan malam-malamnya pun dihabiskan dengan mengamat-amati sebuah pas foto hitam putih ukuran 3x4 yang pernah diberikan Alina kepadanya.   
Dalam pikiran perjaka kecil itu, Alina adalah sosok perempuan yang sempurna. Pintar, cantik, berkulit putih, dan pribadinya menyenangkan. Hanya saja sayang, rambutnya ikal. Dalam usia bocah itu pemahamannya tentang seorang perempuan masih polos sekali. Perasaan suka pada perempuan belumlah terkotori oleh pikiran-pikiran lainnya.
Sayangnya, kekaguman yang luar biasa pada Alina itu hanya dipendam dalam hati. Hanya sebatas pengagum rahasia. Bram tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan rasa sukanya pada Alina melalui kata-kata. Tapi untuk memberikan sinyal-sinyal itu, ia pun tak keberatan melakukan sesuatu yang kadang sedikit konyol demi menarik perhatian gadis pujaannya itu.
Saking inginnya memberikan sesuatu yang spesial kepada Alina, Bram pun diam-diam mengambil sebuah botol yang tersimpan di lemari milik bapaknya, sebelum berangkat ke sekolah. Botol kecil yang penuh berisi cairan itu baunya sungguh harum. Ia yakin sekali kalau itu adalah parfum. Menurut pemikiran bocah polos itu, gadis pujaannya tentu akan sangat senang bila dihadiahi wangi-wangian tersebut.
Saat tiba waktu istirahat di sekolah, Bram pun mendekati Alina dan menggandengnya ke belakang kelas, ke tempat parkiran sepeda siswa. Degup jantungnya seolah tak bisa dikendalikan saat Alina menuruti maksudnya. Dengan kata-kata yang tak beraturan Bram pun menyampaikan niatnya. ”Aku hanya ingin memberikan ini kepada kamu,” katanya seraya menyerahkan sebuah botol kecil ke tangan Alina. Hanya itu kalimat singkat yang bisa keluar dari mulutnya. Karena setelah itu, ia pun berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Alina. Kalaupun tidak bisa mengungkapkan perasaan dan isi hati yang sesungguhnya, dengan memberikan botol kecil tersebut, maksudnya seolah sudah terwakili.
Botol pemberian Bram itu pun oleh Alina disimpan di laci bangkunya. Ketika pelajaran sedang berlangsung serius, tiba-tiba keheningan kelas dipecahkan oleh suara botol jatuh dan disusul dengan bau wangi yang menyebar memenuhi ruangan. Sang guru, Pak Ranus, pun turun menengahi keributan yang sedang terjadi. ”Siapa yang membawa biang wangi untuk membuat sabun ini ya?” tanya guru yang dikenal super disiplin itu. Mendengar ucapan Pak Ranus itu, raut muka Bram pun berubah menjadi merah padam. Ternyata yang disangkanya parfum itu adalah wangi-wangian yang digunakan untuk campuran pembuatan sabun.
Sejak peristiwa itu, Bram seolah tidak berani lagi dekat-dekat dengan Alina. Kalaupun mereka tetap berkawan satu kelas, tapi ia sudah tidak punya nyali untuk lebih mendekatinya lagi. Perasaan sukanya semakin dipendam, walaupun Alina masih membuka diri terhadapnya.
Dan perasaan itu masih terbawa hingga mereka pisah sekolah. Menginjak SMA, mereka meneruskan sekolah pada pilihan masing-masing. Kalau pulang sekolah, Bram rela berjalan kaki ke halte bis kota yang lebih jauh, demi bisa naik jalur bis yang lewat di depan sekolah Alina. Dari atas bis kota yang berjalan itulah, Bram sudah merasa puas bisa memandangi sosok Alina yang berdiri di tepi jalan menunggu bis berikutnya. Ah...Alina...Alina...dimana engkau sekarang?

Tuesday, July 20, 2010

Ternyata Itu Namanya Post Wedding Syndrome



Saya sempat senyum-senyum sendiri ketika membaca sebuah artikel yang saya dapatkan dari internet. Judulnya post wedding syndrome. Isinya, bla..bla..bla..bla…. Hohohohoho… namanya bagus juga ya, tapi efeknya itu bikin saya jadi nangis bombay.
Saya masih ingat betul. Tiga hari setelah acara pemberkatan dan resepsi perkawinan di Jombang, kami pun langsung kembali ke Surabaya. Selain harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah tidak bisa ditunda lagi, kini dengan status sebagai istri, saya harus mengikuti suami tinggal di Surabaya. Maka jadilah sejak saat itu, saya memulai hidup berdua untuk membangun sebuah keluarga. Tinggal serumah, mengurus keperluan rumah, serta urusan rumah tangga lainnya yang tak pernah terpikirkan waktu saya masih lajang.  
Kalau dihitung jarak sih, tempat kami tinggal dengan tempat tinggal orangtua di Jombang memang tidak jauh. Walaupun berbeda kota, tapi masih bisa ditempuh hanya dalam waktu satu setengah jam. Sebulan sesudah kami menikah, hampir tiap minggu kami masih menyempatkan diri untuk pulang ke rumah orangtua saya. Mereka kini hanya tinggal berdua, karena adik-adik yang lain tinggal bertebaran di lain kota, bahkan di luar pulau Jawa.
            Namun seiring dengan perjalanan waktu dan semakin direpotkan oleh urusan kerja dan lainnya, maka ritual pulang ke rumah orangtua di setiap akhir pekan tidak bisa berlangsung mulus. Dari yang seminggu sekali, berubah menjadi dua minggu sekali, dan akhirnya belum tentu sebulan sekali.
            Saya juga masih ingat betul, ketika itu minggu ketiga setelah kami menikah. Seperti biasa, di akhir pekan itu kami pulang ke Jombang. Jumat malam biasanya kami sudah sampai di Jombang, dan baru Minggu sore atau Senin pagi kami kembali ke Surabaya. Kebetulan Minggu sore itu, kami harus pulang karena Senin pagi besok, suami saya ada janjian ketemu dengan narasumber yang hendak diwawancarainya.
            Sebetulnya, hati saya belum niat betul untuk pulang saat itu. Karena dipaksa oleh keadaan, maka mau tidak mau saya harus menjalaninya. Sungguh suatu hal yang tidak mungkin untuk membiarkan suami pulang sendiri ke Surabaya tanpa saya temani. Maka jadilah, ketika berjalan menuju ke kendaraan, dalam hati saya menangis. Apalagi saat melihat bapak dan ibu yang mengantarkan kami. Sementara kendaraan mulai bergerak meninggalkan halaman rumah, air mata ini tidak mau diredam. Tapi saya harus bisa menyembunyikannya, supaya bapak dan ibu tidak melihat kegundahan saya.
            Dalam hati, saya sedikit mengalami kebingungan. Kejadian seperti ini setidaknya sudah berkali-kali saya alami. Ketika belum menikah, saya sudah biasa hidup mandiri di Malang bersama adik, tanpa kehadiran orangtua setiap hari. Sementara itu, karena tuntutan kerja juga, saya mempunyai mobilitas tinggi. Harus berlompatan dari satu kota ke kota yang lain. Bahkan jadwal pulang ke rumah pun tidak bisa ditetapkan secara pasti.
            Tapi sekarang, yang saya rasakan sungguh sangat lain. Justru setelah menikah itu, keinginan untuk pulang ke rumah orangtua dan keinginan untuk dimanjakan bapak dan ibu itu selalu ada. Bagaimana tidak bahagia. Karena kalau pulang ke rumah orangtua, saya tidak usah memikirkan harus masak apa hari ini. Mau makan tinggal angkat piring. Paling-paling tugas saya hanya membantu ibu, tapi tidak mengambil alih semua urusan rumah tangga itu.
            Dan ada lagi satu hal yang hilang dari saya, yaitu kelegaan ketika jadwal deadline sudah kelar. Setelah berhari-hari berkutat di kantor, bahkan harus menginap berhari-hari pula, kelarnya deadline adalah waktu yang saya nantikan. Biasanya setelah itu, saya langsung mengemasi barang saya dan pulang ke Malang. Seolah sebuah beban sudah lepas dari pundak saya. Kepala terasa enteng dan saya bisa menghabiskan waktu di kota Malang yang dingin. 
            Tapi sekarang, saya tidak bisa lagi melakukannya. Selesai deadline pekerjaan, saya tetap di Surabaya, kembali lagi ke rumah seperti biasa, bertemu dengan suami, dan melakoni rutinitas sebagai ratu rumah tangga. Tidak ada lagi yang namanya hang out bersama sahabat semasa kuliah di Malang, atau menghabiskan waktu untuk tidur sepanjang hari, atau sight seeing di seantero kota sampai kaki pegal.
            Setelah saya baca artikel yang saya temukan di internet itulah, saya baru sadar. Hohoho, rupanya saya sedang terjangkit sebuah penyakit yang namanya post wedding syndrome. Ketika acara pesta dan kemeriahan usai, kebahagiaan yang manis itu tinggal kenangan. Kini saya harus masuk dalam kehidupan nyata, hidup bersama seorang bekas pacar, dengan segala konsekuensinya untuk membangun sebuah keluarga baru. Ah, saya baru tahu, ternyata tangisan bombay itu namanya post wedding syndrome.....    
           

Wednesday, April 21, 2010

Ibu Kita Kartini


Ibu kita Kartini
Puteri sejati
Puteri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia