(curahan hati seorang bapak)
Selamat datang di duniaku, Nak
Hirup nafas pertamamu dalam-dalam
dan lepaskanlah
Rasakan sakitnya,
dengan tangismu yang lantang
Jangan takut hadapi hidup, Nak
Karena Bapak akan selalu disisimu.
dan Tuhan senantiasa menyertaimu.
Ayo, tempuh harimu
dengan tawamu yang renyah
dan tanpa beban itu..
dan buatlah siapapun bangga
akan hadirmu....
Duh Gusti,
Terima Kasih atas berkat luar biasa ini
Ijinkan kami merawatnya…
Dan menjaganya…
Semoga kami mampu menatanya
Seperti apa yang Kau minta…….
Franciscus Radcliff Bramantyo Akas.
Panjang banget ya namanya. Tapi biar aja. Aku bangga kok menyematkan nama itu padanya. Sebangga harapan yang kusandangkan padanya.
Nama Franciscus, sama persis dengan namaku. Diambil dari nama Santo Franciscus de Sales, yang seorang penulis dan pujangga gereja. Harapanku lewat nama ini, mungkin nanti dia bisa menjadi penulis yang jauh lebih hebat dari Bapaknya yang katrok nggak maju-maju. Ah, tapi itu kan cita-citaku. Biar aja deh, nanti dia mau jadi apa. Biar dia sendiri yang akan menentukan.
Sedang Radcliff, mungkin alasan pengambilan nama ini diawali dari pesan kakeknya, Yohannes Baptista Matrokim dan neneknya, Maria Yosephine Sirep Winarti, yang ingin memberikan sentuhan R pada nama anak cucunya. Maka, jadilah R yang kusandangkan ini, menemani kata Radcliff. Sebuah nama yang merupakan serapan dari budaya barat yang berarti bersungguh-sungguh melakukan sesuatu, cerdas, berjiwa petualang, dapat diandalkan, bertanggung jawa, optimis, jujur, memiliki kemampuan berbicara yang bai, selalu diberkati, rela berkorban, penyayang, memiliki moral yang tinggi. (Duh, panjang banget nak, arti namamu. Semoga nanti pun kamu juga tidak merasa ke ‘berat’ an dengan nama itu).
Sedang Bramantyo, mungkin ini adalah cita-citaku sejak dulu. Ada dua nama yang selalu ingin aku sematkan bila aku nanti punya anak (bila laki-laki). Yaitu Bimo, atau Bramantyo. Untuk dua nama ini, aku nggak akan mencoba mencari tahu apa artinya, karena memang aku suka. Sebenarnya Bimo yang jadi pilihan yang pertama. Tapi karena anaknya teman-temanku juga banyak yang diberi nama Bimo, ya udah, nggak jadi aja. Makanya, Bramantyo yang kujadikan pilihan. Terus kalau seandainya cewek? Ahh nggak ah. Biar aja ini jadi misteri. Toh, anakku yang cewek juga belum lahir. Jadi nanti saja, pilihan nama itu aku sebut.
O ya, tadinya nama Bramantyo sempat juga ditafsirkan memiliki arti amarah. Kata tetangga di Jombang, bisa jadi nama itu jelek. Tapi masa sih? Ternyata nggak juga. Di kamus arti nama bayi disebutkan kalau Bramantyo itu berasal dari bahasa Jawa yang artinya semangat, atau Bram yang juga berasal dari bahasa Indonesia yang artinya gagah perkasa. Nah, tetep keren khan.
Terakhir, nama Akas. Mungkin, kalaupun aku seorang egois, akan berlebihan bila kita juga tak peduli dengan perasaan orang lain, dalam hal ini istriku. Kebetulan, istriku punya nama keluarga yang sudah cukup punya pohon silsilah yang panjang, yaitu marga Akas. Sebenarnya, sebagai pihak perempuan, istriku, Puji Wismaningtyas Akas, juga tak pernah memaksaku untuk menyematkan nama Akas buat anakku ini. Tapi, betapa egoisnya aku, bila masalah patrilinear yang selama ini mengungkung masyarakatku itu aku pegang teguh. Toh, secara urutan silsilah, aku juga tak punya nama keluarga. Jadi rasanya nggak berlebihan dong bila aku pun juga mengalah dan mempersilahkan anakku untuk menyandang nama Akas juga di dalam namanya. Siapa tahu, hal itu juga yang akan mempertemukannya dengan saudara-saudaranya kelak.
Bram lahir tanggal 16 Januari 2011, jam 02.20 pagi, dengan berat 2,85 kg dan panjang 47 cm.
Saturday, October 29, 2011
Sumpah Pemuda
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku
Bertanah air satu, Tanah Air Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku
Berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia,
Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia
Thursday, October 21, 2010
Kisah Asmara Seorang Perjaka Cilik
Bram, begitu nama perjaka kecil itu dipanggil. Sejak kecil memang tidak pernah berinteraksi dengan kawan perempuan. Itu lebih karena sekolahnya yang memang hanya khusus menerima murid laki-laki. Praktis, mulai umur enam hingga 12 tahun, dia tidak pernah punya kawan akrab perempuan. Interaksi dengan perempuan hanya terbatas dengan ibu, kakak dan adiknya.
Ketika menginjak SMP, Bram mulai masuk ke sekolah yang muridnya campur. Rupanya ini membawa sensasi dan pengalaman baru baginya.Anggapan bahwa perempuan itu mahluk yang lemah dan selalu kalah, seperti yang dipercayainya selama ini, perlahan-lahan terkikis. Justru sebaliknya, perempuan adalah pribadi yang menawan. Itu karena pikirannya telah terperangkap pesona seorang gadis cilik kawan sekelasnya. Namanya Alina.
Gadis berdarah Makassar itulah yang membuat dunianya menjadi indah, jungkir balik dan berbunga-bunga. Ia merasakan debar-debar tak karuan saat berdekatan dengan Alina. Kalaupun tidak bisa mendekat, melihat sosoknya dari jauh pun, sudah bikin hati tenteram. Panas dingin pun dirasakan di sekujur tubuh hanya dengan tangan yang bersenggolan. Dan malam-malamnya pun dihabiskan dengan mengamat-amati sebuah pas foto hitam putih ukuran 3x4 yang pernah diberikan Alina kepadanya.
Dalam pikiran perjaka kecil itu, Alina adalah sosok perempuan yang sempurna. Pintar, cantik, berkulit putih, dan pribadinya menyenangkan. Hanya saja sayang, rambutnya ikal. Dalam usia bocah itu pemahamannya tentang seorang perempuan masih polos sekali. Perasaan suka pada perempuan belumlah terkotori oleh pikiran-pikiran lainnya.
Sayangnya, kekaguman yang luar biasa pada Alina itu hanya dipendam dalam hati. Hanya sebatas pengagum rahasia. Bram tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan rasa sukanya pada Alina melalui kata-kata. Tapi untuk memberikan sinyal-sinyal itu, ia pun tak keberatan melakukan sesuatu yang kadang sedikit konyol demi menarik perhatian gadis pujaannya itu.
Saking inginnya memberikan sesuatu yang spesial kepada Alina, Bram pun diam-diam mengambil sebuah botol yang tersimpan di lemari milik bapaknya, sebelum berangkat ke sekolah. Botol kecil yang penuh berisi cairan itu baunya sungguh harum. Ia yakin sekali kalau itu adalah parfum. Menurut pemikiran bocah polos itu, gadis pujaannya tentu akan sangat senang bila dihadiahi wangi-wangian tersebut.
Saat tiba waktu istirahat di sekolah, Bram pun mendekati Alina dan menggandengnya ke belakang kelas, ke tempat parkiran sepeda siswa. Degup jantungnya seolah tak bisa dikendalikan saat Alina menuruti maksudnya. Dengan kata-kata yang tak beraturan Bram pun menyampaikan niatnya. ”Aku hanya ingin memberikan ini kepada kamu,” katanya seraya menyerahkan sebuah botol kecil ke tangan Alina. Hanya itu kalimat singkat yang bisa keluar dari mulutnya. Karena setelah itu, ia pun berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Alina. Kalaupun tidak bisa mengungkapkan perasaan dan isi hati yang sesungguhnya, dengan memberikan botol kecil tersebut, maksudnya seolah sudah terwakili.
Botol pemberian Bram itu pun oleh Alina disimpan di laci bangkunya. Ketika pelajaran sedang berlangsung serius, tiba-tiba keheningan kelas dipecahkan oleh suara botol jatuh dan disusul dengan bau wangi yang menyebar memenuhi ruangan. Sang guru, Pak Ranus, pun turun menengahi keributan yang sedang terjadi. ”Siapa yang membawa biang wangi untuk membuat sabun ini ya?” tanya guru yang dikenal super disiplin itu. Mendengar ucapan Pak Ranus itu, raut muka Bram pun berubah menjadi merah padam. Ternyata yang disangkanya parfum itu adalah wangi-wangian yang digunakan untuk campuran pembuatan sabun.
Sejak peristiwa itu, Bram seolah tidak berani lagi dekat-dekat dengan Alina. Kalaupun mereka tetap berkawan satu kelas, tapi ia sudah tidak punya nyali untuk lebih mendekatinya lagi. Perasaan sukanya semakin dipendam, walaupun Alina masih membuka diri terhadapnya.
Dan perasaan itu masih terbawa hingga mereka pisah sekolah. Menginjak SMA, mereka meneruskan sekolah pada pilihan masing-masing. Kalau pulang sekolah, Bram rela berjalan kaki ke halte bis kota yang lebih jauh, demi bisa naik jalur bis yang lewat di depan sekolah Alina. Dari atas bis kota yang berjalan itulah, Bram sudah merasa puas bisa memandangi sosok Alina yang berdiri di tepi jalan menunggu bis berikutnya. Ah...Alina...Alina...dimana engkau sekarang?
Tuesday, July 20, 2010
Ternyata Itu Namanya Post Wedding Syndrome
Saya sempat senyum-senyum sendiri ketika membaca sebuah artikel yang saya dapatkan dari internet. Judulnya post wedding syndrome. Isinya, bla..bla..bla..bla…. Hohohohoho… namanya bagus juga ya, tapi efeknya itu bikin saya jadi nangis
Saya masih ingat betul. Tiga hari setelah acara pemberkatan dan resepsi perkawinan di Jombang, kami pun langsung kembali ke Surabaya . Selain harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah tidak bisa ditunda lagi, kini dengan status sebagai istri, saya harus mengikuti suami tinggal di Surabaya . Maka jadilah sejak saat itu, saya memulai hidup berdua untuk membangun sebuah keluarga. Tinggal serumah, mengurus keperluan rumah, serta urusan rumah tangga lainnya yang tak pernah terpikirkan waktu saya masih lajang.
Kalau dihitung jarak sih, tempat kami tinggal dengan tempat tinggal orangtua di Jombang memang tidak jauh. Walaupun berbeda kota, tapi masih bisa ditempuh hanya dalam waktu satu setengah jam. Sebulan sesudah kami menikah, hampir tiap minggu kami masih menyempatkan diri untuk pulang ke rumah orangtua saya. Mereka kini hanya tinggal berdua, karena adik-adik yang lain tinggal bertebaran di lain kota, bahkan di luar pulau Jawa.
Namun seiring dengan perjalanan waktu dan semakin direpotkan oleh urusan kerja dan lainnya, maka ritual pulang ke rumah orangtua di setiap akhir pekan tidak bisa berlangsung mulus. Dari yang seminggu sekali, berubah menjadi dua minggu sekali, dan akhirnya belum tentu sebulan sekali.
Saya juga masih ingat betul, ketika itu minggu ketiga setelah kami menikah. Seperti biasa, di akhir pekan itu kami pulang ke Jombang. Jumat malam biasanya kami sudah sampai di Jombang, dan baru Minggu sore atau Senin pagi kami kembali ke Surabaya. Kebetulan Minggu sore itu, kami harus pulang karena Senin pagi besok, suami saya ada janjian ketemu dengan narasumber yang hendak diwawancarainya.
Sebetulnya, hati saya belum niat betul untuk pulang saat itu. Karena dipaksa oleh keadaan, maka mau tidak mau saya harus menjalaninya. Sungguh suatu hal yang tidak mungkin untuk membiarkan suami pulang sendiri ke Surabaya tanpa saya temani. Maka jadilah, ketika berjalan menuju ke kendaraan, dalam hati saya menangis. Apalagi saat melihat bapak dan ibu yang mengantarkan kami. Sementara kendaraan mulai bergerak meninggalkan halaman rumah, air mata ini tidak mau diredam. Tapi saya harus bisa menyembunyikannya, supaya bapak dan ibu tidak melihat kegundahan saya.
Dalam hati, saya sedikit mengalami kebingungan. Kejadian seperti ini setidaknya sudah berkali-kali saya alami. Ketika belum menikah, saya sudah biasa hidup mandiri di Malang bersama adik, tanpa kehadiran orangtua setiap hari. Sementara itu, karena tuntutan kerja juga, saya mempunyai mobilitas tinggi. Harus berlompatan dari satu kota ke kota yang lain. Bahkan jadwal pulang ke rumah pun tidak bisa ditetapkan secara pasti.
Tapi sekarang, yang saya rasakan sungguh sangat lain. Justru setelah menikah itu, keinginan untuk pulang ke rumah orangtua dan keinginan untuk dimanjakan bapak dan ibu itu selalu ada. Bagaimana tidak bahagia. Karena kalau pulang ke rumah orangtua, saya tidak usah memikirkan harus masak apa hari ini. Mau makan tinggal angkat piring. Paling-paling tugas saya hanya membantu ibu, tapi tidak mengambil alih semua urusan rumah tangga itu.
Dan ada lagi satu hal yang hilang dari saya, yaitu kelegaan ketika jadwal deadline sudah kelar. Setelah berhari-hari berkutat di kantor, bahkan harus menginap berhari-hari pula, kelarnya deadline adalah waktu yang saya nantikan. Biasanya setelah itu, saya langsung mengemasi barang saya dan pulang ke Malang. Seolah sebuah beban sudah lepas dari pundak saya. Kepala terasa enteng dan saya bisa menghabiskan waktu di kota Malang yang dingin.
Tapi sekarang, saya tidak bisa lagi melakukannya. Selesai deadline pekerjaan, saya tetap di Surabaya, kembali lagi ke rumah seperti biasa, bertemu dengan suami, dan melakoni rutinitas sebagai ratu rumah tangga. Tidak ada lagi yang namanya hang out bersama sahabat semasa kuliah di Malang, atau menghabiskan waktu untuk tidur sepanjang hari, atau sight seeing di seantero kota sampai kaki pegal.
Setelah saya baca artikel yang saya temukan di internet itulah, saya baru sadar. Hohoho, rupanya saya sedang terjangkit sebuah penyakit yang namanya post wedding syndrome. Ketika acara pesta dan kemeriahan usai, kebahagiaan yang manis itu tinggal kenangan. Kini saya harus masuk dalam kehidupan nyata, hidup bersama seorang bekas pacar, dengan segala konsekuensinya untuk membangun sebuah keluarga baru. Ah, saya baru tahu, ternyata tangisan bombay itu namanya post wedding syndrome.....
Wednesday, April 21, 2010
Ibu Kita Kartini
Wednesday, March 24, 2010
Kesetiaan Sepasang Kekasih
”Semoga rukun selalu ya, seperti mimi lan mintuno.” Begitulah pesan yang banyak kami terima dari para undangan, ketika kami melangsungkan resepsi perkawinan beberapa waktu lalu. Mungkin inti dari harapan itu adalah agar kehidupan perkawinan kami rukun dan bisa selalu terus bersama, dan hanya maut yang dapat memisahkan kami. Walah....romantis sekali sepertinya...
Terus terang, sebutan mimi dan mintuno sudah lama akrab di telinga saya. Gambar-gambarnya pun sering saya lihat. Dari melihat gambar-gambar itu, maka sosok mimi dan mintuno menurut gambaran saya adalah sebentuk hewan laut yang punggungnya seperti tempurung kelapa, dan mempunyai sebuah cula yang tajam. Untuk mengidentifikasi mahluk itu, belumlah saya mengerti dengan sungguh.
Barulah ketika bermain-main di tepi pantai, saya menemukan sosok hewan yang juga disebut-sebut termasuk sebagai hewan tertua yang ada di bumi ini. Sayangnya mahluk yang saya temukan itu hanya satu. Saya juga tidak tahu, apakah itu mimi ataukah mintunonya. Begitu juga dengan kondisinya yang sudah tidak lagi bernyawa. Ia saya temukan di tepi pantai dalam kondisi terbalik dan warnanya yang sudah menjadi coklat tua.
Hewan itu pun saya ambil dan bolak-balik, untuk bisa melihatnya lebih detil. Duri panjang keras yang menyerupai cula seperti dugaan saya itu, ternyata malah ekornya. Kakinya seperti hewan arthropoda lainnya. Tubuhnya ditutupi oleh cangkang keras yang melingkupi seluruh anggota badannya. Sehingga kalau berjalan, kaki-kakinya tidak kelihatan bergerak. Ketika berjalan di pasir pantai, hanya akan meninggalkan jejak-jejaknya. Kalau saya bisa menggambarkannya, seperti tempurung kelapa tengkurap tapi bisa berpindah tempat.
Dalam kehidupannya, mimi selalu berpasangan dengan mintuno, yaitu sepasang jantan dan betina. Itu sudah rumusnya, dan tidak bisa disangkal. Seekor jantan itu selalu setia mengikuti kemana saja sang betina bergerak. Itu pula sebabnya, perumpamaan untuk menggambarkan kerukunan dan kesetiaan sepasang kekasih selalu diibaratkan seperti mimi dan mintuno. Karena kemanapun pergi, mimi dan mintuno selalu bersama-sama. Bahkan ada yang mengatakan, kalau salah satu dari mereka mati, maka yang lainnya akan mengikutinya mati juga. Betulkah begitu?
Mimi dan Mintuno
Dalam Bahasa Inggris organisme ini disebut sebagai horseshoe crab atau king crab. Kalau di Jawa, disebut sebagai mimi dan mintuno, untuk membedakan antara yang jantan dan betina. Ia juga disebut sebagai fosil hidup. Itu karena keberadaannya di bumi telah diketahui berjuta-juta tahun yang lalu. Walaupun disebut sebagai crab (kepiting), tapi sesungguhnya hewan ini bukanlah masuk ke jenis itu, namun lebih kepada family arachnidae.
Ada empat macam species yang ditemukan di muka bumi ini. Limulus polyphemus ditemukan di sepanjang barat lautan Atlantik dan pantai Gulf, mulai dari Maine hingga Yucatan Peninsula, dengan Teluk Delaware sebagai sentral populasinya. Sedangkan Tachypleus gigas dan Carcinoscorpius rotundicauda ditemukan di wilayah Indo Pasifik, mulai dari Teluk Bengal hingga Indonesia dan Kalimantan. Sementara yang berada antara Philipina hingga di barat daya lautan Jepang, terdapat species Tachypleus tridentatus.
Ukuran organisme yang jantan lebih kecil daripada yang betina. Panjang tubuhnya kira-kira 51 cm (20 inchi). Ketika masih hidup berwarna coklat kehijauan. Tetapi setelah mati berubah menjadi coklat tua. Hewan ini bernafas dengan insang, yang letaknya di ruas paling akhir abdomen. Mulutnya terletak di tengah-tengah badannya. Sementara matanya berada di bagian atas sebelah depan cangkangnya.
Jika hewan ini terbalik, maka ia akan menggunakan ekornya yang kuat untuk tumpuannya berbalik. Kalau ia tidak bisa segera berbalik, maka akan mati. Bila ada bagian tubuhnya yang putus, bisa tumbuh lagi seperti semula. Ia juga mempunyai sistem kekebalan tubuh yang menakjubkan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Universitas Delaware, Amerika Serikat, cairan yang diambil dari organisme ini bisa untuk membekukan darah. Untuk mengambil cairan tersebut, ilmuwan tidak perlu melukai mereka, dan dengan segera mengembalikannya ke dalam air.
Mimi dan mintuno ini menghabiskan waktu hidupnya di perairan yang mempunyai salinitas tinggi, dan banyak ditemukan di perairan dangkal atau teluk. Tempat hidupnya kebanyakan di wilayah yang banyak terdapat endapan lumpur, karena disitulah bisa dengan mudah ditemukan makanannya, yaitu jenis cacing dan kerang-kerangan (remis dan kijing).
Jika perairan tempat tinggalnya itu hangat sepanjang tahun, maka ia juga akan aktif sepanjang tahun. Tapi jika perairan suhunya menurun ketika musim dingin, maka ia akan mengubur tubuhnya di dalam lumpur, menunggu hingga musim semi tiba.
Horseshoe crab dewasa akan turun ke perairan yang lebih dalam ketika masanya berkembang biak. Terjadinya perkawinan dan pembuahan paling banyak ketika malam hari saat bulan purnama. Biasanya jantan dulu yang tiba di pantai. Ketika sang betina menyusul, sang jantan kemudian melepaskan hormon pheromon ke dalam air, untuk menarik perhatian pasangannya.
Betina bisa mengeluarkan 2000-4000 telur dalam sekali semprot. Telur-telur itu ditempatkan di lubang-lubang. Dalam sekali masa reproduksi, betina bisa menyimpan telur dalam 5-7 lubang. Dengan begitu, kurang lebih 20.000 telur dikeluarkan dalam sekali masa reproduksi.
Betina baru bisa menghasilkan telur ketika berumur 10-11 tahun. Sedangkan yang jantan lebih muda, antara 8-9 tahun. Itulah mengapa perkembangan species ini lambat sekali, karena faktor matang telur yang sangat lama.
Saturday, March 13, 2010
Es Krim Tanda Sayang
Coklat dan bunga mawar merah adalah dua benda yang seringkali diidentikkan dengan tanda sayang dan cinta. Itulah mengapa ketika pas hari kasih sayang, atau yang lebih sering disebut dengan Valentine Days, dua benda ini menjadi bahan buruan yang istimewa untuk dihadiahkan kepada sang kekasih.
Tanggal 11 Februari, tiga hari menjelang valentine days, tiba-tiba suami mengajak nongkrong ke sebuah tempat yang sudah lama ingin saya kunjungi tapi belum juga kesampaian. Katanya sebagai hadiah kejutan. Maka jadilah sore itu, setelah menyelesaikan tugas liputan di Gramedia Expo, Surabaya, kami pun mampir ke tempat itu.
Sambil menaiki tiger tua namun yang menjadi kesayangan berdua, perlahan-lahan kami pun menyusuri Jalan Basuki Rahmad, hingga berbelok ke Jalan Pemuda. Sampai di depan Balai Pemuda, kemudian belok kiri, dan sampailah kami di Jalan Yos Sudarso. Ya, tempat itu adalah Zangrandi Ice Cream.
Setelah memarkir motor, kami pun masuk. Wuah, suasananya betul-betul cozy. Karena tahun ini kebetulan Valentine Days jatuhnya bersamaan dengan Hari Raya Imlek, maka tempat itu juga meriah dengan warna merah. Bahkan di tembok terasnya, selain ucapan selamat datang, juga ada kalimat Gong Xi Fa Cai.
Kami pun langsung disambut oleh waitress yang menyodori kami daftar menu. Sengaja tempat duduk yang kami ambil yang di teras depan. Walaupun sebetulnya di dalam juga disediakan beberapa meja dan kursi tempat makan. Meja dan kursi yang berada diteras depan itu terbuat dari rotan, dengan cat kuning gading dan lis merah. Kursinya mirip dengan kursi teras, sehingga jika kita duduk, kita seolah terbenam di dalamnya. Sambil menikmati ice cream yang lezat, kita pun akan semakin nyaman dengan posisi duduk yang seperti itu.
Sambil melihat lalu lalang kendaraan di jalan raya, kami mencoba membolak-balik kartu menu, bingung menentukan jenis es krim apa yang akan dipesan. Akhirnya saya memilih Macedonia rasa mocha, sedangkan suami saya lebih tertarik dengan Chocolate Twinkle. Dia memang tidak bisa lepas dengan segala sesuatu yang berasa coklat. Kalaupun ada bermacam pilihan dan ada coklat diantaranya, bisa dipastikan yang berbau-bau coklat itulah yang akan dipilihnya. Sebagai kudapannya, saya memesan pastel tutup. Sementara lumpia goreng lebih menarik selera suami.
Sebentar kemudian, voila…dua buah gelas es krim sudah terhidang di depan kami. Macedonia mocha, diletakkan di dalam gelas berkaki berukuran kecil. Dibawah gelas itu ada tatakannya, dengan tulisan Zangrandi Ice Cream. Di dalam gelas itu ada satu scope es krim rasa mocha, yang di tengahnya agak cekung. Cekungan itu diisi dengan sebuah cairan agak kekuningan, yang baunya khas dan menyengat, yaitu rhum.
Sementara yang Chocolate Twinkle, dari tampilan luarnya, sepertinya berupa es krim coklat yang dicampur dengan vanila, kemudian diatasnya diberi wafer astor. Kalau rasanya saya tidak begitu bisa menggambarkannya, karena tidak mencicipinya secara pasti. Tapi yang jelas, rasa coklatnyalah yang dominan.
Jika dilihat secara tekstur, es krim di tempat ini memang tidak selembut es krim bikinan pabrik. Tapi bisa jadi, resep rahasia itulah yang tetap menjadikan rasanya luar biasa, walaupun teksturnya agak kasar.
Untuk menghilangkan rasa manis yang melekat di lidah, disediakan pula secangkir kecil air putih. Tapi air yang hanya sebegitu tidak bisa menolong untuk menghilangkan rasa manis yang tinggal di lidah kami. Untungnya saya selalu membawa persediaan minum saat bepergian kemanapun. Maka tanpa sungkan, air minum itu pun saya keluarkan dari dalam tas, daripada kami menderita karena rasa es krim yang manis itu.
Tanggal 11 Februari, tiga hari menjelang valentine days, tiba-tiba suami mengajak nongkrong ke sebuah tempat yang sudah lama ingin saya kunjungi tapi belum juga kesampaian. Katanya sebagai hadiah kejutan. Maka jadilah sore itu, setelah menyelesaikan tugas liputan di Gramedia Expo, Surabaya, kami pun mampir ke tempat itu.
Sambil menaiki tiger tua namun yang menjadi kesayangan berdua, perlahan-lahan kami pun menyusuri Jalan Basuki Rahmad, hingga berbelok ke Jalan Pemuda. Sampai di depan Balai Pemuda, kemudian belok kiri, dan sampailah kami di Jalan Yos Sudarso. Ya, tempat itu adalah Zangrandi Ice Cream.
Setelah memarkir motor, kami pun masuk. Wuah, suasananya betul-betul cozy. Karena tahun ini kebetulan Valentine Days jatuhnya bersamaan dengan Hari Raya Imlek, maka tempat itu juga meriah dengan warna merah. Bahkan di tembok terasnya, selain ucapan selamat datang, juga ada kalimat Gong Xi Fa Cai.
Kami pun langsung disambut oleh waitress yang menyodori kami daftar menu. Sengaja tempat duduk yang kami ambil yang di teras depan. Walaupun sebetulnya di dalam juga disediakan beberapa meja dan kursi tempat makan. Meja dan kursi yang berada diteras depan itu terbuat dari rotan, dengan cat kuning gading dan lis merah. Kursinya mirip dengan kursi teras, sehingga jika kita duduk, kita seolah terbenam di dalamnya. Sambil menikmati ice cream yang lezat, kita pun akan semakin nyaman dengan posisi duduk yang seperti itu.
Sambil melihat lalu lalang kendaraan di jalan raya, kami mencoba membolak-balik kartu menu, bingung menentukan jenis es krim apa yang akan dipesan. Akhirnya saya memilih Macedonia rasa mocha, sedangkan suami saya lebih tertarik dengan Chocolate Twinkle. Dia memang tidak bisa lepas dengan segala sesuatu yang berasa coklat. Kalaupun ada bermacam pilihan dan ada coklat diantaranya, bisa dipastikan yang berbau-bau coklat itulah yang akan dipilihnya. Sebagai kudapannya, saya memesan pastel tutup. Sementara lumpia goreng lebih menarik selera suami.
Sebentar kemudian, voila…dua buah gelas es krim sudah terhidang di depan kami. Macedonia mocha, diletakkan di dalam gelas berkaki berukuran kecil. Dibawah gelas itu ada tatakannya, dengan tulisan Zangrandi Ice Cream. Di dalam gelas itu ada satu scope es krim rasa mocha, yang di tengahnya agak cekung. Cekungan itu diisi dengan sebuah cairan agak kekuningan, yang baunya khas dan menyengat, yaitu rhum.
Sementara yang Chocolate Twinkle, dari tampilan luarnya, sepertinya berupa es krim coklat yang dicampur dengan vanila, kemudian diatasnya diberi wafer astor. Kalau rasanya saya tidak begitu bisa menggambarkannya, karena tidak mencicipinya secara pasti. Tapi yang jelas, rasa coklatnyalah yang dominan.
Jika dilihat secara tekstur, es krim di tempat ini memang tidak selembut es krim bikinan pabrik. Tapi bisa jadi, resep rahasia itulah yang tetap menjadikan rasanya luar biasa, walaupun teksturnya agak kasar.
Untuk menghilangkan rasa manis yang melekat di lidah, disediakan pula secangkir kecil air putih. Tapi air yang hanya sebegitu tidak bisa menolong untuk menghilangkan rasa manis yang tinggal di lidah kami. Untungnya saya selalu membawa persediaan minum saat bepergian kemanapun. Maka tanpa sungkan, air minum itu pun saya keluarkan dari dalam tas, daripada kami menderita karena rasa es krim yang manis itu.
Zangrandi Ice Cream
Masuk ke kedai Zangrandi Ice Cream yang terletak di pusat kota Surabaya , tepatnya di Jalan Yos Sudarso, perasaan seakan dibawa kembali ke tempo dulu. Betapa tidak. Selain bangunannya yang memang masih seperti dulu, tanpa ada pemugaran besar-besaran, perabotan dan kursinya pun jadul banget. Kursi teras yang berwarna merah dan kuning serta terbuat dari rotan itu, membuat orang yang duduk di atasnya seolah terbenam ke dalamnya. Untuk beranjak dari dalamnya setidaknya seseorang akan berjuang melepaskan diri dahulu.
Kedai es krim Zangrandi itu dibangun oleh seorang berkebangsaan Italia bernama Renato Zangrandi pada tahun 1930. Awalnya kedai itu bernama Renato Zangrandi’s Ijspalais, yang dulunya terletak di Dijkermantstraat (sekarang Jalan Yos Sudarso). Semenjak jaman penjajahan Belanda, tempat ini sudah dikenal dan menjadi lokasi favorit sebagai tempat nongkrong pada masa itu.
Walaupun arsitektur bangunannya masih asli seperti sejak mula pertama dibuka, tapi kepemilikannya sekarang ini sudah berpindah tangan, dan bukan lagi dikelola oleh keturunan Zangrandi. Namun menurut pemiliknya yang baru, resep-resep yang ada di masa lalu itu masih dipertahankan hingga kini. Memang ada beberapa inovasi baru yang ditambahkan, namun itu semua tidak mengubah cita rasa aslinya.
Beberapa menu ice cream yang tersedia antara lain Chocolate Twinkle, Noodle Ice Cream, Soda Ice Cream, Avocado Fudge, Tropicana Fruit, Crispy Basket, Zangrandi Pie, Horn, Macedonia, Royale Peach, dan Banana Split. Ada pula es krim dalam bentuk slices yaitu Tutti Frutti, Satay Ice Cream, Surabaya Moon, dan Pudding Ice Cream.
Zangrandi juga menawarkan jenis Ice Taart, antara lain Rainbow, Black Forest , Cassata, dan Mocca Perfecto. Jenis es krim tart ini dapat dipesan dalam ukuran 16 cm, 21 cm, atau 24 cm. Tapi bila Anda ingin mencicipi es krim tart ini, disediakan ukuran slice.
Jenis es krim yang banyak diminati sejak dulu adalah Tutti Frutti, es krim berbentuk segitiga yang diatasnya ada taburan zukade atau potongan-potongan kecil dari kulit jeruk. Selain itu ada juga Es Krim Soda, yaitu scope es krim aneka rasa yang dicampurkan dengan air soda yang menyegarkan.
Sebagai pendamping alias kudapan, ditawarkan pula risoles, lumpia, kroket dan pastel tutup. Tapi makanan-makanan itu, menurut saya tidak seistimewa rasa es krimnya. Paling tidak, ada makanan lain sebagai teman camilan saja.
Kalau tidak suka dengan makanan-makanan kecil itu, sebagai alternatifnya bisa diganti dengan kacang godok atau kacang oven. Persis di halaman samping kedai es krim tersebut, ada penjual kacang yang memakai gerobak untuk mengakomodasi barang dagangannya. Konon, penjual kacang itu sudah lama pula berjualan disitu. Wah, jadi ingin nongkrong disana lagi nih....
Sejarah Es Krim
Penduduk bumi sudah lama mengenal adanya es untuk menyajikan makanan yang dingin, dan sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. BBC melaporkan bahwa campuran beku antara susu dan nasi sudah dikenal oleh bangsa Cina kira-kira 200 tahun SM, yaitu sekitar 618 hingga 97 M. Raja Tang of Shang, mempunyai 94 orang yang membuat sajian beku itu dengan menggunakan susu sapi, tepung dan camphor.
Pada jaman kekaisaran Nero (37-68), es beku yang dibawa dari pegunungan telah dikombinasikan dengan topping buah-buahan. Dan itu dirasakan sebagai sebuah sajian yang lezat.
Sementara, penduduk Persia kuno, mempunyai teknik penyimpanan es di dalam sebuah tempat besar alami (bisa jadi berfungsi sebagai kulkas), yang disebut dengan yakhchals. Struktur pendingin itu mengawetkan es yang diambil saat musim dingin, atau es yang diambil dari puncak gunung, sehingga ketika musim panas tidak meleleh.
Tahun 400, orang Persia menciptakan sebuah puding dingin spesial, yang terbuat dari air bunga mawar dan vermicelli, yang dihidangkan untuk keluarga kerajaan ketika musim panas tiba. Di Iran sekarang ini, makanan itu disebut sebagai faloodeh, biasanya terbuat dari tepung gandum dan beberapa komponen lain yang dicampurkan. Campuran itu pun kemudian didinginkan, dan ditambah air mawar serta jeruk lemon sebelum disajikan.
Es krim merupakan makanan penutup favorit di kekalifahan Bagdad. Bangsa Arab adalah yang pertama kalinya menggunakan susu sebagai bahan utama untuk pembuatan es krim. Rasanya juga lebih manis karena ditambahkan gula daripada jus buah-buahan.
Pada awal abad ke 10, es krim sudah dikenal di negeri Arab seperti Bagdad, Damaskus dan Kairo. Versi es krim yang terbuat dari susu atau yoghurt itu hampir sama dengan resep Yunani kuno, yang juga menambahkan air mawar seperti halnya buah-buahan kering dan kacang. Dipercayai, bahwa resep es krim yang dibuat sekarang itu diserap dari bangsa Arab kuno, Mesopotamia, Yunani dan Roma, yang kemudian ditampilkan untuk pertama kalinya oleh orang Persia dalam bentuk faloodeh.
Tahun 62, kekaisaran Roma mengirimkan armada untuk mengumpulkan salju di pegunungan Apennine. Es itu kemudian diformulasikan dengan madu dan kacang.
Maguelonne Toussaint Samat dalam bukunya History of Food menuliskan, bahwa bangsa Cinalah yang pertama kali membuat sorbet dan es krim. Mereka menuangkan salju dan garam di bagian luar bahan yang didinginkan. Di era Kaisar Yingzong, dari Dinasti Song (960-1279) di Cina ada sebuah puisi tentang es krim yang ditulis oleh Yang Wanli. Begitu pula ketika Dinasti Yuan sedang berkuasa, sang Kaisar Kublai Khan sangat menikmati hidangan es krim, yang resepnya masih sangat dirahasiakan. Hingga kemudian Marco Polo datang ke Cina dan membawa teknik pembuatan es krim tersebut ke Italia.
Sementara itu, pada abad ke 16, Kaisar Mughal juga memperkenalkan es krim dari kaum Hindu Kush ke Delhi. Es krim itu menggunakan buah-buahan.
Ketika seorang bangsawan dari Italia, Catherine de’Medici, menikah dengan salah satu bangsawan d’Orlean, di Perancis, ia membawa seorang juru masak yang khusus meramu sajian es krim. Seratus tahun kemudian, Charles I dari Inggris menawarkan secara komesial es krim buatannya, dan menjadikan hal itu sebagai pensiunnya seumur hidup. Resep es krim itulah yang membuatnya mendapatkan penghargaan prerogatif. Memang tidak ada sejarah pasti tentang awal mula terciptanya es krim. Justru yang ada hanya legenda-legenda.
Subscribe to:
Posts (Atom)











