Facebook adalah situs web jaringan sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School. Keanggotaannya pada awalnya dibatasi untuk siswa dari Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Boston University, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain yang selanjutnya ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun setelah peluncurannya. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat surat-e suatu universitas (seperti .edu, .ac.uk, dll) dari seluruh dunia dapat juga bergabung dengan situs ini.
Selanjutnya dikembangkan pula jaringan untuk sekolah-sekolah tingkat atas dan beberapa perusahaan besar. Sejak 11 September 2006, orang dengan alamat surat-e apa pun dapat mendaftar di Facebook. Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan sekolah tingkat atas, tempat kerja, atau wilayah geografis.
Hingga Juli 2007, situs ini memiliki jumlah pengguna terdaftar paling besar di antara situs-situs yang berfokus pada sekolah dengan lebih dari 34 juta anggota aktif yang dimilikinya dari seluruh dunia. Dari September 2006 hingga September 2007, peringkatnya naik dari posisi ke-60 ke posisi ke-7 situs paling banyak dikunjungi, dan merupakan situs nomor satu untuk foto di Amerika Serika, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya
Di Indonesia sendiri, facebook baru menggejala dan menjadi wabah umum di akhir tahun 2008 sampai awal 2009. Bahkan pertanyaan, ’sudah gabung di facebook atau belum?’ menjadi sebuah pertanyaan wajib ketika bertemu dengan seseorang.
Friday, February 13, 2009
Thursday, January 29, 2009
AYAM VS MACAN

AYAM
Ayam tergolong binatang yang paling tidak dimengerti dan paling eksentrik dalam zodiak Cina. Walau dia sering tampak sebagai simbol keyakinan dan keberanian, namun di hatinya dia cenderung bersifat konservatif, bahkan agak kuno.
Sekilas, ada dua tipe Ayam yang sepertinya bertolak-belakang: tipe yang mudah terbakar dan amat cerewet, dan tipe yang diam-diam suka mengawasi, yang matanya seolah memancarkan sinar X. Walaupun demikian, warga shio ini (terutama pria) biasanya mudah dikenal dari penampilannya yang perlente dan penuh gaya. Keluarga unggas yang berlagak bagai pangeran dan bangga pada bulu-bulunya yang cantik ini memang memiliki pembawaan tak tercela. Anda takkan melihat ada Ayam yang berjalan dengan terbungkuk-bungkuk; posisi tubuhnya selalu tegak dan terlihat pongah. Sebagai pribadi yang senang menarik perhatian orang, ia bisa mengejar sukses dalam karir macam apapun yang menghadapkannya dengan orang banyak. Namun, sifat yang sama terkadang membuat Ayam terlalu melebih-lebihkan dekorasi rumah, kantor, atau dirinya sendiri. Dia juga amat terkesan dengan segala jenis penghargaan, medali, dan gelar-gelar kehormatan. Setidak-tidaknya setiap warga Ayam ingin memenangkan satu penghargaan atau menggondol satu ijazah profesional sebagai tanda pengakuan masyarakat bagi dirinya.
Ayam memang memiliki sejumlah sifat yang patut dibanggakan. Dia berotak tajam, berpenampilan rapi, teliti, teratur, pandai mengambil keputusan, tegas, waspada dan berbicara terus-terang. Dia lincah sekali dalam mengekspresikan dirinya, baik dalam percakapan maupun tulisan. Ia juga pandai bersilat lidah dan berdebat. Kalau Anda berniat menantangnya dalam masalah-masalah yang cukup kontroversial, bersiap-siaplah buat pedebatan yang lama dan sulit sebab Ayam memang punya stamina yang mengagumkan dan sanggup membuat Anda jemu.
Sebaliknya, jika dirinyalah yang dibikin malu sampai bulu-bulunya yang cantik itu menjadi kuyup, Ayam bisa menjadi amat menyebalkan. Ia tidak punya potongan diplomat. Situasi yang membutuhkan keluwesan dan kearifan bertolak belakang dengan wataknya. Bahkan, kepandaiannya mengkritik terkadang menyerupai kebrutalan. Untuk menciptakan kemajuan yang lancar dan tak terhalang dalam masyarakat, Ayam harus menyadari, bahwa orang lain tidak akan begitu cepat menolak nasehat-nasehatnya yang jempolan apabila disampaikan dengan cara yang lebih halus.
Jarang ada warga Ayam yang menghamburkan uang di luar batas (kecuali hal itu dilakukan demi gengsi). Mereka terpukau oleh akuntansi, pandai mengelola keuangan dan senang mengawasi peti uang. Seumpama Anda punya masalah yang menyangkut keuangan Anda, serahkan saja pada kebijaksanaan Ayam. Dia sanggup membuat anggaran yang ketat bagi Anda dan akan tak ragu-ragu mencekal tangan Anda setiap kali Anda menyentuh lebih dari jumlah yang sudah ditentukan. Namun, kalau menyangkut uangnya sendiri, perlu dicatat bahwa orang bershio Ayam biasanya hanya bermurah hati dengan keluarga dekatnya saja atau untuk mendapatkan rasa cinta dan kekaguman dari para pengikutnya. (Satu-satunya yang pasti bisa Anda dapat secara gratis darinya adalah nasihat!)
Di samping uang, Ayam pandai mengatur segala sesuatu, termasuk waktunya sendiri, waktu Anda, waktu tukang pos, waktu perusahaan, dan lain-lainnya yang tak terbatas hanya sampai di situ saja. Tak bakal Anda menemukan orang lain yang begitu pandai melaksanakan hal-hal yang penting secara tegas, kecuali dirinya. Dia memang mencintai tugas-tugas yang rumit. Tapi di sini jangan mengharapkan dia akan mampu berimprovisasi. Ayam adalah tipe yang tegas dan lugas, dan karenanya Anda juga harus memberikan perintah-perintah yang sama.
Ayam adalah perfeksionis. Ia memiliki mata yang jeli bagi hal yang kecil-kecil ditambah dengan kemampuan untuk bepikir secara teoritis. Namun, ide-idenya terkadang tampak lebih cemerlang di atas kertas daripada dalam penerapan yang nyata. Soalnya, di tengah-tengah fantasinya yang teoritis, Ayam seringkali lupa memperhitungkan segala kekurangan manusia serta faktor-faktor lain yang sulit diduga. Terkadang warga shio ini gagal untuk memahami mengapa orang lain tak bisa hidup dengan rumus tetap seperti yang mereka lakukan.
Hampir semua warga shio Ayam adalah pekerja yang bereputasi baik. Ia biasanya tahu bagaimana menyenangkan hati atasannya, yang sebaliknya terkesan pada kecerdasannya dan keefisienan kerjanya. Namun meskipun dia memiliki tenaga tak terbatas dan kemauan yang keras buat mencapai sukses, warga Ayam terkadang terlalu yakin pada waktu sedang kumat sehingga ia salah mengarahkan usahanya atau menanggung tugas-tugas yang di luar kemampuannya.
Ironi semuanya itu adalah bahwa warga Ayam dapat menemui sukses maupun duit pada tempat-tempat yang sangat umum. Seperti yang sering dikatakan orang Cina, Ayam masih bisa mencari makan dengan paruhnya yang kokoh-kuat dan cakarnya yang tajam, sekalipun di tanah yang paling keras.
Warga Ayam Dari Indonesia
Hetty Koes Endang, Presiden Soeharto, Titi Qadarsih, Gunawan Suteja, Ong Hok Ham, S. Bagio, Soedarsono Hadsapoetro, Rika Hartono Suatan, Ashadi Siregar, Prayudi Admodirdjo
Warga Ayam Dari Negara Lain
Paus Paulus VI, Kaisar Akihito, Katharine Hepburn, Joan Collins, Putri Caroline dari Monaco, Yoko Ono, Dolly Parton, Pangeran Phillip, Nancy Reagan, Pete Townsend
MACAN
Di Timur, Macan melambangkan kekuasaan, hawa nafsu dan keperkasaan. Sebagai pribadi yang suka berontak, beranekaragam dan tak dapat diramalkan, ia memegang kendali kekaguman dan kehormatan dari segala penjuru. Ia adalah pejuang yang ganas dan tak mengenal takut.
Macan adalah pribadi yang menyenangkan buat diajak bergaul, asal saja anda siap-sedia buat segala macam aktivitas yang datang bersama kepribadian dinamisnya. Vitalitas dan semangat hidup orang bershio Macan ternyata mudah menular. Ia pandai membangkitkan seluruh perasaan dalam diri orang, keculai ketidak acuhan. Dan tidak dapat dipungkiri, Macan yang memikat ini memang senang menjadi pusat perhatian.
Pembawaan Macan yang resah dan tak dapat berdiam diri menyebabkannya selalu tak sabar untuk bertindak. Namun, karena wataknya yang juga mudah curiga, ia terkadang menjadi ragu-ragu atau tergesa-gesa mengambil keputusan. Baginya sulit buat mempercayai orang lain atau menaklukkan pergolakan emosinya. Namun, walaupun temperamennya panas, ia juga tulus, penuh kasih sayang dan murah hati. Di samping itu ia punya selera humor yang mengagumkan.
Dalam kehidupan Macan mestilah ada suatu saat dimana ia akan bertindak hanya berdasarkan dorongan hatinya agar dapat memerankan semua peran fantastis yang diinginkannya. Yaitu, suatu kesempatan saat dimana ia dapat mencibir pada apa yang tak disetujuinya, mencaci masyarakat yang kolot dan mengejek tradisi yang terlalu mengikat. Macan harus mengekspresikan dirinya, menegakkan identitasnya dan membentuk kepribadiannya. Maka seandainya pemberontakan atau kesempatan untuk menyatakan pendapat secara blak-blakan ditawarkan padanya, maka jalan itulah yang akan dipilihnya untuk menyatakan, "Inilah diriku!" Walaupun demikian, sembilan dari sepuluh orang di antara kita bahkan cenderung buat menjagoinya. Kita boleh saja menggelengkan kepala melihat keberaniannya atau menahan napas melihat tindakannya yang gila, namun pada saat yang sama kita juga tak lupa memanjatkan doa dalam hati masing-masing baginya, dan bahkan kita ikut membagi kemenangan bersamanya waktu kita lihat dia sukses.
Kalau Macan sedang kesal, ia akan membutuhkan segerobak simpati dari anda. Jangan memperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Pada saat seperti ini logika tak berarti apa-apa baginya. Jangan segan-segan menghiburnya, sebab ia akan menghibur anda dua kali lebih banyak bila situasinya terbalik. Si Macan akan senang mendengarkan kata-kata bijak anda dan akan memperhatikan setiap nasihat. Namun, itu bukan berarti ia akan mengikutinya. Setelah anda pergi, yah, ada kemungkin besar Macan akan pergi juga dan melaksanaan apa yang telah direncanakannya semula!
Meskipun intensitas perasaannya terkadang membuatnya agak sulit diandalkan pada saat-saat yang menekan baginya, Macan masih dikenal mampu buat menyentuh perasaan publik. Kalau sedang berkepala dingin, pribadinya terasa hangat, sensitif dan simpatik. Sebaliknya, kalau sedang kumat, ia keras kepala, tak bisa ditolerir dan hanya tunduk pada kehendaknya sendiri.
Seperti juga Naga dan Ayam, warga Macan mempunyai ego yang amat besar. Uang, kekuasaan dan ketenaran tak akan berarti apa-apa baginya apabila egonya terluka. Dalam keadaan ini, Macan dapat menjadi pengacau yang paling busuk yang pernah anda temui. Ia akan melakukan apa saja untuk membalaskan dendamnya, meski harus ditebus dengan membakar rumahnya sendiri. Kata-kata yang tampak sepele bagi orang lain bisa saja membakar emosinya, padahal hal-hal besar dibiarkan lewat tanpa digubris. Ingatlah: Macan paling benci kalau diabaikan!
Dua kelemahannya dalam hidup ini adalah ketergesaannya di satu pihak, dan ketidak becusannya mengambil keputusan di lain pihak. Andainya ia belajar buat mengambil jalan tengah, Macan akan merupakan pribadi yang luar biasa sukses.
Di lubuk hati, Macan adalah orang yang amat romantis. Ia senang melucu, namun juga mesra dan sentimental sekaligus, makanya asyik juga jika kebetulan anda berpacaran atau menikah dengan seorang Macan. Namun, perlu diingat ia sangat posesif dan suka mencari gara-gara bila sedang cemburu.
Secara keseluruhan, kehidupan Macan memang berubah-ubah, diwarnai oleh tawa-ria, air mata, sakit hati, kegembiraan, putus asa dan oleh setiap perasaan lain yang dikenal manusia. Meskipun demikian, jangan sekali-kali mengasihani dirinya. Ia tak memerlukannya. Ia hanya dapat mencintai kehidupan apabila ia diperbolehkan buat mereguk isinya hingga puas, tentu berdasarkan cara yang dipilihnya sendiri. Macan adalah pribadi yang luar biasa optimis, yang akan selalu siap kembali bagi tantangan baru.
Warga Macan Dari Indonesia
Roeslan Abdulgani, Kris Biantoro, Abdul Gafur, Ismail Saleh, Ibnu Sutowo, Harmoko, Anton Hilman
Warga Macan Dari Negara Lain
Puteri Anne, Stevie Wonder, Hugh Hefner, Marilyn Monroe, Agatha Christie, Karl Marx, Alec Guinness
Monday, January 26, 2009
Untuk Mami

Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibuka.
Tapi seringkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup.
Sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan.
Dalam hidup terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan.
Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu
Bahwa apa yang kita inginkan terkadang tidak membuat hidup kita lebih bahagia.
Bermimpilah tentang apa yang diimpikan
Pergi ke tempat-tempat yang ingin kita datangi
Jadi seperti apa yang kita inginkan
Karena kita hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kita lakukan
Masa depan yang cerah, berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan
Kita tidak dapat melangkah lebih baik dalam kehidupan,
sampai kita melupakan kegagalan dan rasa sakit hati kita
Ketika kita lahir, kita menangis dan orang-orang di sekeliling kita tersenyum
Jalani hidup, sehingga pada waktu kita meninggalk, kita tersenyum walaupun orang-orang di sekeliling kita menangis
(Kalimat motivasi ini ditulis Intan untuk aku, 'mami' yang dikaguminya)
Saturday, January 10, 2009
Silent Night
Dalu suci tidhem sami
Jeng Gusti Pamarta
Tedhak manjalma krana kita
Miyos wonten kandhang Betlehem
Gustining dumadi
Gustining dumadi
Malam kudus sunyi senyap
Bintangmu gemerlap
Hanya dua berjaga terus
Ayah bunda mesra dan kudus
Anak tidur tenang
Anak tidur tenang
Tahun 2008 adalah tahun ke-190 bagi lagu “Malam Kudus”. Lagu itu pertama kali dinyanyikan pada malam Natal, 24 Desember 1818 di Gereja St Nikolas di Desa Oderndorf, Austria, atau dua tahun setelah dikarang Pastor Joseph Mohr, dengan judul asli “Stille Nacht” (bahasa Jerman).
Meskipun Joseph Mohr dan Franz Xaver Gruber yang memperdengarkan pertama kalinya, “Stille Nacht” mendunia setelah kerap dinyanyikan grup vokal keluarga dari Desa Tyrol, Austria. Desa Tyrol merupakan desa asal tukang servis orgel, yang menemukan naskah asli “Stille Nacht” di gereja. Naskah itu dibawa ke Tyrol dan segera menjadi lagu favorit para penyanyi Tirolian. Mereka rutin bernyanyi berkeliling daerah saat musim dingin, hingga ke Amerika.
Kini, “Stille Nacht” telah dialihbahasakan ke 330 bahasa. Tiap tahun, ribuan orang mengunjungi kapel di dekat lokasi Gereja St Nikolas. Gereja St Nikolas dipindahkan lokasinya karena banjir besar.
Jeng Gusti Pamarta
Tedhak manjalma krana kita
Miyos wonten kandhang Betlehem
Gustining dumadi
Gustining dumadi
Malam kudus sunyi senyap
Bintangmu gemerlap
Hanya dua berjaga terus
Ayah bunda mesra dan kudus
Anak tidur tenang
Anak tidur tenang
Tahun 2008 adalah tahun ke-190 bagi lagu “Malam Kudus”. Lagu itu pertama kali dinyanyikan pada malam Natal, 24 Desember 1818 di Gereja St Nikolas di Desa Oderndorf, Austria, atau dua tahun setelah dikarang Pastor Joseph Mohr, dengan judul asli “Stille Nacht” (bahasa Jerman).
Meskipun Joseph Mohr dan Franz Xaver Gruber yang memperdengarkan pertama kalinya, “Stille Nacht” mendunia setelah kerap dinyanyikan grup vokal keluarga dari Desa Tyrol, Austria. Desa Tyrol merupakan desa asal tukang servis orgel, yang menemukan naskah asli “Stille Nacht” di gereja. Naskah itu dibawa ke Tyrol dan segera menjadi lagu favorit para penyanyi Tirolian. Mereka rutin bernyanyi berkeliling daerah saat musim dingin, hingga ke Amerika.
Kini, “Stille Nacht” telah dialihbahasakan ke 330 bahasa. Tiap tahun, ribuan orang mengunjungi kapel di dekat lokasi Gereja St Nikolas. Gereja St Nikolas dipindahkan lokasinya karena banjir besar.
Friday, December 5, 2008
Mi Lagi, Mi Lagi

Sesuai dengan janji yang sudah dibuat lewat telepon tadi siang, kita berdua sepakat untuk makan di luar sembari pulang kantor, karena di rumah saya tidak sempat memasak sehingga di meja tidak ada persediaan makanan. Sepanjang jalan, sambil naik Tiger kesayangan, perlahan-lahan kami menyusuri jalanan, kalau-kalau ada menu yang menarik perhatian kami.
Namun sudah bisa ditebak, mata kami berdua terlalu jeli untuk membaca tulisan pangsit mi, mi ayam, bakmi atau yang sejenisnya, yang biasanya terpampang di depan tempat makan tersebut. Entahlah, kenapa bisa begitu. Yang jelas, saat kami berencana untuk makan di luar, walaupun sudah mencanangkan untuk tidak memilih jenis mi dan sebangsanya, tetap saja pilihan terakhirnya itu juga. Bisa jadi karena tergelitik oleh pesona mi dan ketenarannya itulah tulisan ini pun lahir.
Bakmi atau mi, merupakan makanan yang sudah umum ditemui di Indonesia. Bahkan masing-masing daerah dan wilayah mempunyai andalan dan sebutannya sendiri-sendiri untuk jenis makanan ini. Orang menyebut Bakmi Jawa untuk mi, baik yang goreng maupun rebus, yang dimasak diatas tungku berbahan bakar arang dengan waktu memasaknya yang lama sekali. Sementara itu Mi Ayam Solo juga terkenal dimana-mana, dengan ramuan mie rebus yang dibagian atasnya diberikan ayam cincang berbumbu kecap. Mi Titi alias I Fu Mie ala Makassar juga mempunyai kelas penggemar tersendiri. Tampilan mi kering yang disiram dengan kuah kental berisi sayuran dan seafood ini menyerupai masakan cina yang juga sudah dikenal di Indonesia. Masih ada lagi Mi Aceh, yang pedasnya luar biasa, karena bumbunya yang kaya dengan rempah-rempah.
Itulah fenomena mi, yang sudah melanda Indonesia dan memperkaya khazanah kulinarinya. Sebetulnya tidak hanya itu. Mi juga dikenal di belahan negara lain, dan bisa jadi keberadaannya juga sama ngetopnya dengan di Indonesia. Hanya saja, nama, bentuk dan bahan penyusun serta cara pembuatannya berbeda-beda sesuai dengan budaya dan teknologi masing-masing negara.
Dalam bukunya yang berjudul Upaboga di Indonesia (Ensiklopedi Pangan dan Kumpulan Resep), ahli boga Suryatini N Ganie menyebut, bahwa mi terbuat dari tepung terigu, berbentuk pipih memanjang dengan diameter sekitar 0,2 cm.
Kata mi dan bakmi, dalam bahasa Belanda dan bahasa Jerman berasal dari bakmi, diperkenalkan di Indonesia selama masa kolonial Belanda. Makanan ini bukanlah asli dari Indonesia, tapi berasal dari negeri Tiongkok. Tak begitu jelas kapan dan bagaimana makanan ini masuk ke wilayah Nusantara. Penjelasan yang masuk akal, makanan ini bisa jadi dibawa oleh kaum pedagang dari negeri Cina ratusan tahun yang lalu.
Sementara itu, tentang asal usul mi dan siapa yang mula-mula membuatnya masih menjadi perdebatan. Disebut-sebut bahwa masyarakat Tiongkok telah mengenal mi sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Tetapi ada pula yang mengatakan sekitar tahun 100 Masehi dan berasal dari daerah utara Tiongkok. Namun catatan tertua yang ada menyebut bahwa mi telah ada sejak jaman Dinasti Han Timur, antara tahun 25 dan 220 Masehi. Sementara itu, pada Oktober 2005, mi tertua yang diperkirakan berusia 4.000 tahun ditemukan di Qinghai, Tiongkok.
Bangsa Arab juga mengklaim sudah mengenal makanan ini sejak abad ke 5 Masehi. Itu dibuktikan dengan adanya tulisan dalam bentuk bahasa Arab kuno di daerah Yerusalem, yang menceritakan soal makanan yang serupa dengan mi, yang dimasak dengan cara direbus.
Sementara itu, Marcopolo juga mengklaim dirinya sebagai orang yang mempopulerkan mi. Konon ia terkesan akan pembuatan makanan pokok berupa benang-benang terigu panjang, yang dibuat oleh para koki di dapur kerajaan Cina. Ia pun kemudian membawa pengetahuan itu kembali ke tanah airnya, dinama makanan tersebut kemudian dikembangkan lebih luas menurut selera setempat. Tetapi orang Italia sendiri menolak klaim tersebut. Mereka mengatakan kalau 24 tahun sebelum kepulangan Marcopolo dari Asia, prajurit-prajurit di Italia dari daerah Genoese telah membekali diri mereka dengan pasta kering, yang diperkenalkan oleh bangsa Arab ketika menduduki Sisilia.
Mi disebut dengan nama yang berbeda di masing-masing negeri. Mi yang berasal dari Tiongkok lazim disebut sebagai bihun, kwetiau, ifumie atau mi china. Sementara itu di Jepang lebih sering disebut dengan nama udon. Untuk mi yang berkuah disebut ramen. Pasta, pasta rebus dan spageti adalah mi yang berasal dari Italia. Sedang di India lebih dikenal dengan wai-wai. Mi telur segar asal Timur Tengah diberi nama reshteh, sementara mi dengan kuning telur asal selatan Jerman disebut sebagai spƤtzle.
Mi juga dibedakan berdasarkan bahan baku pembuatannya. Lagi-lagi ini berhubungan dengan kondisi geografis sebuah negeri. Di Tiongkok bagian selatan, mi yang berbahan dasar beras mudah sekali ditemukan, karena di kawasan tersebut padi tumbuh dengan suburnya. Dari situ mi kemudian menyebar ke Asia Tenggara seperti Thailand, Laos, Kamboja dan sekitarnya. Sedangkan mi yang berbahan dasar terigu lebih banyak ditemukan di Tiongkok bagian utara. Jenis mi inilah yang kemudian banyak ditemukan di Jepang, Korea, Philipina, Taiwan, Malaysia, India dan Indonesia.
Mi mengandung banyak sekali karbohidrat, namun rendah protein. Kaum Tionghoa percaya bahwa mi adalah lambang panjang umur. Karena itu dalam setiap acara ulang tahun makanan yang satu ini tidak boleh ketinggalan. Bisa jadi bentuk mi yang panjang itu sebagai sebuah harapan akan datangnya umur yang lebih panjang. Memang mi itu enak sih
Mi Tertua
Sebuah serpihan berwarna kuning sepanjang kurang lebih 50 cm, ditemukan dalam sebuah periuk yang terpendam ketika terjadi banjir berabad-abad yang lampau. Berdasarkan hasil tes radiokarbon, material yang berasal dari Lajia, situs arkeologi yang berada di samping Sungai Kuning, Cina, diindikasikan sebagai makanan yang kira-kira sudah berumur 4000 tahun.
Para ilmuwan menduga bahwa makanan yang disebut sebagai mi itu dibuat dari tepung yang berasal dari rumput. Tidak seperti jenis mi modern yang telah dibuat dari tepung terigu. Penemuan itu juga masih menjadi perdebatan, tentang siapa yang mula-mula membuat makanan yang berupa helaian-helaian itu.
Penelitian menunjukkan bahwa mi pertama kali dibuat di Cina. Ini berdasarkan riset yang dilakukan oleh Institute of Geology and Geophysics, Chinese Academy of Sciences, Beijing, seperti yang dituturkan kepada BBC News.
Lajia merupakan situs arkeologi yang terletak di Sungai Kuning. Diduga wilayah itu hilang karena terendam banjir. ”Berdasarkan penelitian geologi dan arkeologi, telah terjadi gempa bumi dahsyat yang menyebabkan wilayah itu tergenang air,” demikian penjelasan Profesor Kam-biu Liu dari Louisiana State University, Amerika Serikat. Lajia merupakan sebuah situs yang menarik, karena disitulah Pompeii of China.
Mi hasil temuan itu disebut sebagai La-Mian, yaitu mi tradisional cina yang dibuat dengan cara menarik ulur adonan menggunakan tangan. Diperkirakan bahan yang digunakan adalah tepung foxtail (Setaria italica) dan tepung broomcorn (Panicum miliaceum). Kedua jenis tanaman itu merupakan rumput-rumputan asli negeri Cina. Hal itu berbeda dengan bentuk mi modern cina sekarang ini, atau pasta Italia yang terbuat dari tepung gandum. (phie)
Para ilmuwan menduga bahwa makanan yang disebut sebagai mi itu dibuat dari tepung yang berasal dari rumput. Tidak seperti jenis mi modern yang telah dibuat dari tepung terigu. Penemuan itu juga masih menjadi perdebatan, tentang siapa yang mula-mula membuat makanan yang berupa helaian-helaian itu.
Penelitian menunjukkan bahwa mi pertama kali dibuat di Cina. Ini berdasarkan riset yang dilakukan oleh Institute of Geology and Geophysics, Chinese Academy of Sciences, Beijing, seperti yang dituturkan kepada BBC News.
Lajia merupakan situs arkeologi yang terletak di Sungai Kuning. Diduga wilayah itu hilang karena terendam banjir. ”Berdasarkan penelitian geologi dan arkeologi, telah terjadi gempa bumi dahsyat yang menyebabkan wilayah itu tergenang air,” demikian penjelasan Profesor Kam-biu Liu dari Louisiana State University, Amerika Serikat. Lajia merupakan sebuah situs yang menarik, karena disitulah Pompeii of China.
Mi hasil temuan itu disebut sebagai La-Mian, yaitu mi tradisional cina yang dibuat dengan cara menarik ulur adonan menggunakan tangan. Diperkirakan bahan yang digunakan adalah tepung foxtail (Setaria italica) dan tepung broomcorn (Panicum miliaceum). Kedua jenis tanaman itu merupakan rumput-rumputan asli negeri Cina. Hal itu berbeda dengan bentuk mi modern cina sekarang ini, atau pasta Italia yang terbuat dari tepung gandum. (phie)
Berburu Mi di Malang
Hot Cui Mi, makan mi bersama mangkuknya. Tulisan itu kami temukan dalam sebuah selebaran, entah siapa yang meletakkannya di depan pintu rumah. Kami berdua saling berpandangan dan menaikkan alis, lantas saling melempar senyum. ”Perlu kita buktikan,” begitu ujar mantan pacar, yang tak lama lagi akan menjadi pendamping hidup saya.
Malang surga makanan. Bisa jadi sebutan itu benar adanya. Itulah mengapa, walaupun status pekerjaan dan kantor berada di Surabaya, saya berat sekali untuk meninggalkan Malang dengan kelebihan yang dipunyainya itu. Karenanya dengan rela hati saya pun bolak balik Surabaya Malang setiap beberapa hari sekali. Saat menyenangkan adalah ketika kembali ke Malang. Selain kangen dengan hawanya yang lebih segar daripada di Surabaya, kami berdua pun punya kegiatan rutin yang tidak bisa dilewatkan, yaitu berburu bakmi, cui mi atau sebangsanya.
Orang bisa saja mengatakan kalau kebiasaan kami berdua aneh. Tiada bosan-bosannya kami berburu dan mengapresiasi segala macam bentuk mi yang kami temui. Mulai dari mi kelas pinggiran yang dijual di warung kaki lima, hingga mi yang berkelas depot dan rumah makan beken.
Mi yang banyak ditemui di Malang adalah jenis mi yang lebih dominan dengan gaya masakan Cina. Beberapa diantaranya bahkan sudah dikenal sejak lama. Sebut saja Bakmi Gajah Mada, Bakmi Gang Jangkrik, atau Bakmi Gloria yang sudah terkenal diantero Malang Raya. Demikian juga dengan Pangsit Mi Dempo yang warungnya persis melekat di tembok belakang SMAK Santo Albertus, atau yang lebih dikenal dengan nama SMA Dempo. Atau Pangsit Mi Bromo Pojok, yang dulunya memang terletak di pojokan Jalan Bromo, serta Pangsit Mi Oro Oro Dowo yang buka warung di dekat pasar Oro Oro Dowo.
Itu hanya beberapa tempat yang sudah menjadi ikon bakmi di kota Malang. Belum lagi gerai-gerai baru yang terus mengembangkan diri dengan mengambil segmen pasar penggemar mi lainnya. Sebut saja Hot Cui Mi yang menawarkan sensasi cara makan mi dengan mangkuknya. Ada lagi Bakmi Sumpit, yang dalam kenyataannya tidak pernah dilengkapi sumpit dalam penyajiannya. Di halaman kelenteng Ang En Kiong pun juga ada sebuah warung pangsit mi yang bisa menjadi pilihan lainnya. Namun kebanyakan orang sedikit ragu ketika memasukinya. Bisa jadi perasaan yang tidak enak, karena warung itu berada di halaman tempat ibadah. Tapi kalau berbicara soal rasa, tidak ada istilah menyerah untuk memburunya.
Varian bakmi yang ditawarkan oleh Bakmi Gajah Mada, Bakmi Gang Jangkrik Bakmi Gloria dan Pangsit Mi Bromo Pojok hampir seragam, yaitu lebih mengarah pada gaya masakan cina. Berupa onggokan mi rebus, yang diatasnya ditaburi potongan ayam serta daun bawang. Sebagai pemanisnya dilengkapi dengan daun slada, dan biasanya ada pangsit rebus yang tersembunyi di bawah tumpukan mi. Kuah bening ditempatkan terpisah di sebuah mangkuk kecil. Penggemar mi juga masih diberi pilihan lain untuk kelengkapannya, yaitu berupa irisan jamur, ampela hati ataupun dicampuri dengan pentolan bakso.
Sekadar tambahan info, di tempat-tempat itu ada pula jenis makanan lain yang bisa jadi harus dicoba, yaitu siomay. Siomay ini terbuat dari daging ikan atau udang yang sudah dicampur dengan tepung, kemudian dibungkus dengan kulit pangsit lalu dikukus. Biasanya dalam satu porsi, berisi dua buah siomay yang ukurannya lumayan besar dan penyajiannya dilengkapi dengan kuah yang segar. Nikmat sekali kalau dimakan saat masakan itu masih hangat.
Sementara Pangsit Mi Dempo, modelnya juga tidak berbeda jauh. Hanya saja tempatnya agak sedikit minggir dan kelas anak-anak sekolahan. Untuk menikmati menu disini disarankan untuk tidak menambahkan kuah terlalu banyak. Karena akan menghilangkan rasa. Sebab bumbu-bumbunya akan larut dalam kuah itu. Makan mi disini kurang lengkap juga kalau tidak disertai jus alpukat moka yang juga sebagai menu andalan di warung yang terletak di Jalan Gede itu.
Hot Cui Mi menawarkan sensasi lain lagi. Disebut-sebut bahwa disini kita bisa makan mi bersama dengan mangkuknya. Senyatanya, mangkuk yang bisa dimakan itu adalah sebentuk pangsit goreng yang ukurannya bisa menampung seporsi bakmi. Pangsit besar itu sendiri ditempatkan diatas sebuah mangkuk. Varian mi yang dihidangkan pun tak beda jauh dengan yang lain. Hanya saja, pangsit goreng itu bisa dimakan sampai habis. Dan yang jelas, keberadaan mi akan akan tetap abadi, seabadi penggemarnya.
Malang surga makanan. Bisa jadi sebutan itu benar adanya. Itulah mengapa, walaupun status pekerjaan dan kantor berada di Surabaya, saya berat sekali untuk meninggalkan Malang dengan kelebihan yang dipunyainya itu. Karenanya dengan rela hati saya pun bolak balik Surabaya Malang setiap beberapa hari sekali. Saat menyenangkan adalah ketika kembali ke Malang. Selain kangen dengan hawanya yang lebih segar daripada di Surabaya, kami berdua pun punya kegiatan rutin yang tidak bisa dilewatkan, yaitu berburu bakmi, cui mi atau sebangsanya.
Orang bisa saja mengatakan kalau kebiasaan kami berdua aneh. Tiada bosan-bosannya kami berburu dan mengapresiasi segala macam bentuk mi yang kami temui. Mulai dari mi kelas pinggiran yang dijual di warung kaki lima, hingga mi yang berkelas depot dan rumah makan beken.
Mi yang banyak ditemui di Malang adalah jenis mi yang lebih dominan dengan gaya masakan Cina. Beberapa diantaranya bahkan sudah dikenal sejak lama. Sebut saja Bakmi Gajah Mada, Bakmi Gang Jangkrik, atau Bakmi Gloria yang sudah terkenal diantero Malang Raya. Demikian juga dengan Pangsit Mi Dempo yang warungnya persis melekat di tembok belakang SMAK Santo Albertus, atau yang lebih dikenal dengan nama SMA Dempo. Atau Pangsit Mi Bromo Pojok, yang dulunya memang terletak di pojokan Jalan Bromo, serta Pangsit Mi Oro Oro Dowo yang buka warung di dekat pasar Oro Oro Dowo.
Itu hanya beberapa tempat yang sudah menjadi ikon bakmi di kota Malang. Belum lagi gerai-gerai baru yang terus mengembangkan diri dengan mengambil segmen pasar penggemar mi lainnya. Sebut saja Hot Cui Mi yang menawarkan sensasi cara makan mi dengan mangkuknya. Ada lagi Bakmi Sumpit, yang dalam kenyataannya tidak pernah dilengkapi sumpit dalam penyajiannya. Di halaman kelenteng Ang En Kiong pun juga ada sebuah warung pangsit mi yang bisa menjadi pilihan lainnya. Namun kebanyakan orang sedikit ragu ketika memasukinya. Bisa jadi perasaan yang tidak enak, karena warung itu berada di halaman tempat ibadah. Tapi kalau berbicara soal rasa, tidak ada istilah menyerah untuk memburunya.
Varian bakmi yang ditawarkan oleh Bakmi Gajah Mada, Bakmi Gang Jangkrik Bakmi Gloria dan Pangsit Mi Bromo Pojok hampir seragam, yaitu lebih mengarah pada gaya masakan cina. Berupa onggokan mi rebus, yang diatasnya ditaburi potongan ayam serta daun bawang. Sebagai pemanisnya dilengkapi dengan daun slada, dan biasanya ada pangsit rebus yang tersembunyi di bawah tumpukan mi. Kuah bening ditempatkan terpisah di sebuah mangkuk kecil. Penggemar mi juga masih diberi pilihan lain untuk kelengkapannya, yaitu berupa irisan jamur, ampela hati ataupun dicampuri dengan pentolan bakso.
Sekadar tambahan info, di tempat-tempat itu ada pula jenis makanan lain yang bisa jadi harus dicoba, yaitu siomay. Siomay ini terbuat dari daging ikan atau udang yang sudah dicampur dengan tepung, kemudian dibungkus dengan kulit pangsit lalu dikukus. Biasanya dalam satu porsi, berisi dua buah siomay yang ukurannya lumayan besar dan penyajiannya dilengkapi dengan kuah yang segar. Nikmat sekali kalau dimakan saat masakan itu masih hangat.
Sementara Pangsit Mi Dempo, modelnya juga tidak berbeda jauh. Hanya saja tempatnya agak sedikit minggir dan kelas anak-anak sekolahan. Untuk menikmati menu disini disarankan untuk tidak menambahkan kuah terlalu banyak. Karena akan menghilangkan rasa. Sebab bumbu-bumbunya akan larut dalam kuah itu. Makan mi disini kurang lengkap juga kalau tidak disertai jus alpukat moka yang juga sebagai menu andalan di warung yang terletak di Jalan Gede itu.
Hot Cui Mi menawarkan sensasi lain lagi. Disebut-sebut bahwa disini kita bisa makan mi bersama dengan mangkuknya. Senyatanya, mangkuk yang bisa dimakan itu adalah sebentuk pangsit goreng yang ukurannya bisa menampung seporsi bakmi. Pangsit besar itu sendiri ditempatkan diatas sebuah mangkuk. Varian mi yang dihidangkan pun tak beda jauh dengan yang lain. Hanya saja, pangsit goreng itu bisa dimakan sampai habis. Dan yang jelas, keberadaan mi akan akan tetap abadi, seabadi penggemarnya.
Tuesday, September 11, 2007
Tidak Ada Bakwan Malang di Malang

Tidak Ada Bakwan Malang di Malang
Bakwan malang bisa jadi terkenal diantero luar kota Malang. Namun saat menyusuri kota Malang sendiri, jangan harap bisa dengan mudah menemukan yang namanya bakwan malang. Yang ada malah makanan yang disebut bakso. Ya, itulah bakso, salah satu makanan yang harus dicoba ketika mampir di kota Malang.
Bakso bisa jadi ditemukan di mana saja. Di pinggir-pinggir jalan hingga di mall jenis makanan yang satu ini pasti ada penjualnya. Di berbagai kota bakso juga mempunyai kekhasan tersendiri. Sebut saja bakso solo, yang menawarkan bulatan-bulatan daging diantara tumpukan bihun dan sayur dengan siraman kuah beningnya. Masih ada lagi bakso ala Yogyakarta yang menyelipkan tahu dan bakso goreng diantara mi dan bihun sebagai pelengkapnya. Sebaliknya bakso khas Wonogiri berbeda lagi, karena tidak ada tahu dan bakso goreng di dalamnya. Sementara di Sunda dalam semangkuk bakso selalu diberi campuran taoge.
Salah satu kota di Indonesia yang terkenal dengan baksonya adalah Malang. Malang terletak di Provinsi Jawa timur, kira-kira berjarak 90 km dari Surabaya, ke arah selatan, yang bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam perjalanan berkendara mobil. Malang yang terletak di dataran tinggi dan berhawa sejuk ini bisa jadi sebagai salah satu alasan mengapa bakso bisa menjadi ikonnya. Memang tak dimungkiri nikmatnya kala badan merasa kedinginan lantas menyantap bakso yang kuahnya hangat. Hmmm, betapa nyaman hidup ini.
Saat berkunjung ke kota Malang, penggemar berat bakso bisa jadi dimanjakan dengan banyaknya pilihan sajian tersebut. Tidak hanya bakso yang berkelas depot atau restoran yang bisa dinikmati, bahkan bakso-bakso yang didorong dengan gerobak dan menyusur jalan-jalan di kampung pun boleh jadi mendapatkan pujian rasa. Itulah Malang, kota yang telah lekat dengan ikon bakso.
Bisnis Rumahan Hingga Waralaba
Bisnis bakso di Malang pun setidaknya sudah tumbuh sejak puluhan tahun yang lalu. Beberapa diantaranya masih eksis sampai sekarang, bahkan perkembangannya sungguh mengagumkan. Salah satunya adalah Bakso Kota Cak Man, yang telah dijadikan sebagai kegiatan bisnis waralaba. Bahkan untuk menunjang popularitasnya itu, sang pemiliknya membuat hal spektakuler dengan membuat pentol bakso berukuran raksasa. Bakso berdiameter 1,65 meter dengan keliling 4,64 meter tersebut masuk dalam rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai bakso terbesar yang pernah dibuat.
Namun demikian bukan berarti bisnis yang digarap secara besar-besaran saja yang bisa memberikan keuntungan. Dalam skala rumah tangga pun tidak menutup kemungkinan bisa meraup keuntungan di luar perkiraan orang awam. Apalagi bila usaha itu sudah mendapatkan kepercayaan dan perhatian dari masyarakat atau kaum penggemar fanatiknya. Bisnis yang telah dirintisnya sejak bertahun-tahun lalu pun bisa berputar dan bergulir hingga sekarang.
Kini dengan memiliki beberapa gerai yang telah ada di luar kota, penikmat bakso tidak usah jauh-jauh datang ke Malang kalau hanya ingin menikmati lezatnya Bakso Kota Cak Man. Namun kalau ingin lebih afdol, ya sebaiknya berkunjung ke Malang dan membuktikan sendiri betapa hebatnya hidangan bakso Malang itu.
Yang Harus Dikunjungi
Dulmanan, perintis usaha bakso stasiun, yang lokasi warungnya terletak di deretan kios pedagang di Stasiun Kota Baru Malang, bisa jadi contohnya. Ia mulai bisnisnya pada tahun 1966. Tahun 1970 ia menyewa tempat di sebelah stasiun. Hingga sekarang ia masih tetap eksis dengan mengandalkan bakso yang dilengkapi dengan siomai goreng berisi rebung. Untuk makan di warung yang sekarang telah dialihkelolakan pada puteranya, pengunjung harus siap dengan bau asap di sekitarnya. Cara memasak secara tradisional dengan menggunakan arang memang masih dipertahankan untuk menjaga cita rasa baksonya. Namun sayang, bagi pengunjung yang sudah ngiler dengan rasa lezat dan gurih gorengan berisi rebung harus bersabar menunggu hingga jam 10 siang. Karena sebelum itu gorengan belum jadi.
Bisnis bakso lain yang juga terbilang jadul adalah warung Bakso Presiden. Disebut demikian karena awalnya Abdul Ghoni Sugito, sang pemilik, berjualan bakso pikulan di depan gedung bioskop Presiden. Kini walaupun gedung tersebut sudah tidak ada dan berganti menjadi Mitra II, nama Bakso Presiden tetap melekat dan merupakan keberuntungan baginya.
Bakso Presiden pusatnya persis berada di belakang pusat perbelanjaan Mitra II, masuk kurang lebih 100 meter di gang kecil sebelah pusat perbelanjaan itu. Uniknya, karena warung ini bersebelahan dengan rel kereta api jurusan Surabaya/Jember-Malang, mangkuk dan meja pun terasa bergetar saat ada kereta api lewat. Wah, pengalaman yang tidak bisa dilupakan kali ya, makan bakso disela-sela gemuruh kereta api. Di tempat ini ditawarkan bermacam-macam jenis selain pentol bakso. Ada siomai goreng dan basah, ampela hati ayam dan jerohan serta kulit sapi, hingga lontong bagi yang kurang kenyang kalau hanya terganjal bakso. Tak ketinggalan juga bakso urat dan tulang muda pun tersedia. Bahkan bagi pengunjung luar kota, disediakan pula keripik bakso yang telah dikemas apik.
Fenomena Bakso Malang
Selain bakso-bakso yang telah dikenal reputasinya itu, di Malang kini juga tumbuh menjamur bakso-bakso jenis yang lain. Sebut saja antara lain Bakso Gondhol yang menjadi fenomena baru. Disebut demikian karena dulunya penjualnya, yang juga pemiliknya, suka menggundul rambutnya. Maka untuk mengindentifikasi dan membedakan dari yang lain, pembeli pun menjulukinya sebagai bakso gundul. Tapi perlu diketahui kalau bakso ini menggunakan bahan dari daging babi. Oleh karena itulah di papan nama tempat usahanya, selalu disertai keterangan chinesee food.
Ada juga bakso Damas, yang menawarkan menu hampir mirip dengan Bakso Presiden. Hanya saja kuahnya lebih enteng dan cair seperti sup. Bagi yang suka dengan kuah cair dan bening bisa jadi alternatif untuk mencobanya.
Bakso keju dan bakso bakar bisa jadi menjadi alternatif lain bagi yang suka bertualang dengan rasa. Bakso bakar sendiri sudah dikenal lama di Malang, namun masih kalah tenar dengan bakso konvensional, bakso dengan kuah. Bentuk bakso bakar sendiri lebih mirip dengan pentol bakso yang ditusuk-tusuk seperti sate, namun tusukannya dari bambu yang berukuran lebih panjang daripada sate biasanya. Diberi bumbu bawang, kecap dan saus, deretan pentol dalam tusukan itu pun dipanggang diatas bara api. Bakso bakar bisa dimakan begitu saja, dicocolkan saus tomat, atau bisa juga dicemplungkan kedalam kuah bakso.
Bila ingin menikmati menu ini, Bakso Bakar Trowulan, yang terletak di dekat kampus STIE Malangkuceswara, bisa jadi rujukannya. Namun kalau ingin juga menikmati segi historisnya, bisa jadi bakso bakar yang berada di dekat SMP Negeri 2 Malang, kira-kira letaknya di belakang Pasar Besar Malang, adalah tempat yang tepat. Kalau tidak mau repot jauh-jauh masuk ke tengah kota, bakso bakar yang ada di Jalan Diponegoro bisa jadi alternatifnya. Pengelola dua tempat terakhir itu sama.
Sementara yang terbaru adalah bakso keju. Bagaimana rasanya? Silakan saja mencoba, pasti ada rasa-rasa geli di lidah. Campuran rasa antara daging dan keju yang gurih dan asin bisa menjadi sensasi tersendiri. Bagi penikmat bakso konvensional, mungkin rasanya agak aneh. Tapi itulah. Usaha untuk memperkaya kuliner Indonesia dengan kreativitas memang perlu dilakukan. Bakso keju di Malang bisa dicari di kawasan jalan Kawi atau di seputaran jalan Soekarno Hatta. Mari berburu bakso dan mengapresiasinya.
Bakso, Albondigas dan Frikadeller

Bakso, Albondigas dan Frikadeller
Sebutan bakso sudah melekat di telinga orang Indonesia. Umumnya bentuknya berupa bulatan-bulatan dari daging dan disiram kuah bening seperti sup. Namun adakalanya cara makannya diberi variasi jenis yang lain, misalnya ditambah tahu, siomai goreng maupun yang basah, bihun atau sayuran. Bahkan sekarang ini ada lagi yang memadukannya dengan keju.
Bermacam-macam cara menghidangkan bakso untuk menambah selera dan kekhasannya masing-masing. Di tiap kota Indonesia sekarang ini sepertinya sudah mempunyai ikon tersendiri untuk makanan yang namanya bakso. Awalnya bakso merupakan salah satu kekayaan kuliner yang dimiliki oleh bangsa Cina. Kata bakso sendiri merupakan serapan dari bahasa Cina, yang dalam beberapa dialek merupakan sebutan untuk daging babi. Bermula dari daerah Cina bagian utara, sebutan bakso itu pun pelan-pelan bergulir ke kawasan Asia Tenggara hingga tiba di Indonesia.
Mengikuti perkembangan dan adaptasi wilayah yang dihampirinya, akhirnya bakso itu pun tidak lagi melulu terbuat dari daging babi. Bahkan di Indonesia bakso sudah mendapatkan tempat tersendiri bagi penggemarnya, dan bisa jadi dikategorikan sebagai salah satu makanan dari Indonesia yang wajib dicicipi. Kini ada berbagai sebutan bakso, misalnya bakso udang yang terbuat dari udang, bakso ikan karena terbuat dari daging ikan, bakso ayam dengan bahan dasar daging ayam, serta masih banyak lagi jenis bakso yang dibuat dari daging-daging lainnya.
Komponen utama dalam makanan bakso ini adalah bulatan-bulatan daging, sering disebut pentol, disertai dengan kuah bening. Makanan sejenis bakso Indonesia itu rupanya tidak hanya ada di sini. Di beberapa negara yang lain juga mengenal makanan yang hampir mirip, namun dengan sebutan yang berbeda.
Di Denmark, mereka menyebut bakso sebagai frikadeller, yang terbuat dari daging babi. Gilingan daging tersebut dicampur dengan bawang putih, telur, merica dan garam. Adonan itu kemudian dibentuk bulat-bulat dan sedikit dipipihkan. Bedanya, bulatan-bulatan tersebut tidak dijerang dalam air mendidih, tetapi dioven.
Sementara di Afganistan pentol bakso dipakai untuk topping pizza. Bulatan-bulatan tersebut dipanggang di atas pizza, yang populer disebut Afgan pizza. Makanan ini sangat populer disana. Namun tak jarang juga ibu-ibu Afganistan memasak bulatan daging itu berbentuk seperti sup, persis seperti hidangan bakso ala Indonesia.
Di Meksiko dan Spanyol, bakso dinamai albondigas, yang merupakan turunan dari bahasa Arab, al-bunduq (artinya hazelnut, atau sejenis barang yang berbentuk bulat). Albondigas sendiri diduga merupakan masakan yang berasal dari Berber atau Arab, yang kemudian diimpor ke Spanyol saat terjadinya syiar agama, atau disebut sebagai periode muslim kala itu. Di Spanyol, albondigas dihidangkan sebagai makanan pembuka maupun menu utama, seringkali disertai dengan tambahan saus tomat. Sementara di Meksiko penyajiannya lebih mirip sup bening disertai dengan sayur-sayuran.
Di China sendiri, pentol bakso mempunyai ukuran yang bermacam-macam. Mulai dari yang berdiameter 5 cm hingga kira-kira 10 cm. Pentol bakso yang ukuran kecil dipakai untuk campuran sup, sementara yang agak besar dihidangkan untuk perlengkapan dim sum. Pentol daging yang besar seringkali disebut sebagai Lion's head dalam istilah kulinari Shanghai. Cara membuat pentol tersebut adalah dengan memasukkan bulatan-bulatan daging ke dalam air yang mendidih. Setelah gumpalan daging mengapung, barulah diangkat. Pentol bakso pun siap untuk dihidangkan.
Friday, September 7, 2007
Tana Toraja

Tana Toraja-Tanah Kerajaan Surga
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja menggelar Festival Tana Toraja 2007 selama sebulan penuh, dimulai sejak 1 hingga 31 Agustus . Perayaan kegiatan digelar mulai tingkat lembang (kampung), desa/kelurahan, kecamatan, hingga kabupaten. Namun puncak perayaan dilangsungkan pada 31 Agustus 2007 akan dipusatkan di Lapangan Komando Daerah Militer (Kodim) Rantepao. Sejumlah kegiatan akan dipertunjukkan, di antaranya pagelaran seni dan budaya, pameran, karnaval, dan aneka upacara adat.
Sekretaris Daerah Kabupaten Tana Toraja YS Dalipang yang juga ketua panitia penyelenggara Festival Tana Toraja 2007 mengatakan, hajatan itu merupakan bagian dari memperingati Hari Jadi Tana Toraja dan Hari Ulang Tahun Emas Ke-50 Kabupaten Tana Toraja. "Festival ini dimaksudkan untuk mengenalkan secara mendalam tentang Tana Toraja dan segala peristiwa bersejarahnya serta guna meningkatkan rasa cinta dan kerinduan untuk membangun dan bangga dengan Tondok atau negeri dan budaya Tana Toraja.”
Bupati Tana Toraja Johannis Amping Situru juga menghimbau agar masyarakat Toraja di mana pun berada maupun mereka yang penasaran ingin mengetahui budaya orang Toraja datang menyaksikan Festival Tana Toraja.
Hal itu juga dimaksudkan agar semboyan bersejarah Misa' Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate bisa tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi kreativitas dan hikmat setiap orang Toraja atau siapa pun yang membanggakan alam dan budaya Toraja.
Perjalanan dari Makassar ke Toraja melewati jalur pesisir sepanjang 130 km mendaki pegunungan. Setelah memasuki Tana Toraja, pengunjung akan disuguhi pemandangan alam yang penuh dengan keagungan. Batu grafit dan batuan lainnya tampak di beberapa tempat, serta birunya pegunungan di kejauhan. Setelah melewati pasar Desa Mebali akan terlihat masyarakat yang sedang beternak domba sehingga pemandangan terlihat kontras dengan padang rumput yang hijau subur, limpahan makanan di tanah tropis yang indah. Ini adalah Tana Toraja, salah satu tempat wisata terbaik di Indonesia.
Tana Toraja memiliki kekhasan dan keunikan dalam tradisi upacara pemakaman yang biasa disebut Rambu Tuka. Di Tana Toraja mayat tidak di kubur melainkan diletakan di Tongkonan (rumah adat) untuk beberapa waktu. Jangka waktu peletakan ini bisa lebih dari 10 tahun sampai keluarganya memiliki cukup uang untuk melaksanakan upacara yang pantas bagi si mayat. Setelah upacara, mayatnya dibawa ke peristirahatan terakhir, di dalam gua atau dinding gunung. Tengkorak-tengkorak itu menunjukan pada kita bahwa mayat itu tidak dikuburkan tapi hanya diletakan di batuan, atau dibawahnya, atau di dalam lubang. Biasanya, musim festival pemakaman dimulai ketika padi terakhir telah dipanen, umumnya di akhir Juni atau Juli, dan paling lambat bulan September.
Untuk menuju kesana bisa dilakukan dengan beberapa alternatif perjalanan. Jika menggunakan perjalanan udara, dimulai dari lapangan terbang Hassanudin, Makasar, diteruskan ke lapangan terbang Rantepao didekat Makale, 24 km arah selatan Rantepao dan dari sana akan ada layanan bus ke kota.
Sementara untuk perjalanan darat dari Makassar ke Rantepao bisa tiap hari dengan menggunakan bis, memakan waktu perjalanan selama kurang lebih delapan jam termasuk istirahat untuk makan. Tiket harus dibeli di kota, tapi berangkat dari terminal bis Panaikan, 20 menit keluar dari kota dengan menggunakan bemo. Bis ini biasanya pergi pada pagi hari ( jam 7 pagi), siang hari ( jam 1 siang) dan pada malam hari (jam 7 malam). Biasanya bis yang berangkat disesuaikan dengan jumlah penumpang.
Perjalanan bisa juga ditempuh dari laut dengan menggunakan kapal yang berhenti di pelabuhan Pare-Pare. Dari situ dilanjutkan dengan bus mini ke Rantepao, selama kurang lebih tiga jam perjalanan.
Subscribe to:
Posts (Atom)